Berjongkok seorang pria

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 04 Maret 2017
Berjongkok seorang pria

Berjongkok seorang pria dengan rokok di tangannya. Menghadap jalan, menyaksikan lalu lalang kendaraan.

Hatinya sedang gundah. Rokok dan secangkir kopi adalah pelampiasan terbaiknya. Ia sedang meratapi nasib. Muka buruk rupanya telah menghalang-halangi mimpinya. Menjegal aktivitas sehari-harinya. Meragukan kemampuannya. Membuat orang lain sinis dan menganggap rendah. Menolak bahkan sebelum kalimatnya tuntas.

Jangan tanya soal pacar bahkan jodoh. Hingga usianya 31 kini. Praktis ia hanya punya satu teman setia. Yang mau menerima apa adanya dia. Namun perjalanan hidup memisahkan mereka tiga tahun yang lalu.

Sahabat sejatinya itu merantau jauh ke seberang pulau, menjadi buruh tambang. Kenapa hanya satu temannya itu yang cukup setia bertahun-tahun menjadi teman dekatnya. Itu karena mereka sama-sama memiliki wajah yang buruk rupa. Memiliki status yang sama.

Yakni menjadi korban pengucilan pergaulan.

Teman-temannya menjauh. Tak ada yang mau berteman dengan mereka. Kalau pun ada hanya sebatas say hello, tak lama kemudian menjauh.

Di tengah dingin sisa hujan malam ini, ia meratapi nasib. Seolah Tuhan memang tak adil. Menciptakan ia dengan wajah buruk rupa. Apalagi kini usianya sudah bisa dibilang tua. Seharusnya ia sudah menikah. Bahkan teman-teman seusianya sudah berkeluarga; bahagia dengan kehidupan barunya, bersama anak dan istrinya.

Lantas apa yang menimpa dirinya. Kesialan demi kesialan tak henti-hentinya menimpanya. Pekerjaan yang didapatnya tak pernah langgeng. Hanya beberapa minggu sudah dipecat. Bahkan pernah baru sehari kerja langsung dipecat. Tak pernah namanya memiliki pekerjaan jelas. Adapun pekerjaan yang didapatnya hanya pekerjaan-pekerjaan rendahan. Menjadi kuli atau buruh bantu, tugasnya angkat-angkat seadanya.

Tubuh cungkring dan rambut kriting panjang sebahu menambah kesan urakan bagi siapapun yang melihatnya. Banyak orang memandang sebelah mata. Tak segan mengusirnya. Khawatir jika membikin rusuh.

Bahkan barusan ia beli kopi dan rokok di sebuah angkringan, diusir bapak pemilik angkringan meskipun tidak secara langsung. Ketika hendak mengambil duduk di bangku yang tersisa. Si bapak bilang sudah penuh. Meminta dia cari tempat yang lain.

Berjalanlah ia beberapa meter menjauh dari angkringan. Di trotoar yang baru direnovasi itulah ia berjongkok menghisap rokok menghadap jalan. Mencemburui pasangan-pasangan muda yang berlalu lalang di atas motor-motor dan di dalam mobil.

Kemudian ia menyerutup kopi hitam pahit, sehitam wajahnya dan sepahit kehidupannya kini.

  • view 55