Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 3)

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 21 Maret 2017
Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 3)

Banyak yang bertanya ke luar negeri, ke Singapore, Malaysia dan Thailand habis uang berapa? Pasti banyak? Pasti bisa puluhan juta.

Aku kadang jawabnya gak serius. Aku jawab serius pun banyak yang tak percaya. Karena di benak mereka ke luar negeri pasti butuh uang banyak buat transport naik pesawat, biaya hotel, biaya jalan-jalan, oleh-oleh dan biaya lain sebagainya.

Barangkali memang benar akan butuh uang banyak jika untuk mengongkosi itu semua. Itu mah memang traveling ala orang kaya atau ala selebriti. Kalau aku mah orang tak punya. Masih mahasiswa. Uang masih minta. Meski sebagian besar mengandalkan beasiswa.

Tak ada budget buat itu semua. Jadi uang hanya untuk transport jalan. Tak ada biaya makan, masuk destinasi ataupun biaya hotel. Tak ada rencana menginap di hotel.

Namun gak punya uang bukan berati gak bisa ke luar negeri. Setelah tahu ternyata ada banyak cara buat ke luar negeri dengan butget minim. Ku cari tahu informasi itu. Sekarang banyak buku-buku ala backpacker. Termasuk bagaimana bertahan hidup di tempat orang. Di Negeri yang kita masih asing.

Bisa dikatakan aku berangkat memang modal nekat. Terlebih ketika memutuskan lanjut ke Malaysia dan Thailand. Bahkan sempat terpikir lanjut ke Myanmar. Saat itu yang ada di pikiranku yang penting jalan. Sisa uang buat transport jalan saja. Berpindah tempat sampai manapun sampai habis. Persoalan nanti pulang balik bagaimana, naik apa, bisa ku pikir nanti belakangan.

Pastinya akan ada cara. Pasti aku akan survive bertahan hidup. Mungkin bisa bekerja dulu di tempat itu. Mungkin bisa nebeng-nebeng truk atau bus. Mungkin bisa juga jalan kaki dan lain sebagainya.

Pasti aku akan berusaha mempertahankan hidupku. Sekalipun melakukan hal-hal rendahan. Seperti meminta-minta misalnya. Itupun sebagai opsi terakhir. Kan masih bisa ngamen. Entah bagaimana caranya.

Kalaupun mentok sampai mengancam hidup mungkin bisa mencuri. Ini juga opsi bodoh dan tentu bisa mencelakakan diri. Namun sebagai opsi paling akhir kan bisa saja aku lakukan.

Aku hanya membawa uang dua juta dua ratus ribu. Dimana yang satu juta seratusnya ku pakai buat beli tiket pesawat Jogja-Batam. Karena aku telat cek in, jadi tiket Jogja-Singapore yang aku pesan jauh-jauh hari hangus.

Ya lumayan tekornya. Dari kejadian itu bisa ditarik pelajaran amat berharga. Aku kurang mencari informasi di bagian itu. Tentang bagaimana cara-cara naik pesawat. Aku pikir asal masuk dan naik saja. Seperti naik bus.

Ya, syok juga saat itu. Kaget dan gak nyangka. Meskipun itu tergolong murah karena harga promo. Awal beli 600. Sempat menunda keberangkatan karena passport belum jadi. Sehingga kena pinalty nambah 300 ribu. Ada-ada saja memang halangannya.

Pagi itu jadwal berangkat jam 07.25. Aku sampai bandara jam 7 kurang seperempat. Belum tahu kalau prosedurnya untuk penerbangan ke luar negeri, maksimal cek in 1 jam sebelum keberangkatan. Jika lewat 1 jam maka cek in selesai atau tutup dan gak bisa diganggu gugat. Tiket hangus.

Gagal deh naik pesawat Air Asia yang kelihatan keren itu. Padahal seharusnya itu menjadi momen berharga. Pertama kali naik pesawat dan pesawatnya keren. Apalagi langsung ke luar negeri pada penerbangan pertama. Ah, itu menjadi ilusi semata.

Ketidak-tahuanku membuatku apes. Padahal nyampe di bandara masih santai-santai, aku pikir waktunya masih lama. Masih sempat ngobrol-ngobrol dan foto-foto dengan dua teman yang mengantar.

Termasuk aku salah kira kalau aku pikir semua penerbangan dari terminal A atau yang depan gerbang. Padahal penerbangan Internasional Air Asia di terminal B yang letaknya di ujung barat Bandara Adi Sucipto.

Jadi aku harus berjalan kaki sekitar 200 meter dengan tas berat di punggung dan terburu-buru karena jam mendekati waktu berangkat. Ya, meskipun akhirnya dapat zong yang tak ku nyana-nyana.

Sesampainya disana ditolak tanpa kompromi oleh customer servicenya. Bahkan sempat ditanya tiket baliknya. Katanya kalau pertama kali ke Singapore harus sudah punya tiket balik. Wah, masalah juga. Aku beralasan kalau hendak balik lewat Batam pakai kapal ferry. Sesuai dengan planingku.

Hancurlah sudah mimpi-mimpi itu. Aku batal berangkat ke Singapore pagi ini. Batal naik pesawat Air Asia. Batal pula menyinggahi bandara Cangi yang tersohor itu. Aku melangkah gontai ke halaman terminal sambil berfikir apa yang musti ku lakukan selanjutnya.

Balik kos tak mungkin, jika teman tahu pasti akan banyak pertanyaan dan aku bisa malu. Jika aku batal berangkat, akan sia-sia segala persiapan. Aku harus tetap berangkat. Maka aku kembali masuk menanyakan penerbangan lain ke Singapore. Siang sama sore maskapai lain tapi mahalnya bukan main. Jutaan. Maskapai yang sama ada lagi besuk pagi di jam yang sama. Tapi harganya tentu mahal juga. Karena hari H dan bukan promo.

Ku lihat siang nanti ada penerbangan ke Batam Lion Air. Tanya ke petugas tentang harga tiketnya. Harganya 1 juta seratus. Setelah aku pertimbangkan tak apalah, yang penting hari itu aku bisa berangkat. Sudah terlanjur pamit sama banyak teman dan orang tua.

Di bantulah aku sama salah seorang petugas cek barang mengurus tiket sekaligus cek in. Bahkan sampai diantar pakai motor kembali ke terminal A. Karena keberangkatan domestik dari sana. Pukul 12.50 keberangkatannya. Sempat ditunda 1 jam karena hujan lebat.

(bersambung)

  • view 107