Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 2)

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 17 Maret 2017
Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 2)

Banyak yang bertanya dalam rangka apa aku ke luar negeri? Ke Singapore, Malaysia bahkan Thailand? Akhir tahun 2015 lalu? Tak banyak yang tahu persis memang. Karena aku sering menjawabnya dengan setengah becanda. Gak serius.

Sebenarnya tujuan awalku hanya ke Singapore, dalam rangka memenuhi salah satu tugas magang. Mewawancarai mahasiswa Indonesia yang kuliah di Singapore, sekalian liburan, jalan-jalan. Akhirnya malah bablas ke Malaysia pun sekalian ke Thailand. Mumpung uang sakunya cukup buat biaya transport sampai ke sana. Meskipun aku hanya berbekal uang satu juta seratus saja.

Jauh dari situ, bermula dari beberapa bulan sebelumnya sempat beli sebuah buku tentang kuliah ke luar negeri. Karena ada keinginan lanjut kuliah ke luar negeri. Setelah baca jadi tertarik buat magang di penerbitnya. Karena saat itu memang lagi masa tugas magang dari kampus. Akhirnya datang ke penerbitnya, kantornya di Jogja. Di sebelah timur alun-alun kidul. Kesana izin ikut magang.

Selain langsung diizinkan karena memang sering menerima mahasiswa magang, ditawari juga untuk sekalian jadi reseller produk bukunya. Aku pun tertarik. Di sana magang sekalian menjual buku-bukunya. Tak disangka, aku menang undian reseller, yakni mendapat passpor gratis. Meski dalam bentuk uang sejumlah pembuatan passpor baru yaitu 400 ribu. Bukan passpor jadi. Aku kemudian mengurusnya ke kantor imigrasi Jogja. Dari sinilah langkah awal buat ke luar negeri terbuka dan semakin dekat.

Dua bulan magang, banyak ilmu yang aku dapatkan. Aku bertugas jadi reporter mewawancarai seratus narasumber. Disana pula aku mendapat sharing pengalaman dari para penulis buku serta crew penerbit. Ternyata hampir semua crew-nya sudah pernah ke luar negeri. Beberapa diantaranya malah lulusan universitas luar negeri. Lainnya memang sengaja dibuang ke luar negeri alias diterbangkan gratis ke luar negeri. Itu sebagai program peningkatan kapasitas dan produktivitas dengan membentuk mental para karyawannya.

Pernah beberapa karyawan/crew/anggota tim diterbangkan ke luar negeri langsung beberapa orang sekaligus. Ke negara yang berbeda-beda. Kemudian diminta untuk berpindah tempat dari negara satu ke negara lain. Terakhir bertemu di Singapore. Mereka harus survive mempertahankan hidupnya di negara yang belum pernah mereka sambangi itu.

Ada yang diterbangkan ke Jepang. Ada yang ke Myanmar, Thailand, Laos, Vietnam, Kambodja, Malaysia, kemudian kumpul di Singapura. Dari mereka bahkan ada yang berpindah-pindah ke lima negara Asia Tenggara sebelum sampai di Singapore. Padahal mereka hanya dibekali uang seadanya. Tentu dengan kemampuan bahasa yang pas-pasan. Itu pun hanya bahasa inggris yang belum tentu di negara-negara yang disinggahi paham.

Cerita ini sangat menginspirasi dan membuatku getol ingin menirunya. Bahkan aku sempat ikut mengantar dua crew yang mengikuti program berikutnya. Yakni dibuang ke Merauke. Yang ke Sabang sudah seminggu sebelumnya. Kami semua--seluruh crew mengantar sampai bandara Adi Sucipto Yogyakarta.

Dua crew ini dari tim berbeda. Satunya crew/karyawan perusahaan jas penutup motor. Perusahaan dari pimpinan yang sama. Dua orang crew itu diduelkan, siapa paling cepat balik ke kantor, dialah pemenangnya dan berhak mendapat bonus.

Masalahnya mereka hanya diterbangkan ke Merauke tanpa membawa uang sepeser pun dan tanpa bekal apapun selain KTP dan baju yang melekat di badan. Mereka diminta untuk survive mempertahankan hidup. Dan entah bagaimana caranya harus bisa balik ke Jogja--ke kantor. Terserah mau pakai apa dan berapa lama. Yang jelas mereka diadu cepat-cepatan balik ke kantor.

Hingga aku tahu beberapa minggu selanjutnya, pemenangnya adalah tim jas motor. Tim penerbit kami kalah. Karena jagoan kami baru balik dalam kurun waktu satu bulan. Padahal lawannya cukup satu minggu. Kemudian aku ketahui bahwa program seperti itu bernama bangkrut game. Tujuannya untuk mengasah mental bertahan hidup dan berkomunikasi. Cara itu mampu menambah kapasitas, kedewasaan, semangat dan produktivitas bekerja. Menarik memang.

Dari pengalaman itulah aku tertantang untuk melakukan hal yang sama. Namun masalnya aku tak punya cukup uang dan keberanian. Hingga berakhirlah waktu magang. Ternyata aku diberi fee 1 juta. Kirain tidak akan dapat fee, ternyata dapat. Maka terbukalah kesempatan untuk melihat luar negeri.

Memang sudah lama sekali aku memimpikan bisa menginjakan kaki di luar negeri. Iri rasanya melihat teman bisa magang industri ke Malaysia. Ada yang jalan-jalan ke Singapore. Bahkan ada teman dekat bisa ekschange ke Jepang. Maka keinginan itu semakin menggebu-gebu.

Sebenarnya sejak SD pingin lihat dan berfoto di depan menara kembar, yang dulu tak ku ketahui namanya dan ku kira berada di Singapura. Ternyata baru ku ketahui setelah jadi mahasiawa bahwa itu menara Petronas atau disebut Twin Tower berada di Malaysia. Dulu aku tertarik karena melihat anak tetangga yang bisa kuliah dan foto dengan background gedung megah itu.

Kesempatanku terbuka, apalagi kuliah semester depan masih lama. Sisa jatah magang memang masih dua bulan lebih. Dengan uang hasil magang itulah lalu ku belikan tiket pesawat Jogja-Singapore seharga 600 ribu. Air Asia. Harga promo. Pembelian satu bulan sebelum keberangkatan.

Karena memang tak ada cadangan atau tabungan lain, guna mensukseskan misiku itu, aku pun menambah uang saku dengan hutang ke beberapa teman dekat dan saudara. Terkumpullah uang 2 juta 2 ratus. Meski akhirnya yang 1 juta seratus buat beli tiket lagi, karena telat cek in.

(bersambung)

  • view 96