Bersamamu, tak kan pernah bisa

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Maret 2017
Bersamamu, tak kan pernah bisa

Bersamamu, tak kan pernah bisa.

Kita berbeda agama. Kita berbeda etnis. Bahkan kita berbeda Negara. Pertemuan yang tidak sengaja. Membuat kita saling jatuh cinta. Hingga menjalani hubungan tanpa status.

Ini tak baik. Kita adalah seorang dewasa. Menjalin kedekatan penuh perasaan seperti ini tak baik. Sesuatu yang haram bisa saja terjadi. Itu keyakinanku. Meski di lingkunganmu tak terlalu dipermasalahkan.

Berbeda tempat, berbeda lingkungan, memang membuat berbeda kebiasaan dan keyakinan. Lingkungan yang membesarkan masing-masing kita berbeda. Itulah yang menjadikan kita sebagai pria dan wanita dewasa yang berbeda sudut pandang dan keyakinan. Batasan-batasan pergaulan, cara-cara berinteraksi pun berbeda.

Namun kita dipersatukan oleh kekaguman masing-masing.

Melihatmu, mengenalmu, menyaksikan keseharianmu membuatku semakin jatuh hati. Kau adalah sosok yang aku cari-cari selama ini. Tak menyangka sosokmu berada di Negeri yang jauh ini. Di kantor ini, dalam pekerjaan ini aku mengenalmu lebih jauh.

Aku juga menerima sinyal positif darimu. Itu yang membuatku semakin dekat denganmu. Semakin nyaman denganmu. Sampai akhirnya aku menanyakan perasaanmu padaku. Apakah sama dengan apa yang aku rasa. Kamu menceritakan semuanya.

Tak aku sangka kau juga menaruh rasa kepadaku. Apa yang terjadi padaku, terjadi pula kepadamu. Ketertarikan, sosok yang dicari-cari, bahkan keraguan yang dikalahkan oleh kenyamanan dan jatuh hati yang mengalahkan akal sehat.

Ya, kita mengabaikan akal sehat.

Yang pada akhirnya memutuskan untuk menikah. Merobohkan kebiasaan dan adat kita masing-masing. Menentang pemikiran orang tua yang masih tradisional. Sebuah pantangan menikah dengan etnis lain yang terpisah ribuan kilo meter dari bumi tanah halaman.

Bencana dan hal-hal buruk akan terjadi. Dewa-dewa tidak akan merestui. Itu adalah ketentuan adat. Di ujung penjelasan yang berlangsung alot, pilihan terakhir itu pun dinyatakan.

Pilih menikah, namun diusir dari tanah halaman, tidak boleh kembali dan tidak lagi dianggap anak, atau memilih membatalkan pernikahan dan tetap diakui sebagai masyarakat adat dan tetap menjadi anak. Pilihan ini tentu berat. Aku yang terlanjur mencintai kamu setengah mati. Tak bisa begitu saja melepasmu.

Namun cintaku kepada orang tua dan tanah halaman sudah sejak dahulu. Jauh sebelum aku mengenalmu. Aku harus segera memutuskan. Aku putuskan untuk tetap menjadi anak dan menjadi masyarakat adat. Meski aku tinggal di tanahmu, di Negaramu.

Aku putuskan mencintaimu dan mencintai orang tuaku beserta tanah airku.

Meski tanpa aku menikahimu. Barangkali cara mencintaimu akan bergeser dalam format yang lainnya, Lai Syin.

  • view 53