Menyusun surga kita

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Motivasi
dipublikasikan 2 bulan lalu
Menyusun surga kita

Kematian adalah keniscayaan bagi yang hidup.

Sudahkah kita siap menerima kematian? Jika belum, apa yang membuat kita belum siap? Apakah karena kehidupan dunia ini sudah terlalu nikmat untuk ditinggalkan? Ataukah karena bekal yang sedang kita kumpulkan belum cukup untuk meraih surga?

Ataukah kita merasa belum jadi apa-apa di dunia? Belum bisa bermanfaat banyak. Belum meraih cita-cita. Dan masih belum melakukan apapun selama di dunia? Benarkah demikian? Lalu kapan kita akan siap menerima kematian? Apakah nanti setelah tua? Bukankan tua muda bisa saja dimatikan.

Siap tidak siap, jika sudah saatnya pasti dimatikan.

Namun masalahnya kita tidak tahu kapan pastinya kita akan dimatikan. Jika saja kita tahu, pasti kita akan mempersiapkannya dengan matang. Karena kita tidak tahu, itulah kenapa kita masih saja bersantai. Seakan kematian akan datang di masa tua kita--yang tentunya masih lama bagi yang masih muda. Itu artinya masih ada waktu yang panjang untuk menikmati dunia. Persiapan kematian bisa disiapkan di hari tua.

Barangkali seperti itu pemikiran kita. Sehingga kini persiapan-persiapan itu bisa kita tangguhkan. Saatnya menikmati dunia. Mencari kenyamanan. Toh jika salah bisa bertaubat di hari tua. Pasti dimaafkan oleh Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Pemurah. Seperti yang disampaikan oleh pemangku Agama.

Apakah seperti itu pikiran kita? Jika benar, kita memang belum siap menerima kematian. Bukan berarti karena belum siap, maka hari pencabutan nyawa itu akan ditunda oleh Tuhan. Tidak. Masing-masing kita telah mempunyai hari kematian masing-masing. Yang menjadi rahasia Tuhan. Bahkan malaikat yang dekat dengan Tuhan pun tidak tahu.

Kita hanya bisa dengan ikhlas menerima kematian, jika kita benar-benar ikhlas menerima kehidupan.

Sadar bahwa kita hidup berarti harus juga sadar bahwa kita pasti mati. Keikhlasan itu tumbuh bersama kesadaran itu. Mewujud sebuah penerimaan, bahwa badan, jiwa dan nyawa yang membentuk kita ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Zat yang antah berantah, yang kita yakini keberadaannya dan memiliki kekuatan untuk mengambil kembali kita. Dikembalikan menjadi tiada. Dari tiada, ada, lalu ditiadakan kembali.

Demi menyambut kematian kita musti kembali melaksanakan peran manusia yang sebenarnya. Yakni menjadi manfaat bagi semesta alam. Memberikan kebaikan-kebaikan sebanyak mungkin. Menyampaikan ilmu, menyampaikan kebenaran dan memberi bantuan kepada yang papa. Jika hal-hal itu yang selama ini kita kerjakan, berarti kita sedang dan telah mempersiapkan kematian dengan baik.

Artinya kita sedang dan telah menyusun surga kita yang hendak kita tinggali. Itupun jika benar ada surga di alam setelah mati sana. Kalaupun tidak ada, kita telah membuatkan surga-surga di dunia untuk orang-orang yang menerima manfaat dari apa yang telah kita berikan selama di dunia. Selamat membangun surga-surga.

Dilihat 30