Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 1)

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 13 Maret 2017
Kere Ke Luar Negeri: Kisah Travelling ke 3 Negara (Bagian 1)

Ke luar negeri barangkali adalah dambaan semua orang. Ingin rasanya menjejakkan kaki di negeri-negeri yang jauh disana. Negeri-negeri yang hanya bisa kita lihat dari televisi maupun dunia maya. Ingin rasanya merasakan sensasi berkomunikasi dengan orang-orang asing yang berbeda bahasa, berbeda kebiasaan, maupun berbeda warna kulit. Tentu hal tersebut akan sangat mengasyikkan. Bisa menambah pengalaman yang mengesankan dalam hidup.

Begitulah benakku dulu semasa menjejak sekolah menengah atas hingga kuliah di perguruan tinggi. Rasa-rasanya keinginan tersebut hanyalah angan-angan belaka. Seakan diri ini mustahil untuk bisa pergi ke luar negeri. Karena kita tahu bahwa ke luar negeri tentu membutuhkan biaya yang sangat besar. Mulai dari mengurus paspor, visa, transportasi; yang tentunya naik pesawat. Belum lagi uang saku, penginapan, akomodasi dan lain sebagainya. Tentu akan membutuhkan uang yang sangat besar. Mungkin belasan hingga puluhan juta.

Hal itulah yang membuatku menenggelamkan mimpi bisa menjejakkan kaki ke luar negeri. Meski barangkali itu hanya ke negara tetangga. Namun ketika memasuki masa-masa semester akhir perkuliahan, perlahan-lahan keinginan itu semakin menggebu-gebu. Melihat beberapa teman kampus yang bisa menjejak ke luar negeri. Baik karena pertukaran mahasiswa,  program penelitian, maupun studi banding ke kampus luar negeri. Hal itu membuatku iri dan ingin seperti mereka. Namun kesempatan yang sama tidak bisa hadir padaku.

Untuk bisa terpilih sebagai mahasiswa pertukaran mahasiswa tentu harus melalui persaingan yang ketat. Masih banyak mahasiswa yang lebih pandai dan kapabel untuk menjadi perwakilan pertukaran mahasiswa. Untuk program penelitian pun juga tidak sembarang mahasiswa. Tentu hanya mahasiswa-mahasiwa terpilih dengan jurusan tertentu dan terbatas pula. Untuk studi banding pun tidak semua jurusan mengadakan. Hanya jurusan-jurusan tertentu. Pihak jurusan yang aku ambil memang tidak memprogramkan studi banding ke luar negeri. Itu yang membuat kesempatanku pupus. Tidak mudah untuk masuk sebagai penerima kesempatan seperti itu.

Namun semesta mampu membelokkan jalan hidup. Tak ku sangka-sangka saat magang di perusahaan percetakan buku. Aku bertemu dengan para penulis buku yang ternyata sudah pernah travelling ke beberapa negara Asia. Mulai Singapura, Malaysia, Thailand, Kamboja, Vietnam, Myanmar, Jepang hingga India. Mereka pernah travelling bersama dalam program peningkatan kapasitas yang diselenggarakan oleh percetakan. Namun itu bukan travelling jalan-jalan, bersenang-senang ala-ala selebritis. Itu adalah perjalanan dengan budget yang minim.

Dari hasil mendengarkan kisah mereka yang bisa berpetualang ke berbagai negara Asia, membuatku semakin menggebu-gebulah untuk bisa ke luar negeri. Hingga tak kusangka aku mendapatkan hadiah undian paspor gratis dari percetakan tersebut. Karena selain magang disana, aku juga bergabung menjadi reseller buku cetakannya. Yang ternyata ada program undian paspor bagi resellernya. Maka langkah untuk bisa ke luar negeri pun terbuka.

Katanya kalau sudah punya paspor, tahap berikutnya adalah tinggal beli tiket ke negara tujuan. Soal biaya lain-lainnya bisa dicari menyusul. Kalau menyiapkan ube rampenya dulu, tapi belum beli tiket, bisa-bisa nanti malah gagal berangkat. Banyak pengalaman yang gagal berangkat ke luar negeri, karena banyak hal. Namun tetap saja aku tidak bisa langsung membeli tiket pesawat, karena aku benar-benar tidak punya uang. Namanya juga mahasiwa, uangnya hanya pas-pasan buat makan. Tidak bisa menyisihkan untuk menabung.

Ku kira magang tidak akan mendapatkan fee. Namun di akhir magang ternyata mahasiwa magang tetap diberi fee. Tentu tidak sama dengan fee karyawan. Tidak banyak memang, tapi itu cukup untuk membeli tiket promo Jogja-Singapore, maskapai Air Asia. Dari awal aku memang ingin sekali melihat langsung negara tetangga yang bernama Singapura itu. Negara terdekat yang terkenal telah menjadi negara maju. Banyak artis-artis dan orang kaya Indonesia yang berlibur ke sana. Pemandangannya bagus dengan latar gedung-gedung tinggi.

Dengan persiapan yang bisa dibilang mendadak dan ala kadarnya, akhirnya aku bisa menjejakkan kaki ke Singapore; yang ternyata bisa aku lanjutkan ke Malaysia dan Thailand sekaligus. Bagaimana kisah selanjutnya. Tunggu detailnya ya.. Akan aku ceritakan di bagian berikutnya.

  • view 82