Kisah kita mengajarkan bahwa hidup musti berlanjut dengan hebat

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Maret 2017
Kisah kita mengajarkan bahwa hidup musti berlanjut dengan hebat

Kita pernah sama-sama saling jatuh cinta.

Merasakan perasaan indah saling mengagumi. Kita juga sama-sama sadar bahwa usia kita masih belia. Belum pantas menjalin hubungan dua orang seperti orang dewasa. Namun tak bisa dipungkiri bahwa perasaan yang entah bagaimana datangnya itu, membuat kita saling mendekat dan mengasihi.

Kita bersatu dalam kesepakatan saling mencinta.

Meski kita sama-sama tahu bahwa akan banyak resiko yang bisa saja menimpa. Tapi kita berjanji untuk sejalan dengan norma dan agama. Hingga kita menjalani kisah asmara bersama. Dengan pengertian bahwa cinta pada tahap ini bisa saja berlangsung sementara. Bisa saja suatu hari nanti kita tak lagi mengagumi lalu memutuskan memisahkan diri.

Hingga akhirnya kita benar-benar memutus hubungan asmara. Dengan sama-sama tanpa penjelasan dan alasan. Karena memang ada hal-hal yang tak bisa kita jelaskan. Kita tahu penjelasan itu hanya akan menyisakan luka. Padahal kita pernah berjanji tidak akan saling melukai dengan sengaja.

Maka kita menerima saja. Bahwa hubungan kita itu memang pantas untuk kita akhiri.

Perpisahan yang kita buat tidak akan membuat kita menganggap masing-masing kita sampah atau dengan sebutan mantan yang tak berharga--yang pantas dicemooh dan direndahkan. Namun tetap menjadi seseorang yang penting; yang tetap kita hormati hingga kapan pun. Sebab masing-masing kita pernah mengindahkan hidup kita, pernah menjadi bagian penting dari kita, serta pernah kita cinta dengan bangga.

Kita bukan dua orang bahagia yang pada akhirnya saling menusukkan luka. Kita dua orang yang pernah saling mengagumi lalu saling merajut cerita bahagia lantas berpisah melanjutkan hidup dengan damai tanpa luka.

Kita mengakhiri hubungan bukan karena pengkhianatan yang mengucurkan luka. Kita berpisah karena pengertian bahwa cinta monyet layak diakhiri. Digantikan dengan pengertian cinta yang lebih mendewasa. Berpisahnya kita kini bukan berarti lantas saling benci maupun anti.

Kita bisa saja merajut kembali cerita indah nanti di masa depan yang lebih pantas dan dewasa. Setelah kita menuntaskan kewajiban-kewajiban sebagai manusia belia. Kita tentu masih menyimpan kekaguman dan perasaan. Meski mungkin tak sebanyak dulu. Itu bisa menjadi tangan yang bisa merangkul pundak kita suatu saat nanti.

Kalau pun tidak bisa karena sesuatu hal. Itu tak menjadi masalah. Masing-masing kita wajib menentukan arah hidup sebebas kehendak masing-masing kita. Kita tak ada ikatan untuk bisa saling memaksakan. Kisah kita mengajarkan bahwa hidup musti berlanjut dengan hebat. Meski pasang surut kisah asmara mendera.

Kita bisa menyadari bahwa kebersamaan maupun perpisahan tak boleh membuat luka. Jika kebersamaan kita mulai dengan kebahagiaan. Maka perpisahan pun harus kita akhiri dengan membahagiakan. Perpisahan tetap bisa dilakukan dengan pengertian yang mendamaikan, tanpa melukai satu sama lain.

Perpisahan kita juga mengajarkan bahwa perpisahan tak lantas membuat kita jadi musuh yang saling membenci. Lalu saling merendahkan nama baik masing-masing. Justru kita masih memiliki sedikit kewajiban untuk menjaga nama baik masing-masing karena kita pernah berjanji akan saling menjaga dan melindungi.

Semoga kita tetap menjadi manusia-manusia yang lurus. Menjaga kebaikan dan menebar kebaikan. Agar setiap perjalanan yang kita tempuh mengharumkan ruang-ruang bertumbuh dengan kebaikan dan kebahagiaan.

Dilihat 83