Karena Sebuah Keraguan

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Maret 2017
Karena Sebuah Keraguan

Bagaimanalah kita ini? Belum-belum sudah meragukan masa depan kita saat kita bersama nanti.

Membuat kita tak lagi bisa membersama kini. Benarkah karena keraguan ini kita layak untuk menyerah? Bukankah yang mengawali dengan penuh keyakinan, masa depan hubungannya tetap saja tidak akan pasti membahagiakan? Tidak akan ada yang menjamin masa depan sebuah hubungan bisa membahagiakan atau tidak. Namun dua orang bisa berkomitmen untuk saling menguatkan dan tetap utuh apa pun yang terjadi di masa depan. Bukannya karena keraguan malah menjadi goyah.

Seharusnya kita tetap bersama. Bukannya memilih melepas percaya. Keragu-raguan itu seharusnya membuat kita berupaya menuju percaya. Bukannya malah mengendorkan pertalian rasa percaya. Kebersamaan harusnya hanya perlu diikat dengan kepercayaan yang melekat erat, bersatu padu dengan yakin. Sehingga kita bisa membulatkan niat untuk melangkah bersama-sama ke masa depan.

Di depan sana pasti akan banyak godaan dan cobaan yang akan melemahkan kita, mengendorkan kita dan meragukan kita.

Keragu-raguan yang kita rasa sekarang seharusnya bukan merupakan alasan untuk berjalan bersebrangan. Sebab keraguan bukanlah hal yang bertolak-belakang. Keraguan hanyalah selembar tipis hambatan yang menutup muka; menghalangi pandangan, menghalangi keyakinan. Padahal meski ragu atau yakin, masa depan tetap berisi dengan hal-hal membahagiakan yang disandingkan dengan hal-hal tak membahagiakan.

Tujuan kita membersama memang untuk meraih kebahagiaan. Namun kita juga musti mengerti bahwa kebahagiaan tak berdiri sendiri. Kebahagiaan senantiasa berkawan erat dengan ketidak-bahagiaan.

Seharusnya keraguan kita saat ini kita konversikan menjadi sebuah keyakinan. Keyakinan yang kita bulatkan. Meski wujud aslinya adalah sebuah keraguan. Bukankah hati manusia bisa berubah? Keyakinan manusia pun bisa berubah. Begitu juga keraguan.

Seharusnya kita tetap melangkah bersama meski saat ini kita terbeban keraguan. Sebab keraguan berkemungkinan berubah menjadi keyakinan di masa depan. Yang awalnya kita saling ragu, bisa jadi di masa depan menjadi sama-sama yakin bahwa kita bisa saling membahagiakan, dan kita adalah pasangan yang serasi.

Bukankah serasi atau tidak serasi, kita sendiri yang mengusahakan dan menilainya? Bukan orang lain yang menentukan? Kita tetap akan bisa menarik hal-hal membahagiakan meski kita memulai dengan keraguan. Karena bisa jadi keraguan hanya berlangsung sebentar saja, tidak selamanya. Karena keraguan itu adalah bentuk cobaan bagi hubungan kita.

Bukankah setiap hubungan selalu bertemu dengan cobaan yang beragam sesuai dengan kelemahannya. Merobek dinding tipis hubungannya.

Tak ada pasangan manapun di dunia yang terhindar dari cobaan dan masalah hubungan keduanya. Pasti akan selalu ada hal yang berusaha meretakkan hubungan mereka. Oleh sebab itu kita semestinya memahami hal tersebut. Lalu terus melangkah ke depan, bukannya malah memilih berpisah.

Keraguan bisa terjadi karena tidak adanya satu atau beberapa hal yang kita inginkan ada di pasangan kita.

Kamu ragu karena padaku tak ada beberapa hal yang kamu inginkan. Sehingga membuatmu meragukanku. Membuatku menjadi tidak sempurna di matamu; tidak seperti seseorang yang kamu harapkan. Sulit memang menemukan orang yang lengkap dan sempurna seperti yang kita inginkan. Mungkin malah mustahil. Ada pun yang sempurna selalu berkemungkinan tidak menginginkan kita.

Itulah mengapa kita musti menerima seseorang yang tidak sempurna. Merelakan apa-apa yang kita inginkan sebelumnya. Lalu berdamai dengan kenyataan yang ada. Dengan terus berupaya memperbaiki diri, memperbaiki keadaan, terus saling mengingatkan satu sama lain. Agar supaya di masa depan, pasangan yang tadinya berasa tidak sempurna menjadi sempurna menurut kita.

Sehingga kebahagiaan yang sempurna; yang seperti yang kita ingin-inginkan segera tiba mengindahkan kehidupan kita. Semoga.

  • view 87