Merindulah sebelum merindu dilarang

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Motivasi
dipublikasikan 17 Maret 2017
Merindulah sebelum merindu dilarang

Merindulah sebelum merindu dilarang.

Meski pun itu tak akan pernah terjadi. Merindu adalah sepenuhnya hak si perindu. Barangkali yang akan dilarang adalah menyampaikan rindu. Siapa lagi yang melarang mengatakan rindu selain yang dirindu. Kalau pun ada lagi petugas pelarang rindu, palingan itu kekasih barunya.

Memendam rindu memang memberatkan perasaan. Pastilah ingin segera bertemu. Jika tidak memungkinkan bertemu ya mendengar suaranya. Jika tidak ya cukup memandang fotonya. Atau pilihan terakhir, memendam erat-erat, membiarkan sampai hilang dengan sendirinya.

Mengatakan rindu adalah salah satu upaya mengusir rindu yang tak tertahankan. Inginnya diterima oleh yang dirindu. Tetapi bagaimana jika ditolak atau bahkan dilarang. Karena alasan yang dirindu dan yang merindu sudah tak ada lagi hubungan spesial. Hancurlah sudah.

Bertemu tidak bisa, mendengar suaranya tidak bisa, melihat fotonya tidak mempan, eh mengatakan rindu juga dilarang. Sakitnya bukan main. Kemana harus menyembuhkan rindu. Jika dokter satu-satunya menolak. Ah, merindu memang berat. Namun merindu menandakan kita masih normal. Masih berperasaan. Tidak lantas membenci orang-orang yang pernah berhubungan baik sama kita. Namun kemudian bermasalah, lantas menjadi tidak baik.

Setidaknya dengan mengingat masa-masa senang di waktu lampau, yang menjadikan kita merindu, itu menandakan kita adalah tipe pemaaf. Melupakan kejadian buruk, mengingat masa-masa indah bersama.

Merindu memang indah. Mari merindu, tak peduli merindu dilarang atau tidak. Merindu adalah hak kebebasan masing-masing kita. Yang kita rindu seharusnya bersyukur dan berbahagia, karena ternyata masih ada makhluk di muka bumi ini yang rela bersusah payah merindukannya.

Sebab merindu itu berat. Terlebih bagi yang tak terbalas dan yang dilarang.

  • view 166