Pernah mengenalmu bagiku bukan sebuah kutukan

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 21 Maret 2017
Pernah mengenalmu bagiku bukan sebuah kutukan

Pernah mengenalmu bagiku bukan sebuah kutukan. Bukan pula suatu aib. Karena kamu bukan seseorang yang membuatku kecewa. Bukan pula orang yang membuatku sedih.

Meski aku pernah mengenalmu, pernah pula berselisih denganmu. Kamu tetaplah orang istimewa yang berharga. Bukan sampah yang patut direndahkan.

Sebenarnya kecewaku karena diriku sendiri.

Karena harapan yang ku bangun terlalu tinggi. Serta tidak siap menerima kenyataan pahit. Sedihku pun karena diriku sendiri. Pengertian sempitkulah yang membuatku bersedih. Harusnya aku membuat dada yang lapang. Hingga kenyataan seburuk apa pun tak akan bisa membuatku bersedih.

Aku pernah mengaggumimu, pernah menyukaimu. Meski akhirnya berpisah. Perpisahan kita adalah yang terbaik. Dari pada memaksakan sesuatu hal yang tak pas pada tempatnya. Itu hanya akan menyiksa masing-masing kita.

Aku senang kita tidak lantas saling membenci. Aku senang kita tak saling memusuhi. Karena kita pernah saling mencintai. Pernah saling mensahabati. Setelahnya pun kita musti harus menjalin hubungan baik-baik. Tidak seperti mereka yang lantas membenci, mengutuk dan saling merendahkan.

Kita bermula dengan baik-baik. Berakhir pun dengan baik-baik.

Awal dan akhir harus dijalani dengan baik-baik. Kita tak pernah tahu kedepannya. Barangkali akan saling membutuhkan bantuan. Hubungan yang baiklah yang bisa menolong masing-masing kita.

Membenci tak merubah seseorang yang kita benci. Membenci hanya merubah diri sendiri.

Merubah dari baik menjadi jahat. Membenci pun tak mampu merubah masa lalu. Biarlah masa lalu menjadi pelajaran. Lalu maaf-memaafkan menjadi gerbang masa yang jauh lebih damai di depan. Untuk apa membenci, jika kita mampu memaafkan. Membenci hanya membebani diri sendiri. Mengotori hati yang murni. Menghambat turunnya rizki.

Kita memang tak perlu saling membenci. Perselisihan masa lalu adalah dinamika yang wajar dalam sebuah hubungan. Keputusan yang kita sepakati kita jalani dengan baik-baik saja. Tak ada yang perlu dipaksakan kepada masing-masing kita.

Kita memang dua orang dengan banyak kekurangan. Kelebihan yang dahulu kita kagumi segera tertutupi dengan berlimpahnya kekurangan. Kita pernah berusaha memahami. Namun hati dan kejiwaan kita yang masih labil membuat kita memutuskan berpisah. Keputusan itu memang baik. Melihat jalan kita di depan masih panjang.

Masih banyak kewajiban-kewajiban yang belum kita tuntaskan.

Dari pada membebani pikiran berlebih. Memang lebih baik kita memperingannya. Masalah tentang hubungan kita memang cukup menguras energi. Keputusan menjalani hidup sendiri-sendiri ternyata lebih meringankan beban. Maka ku sadari bahwa kita memang perlu belajar memutuskan sesuatu yang membelit kewajiban kita.

Dari situ kita belajar dan selangkah menjadi manusia dewasa.

  • view 132