Adakah harapan yang akan menguatkan jalan kami ke depan?

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Februari 2017
Adakah harapan yang akan menguatkan jalan kami ke depan?

Kami berdua duduk menghadap sungai. Menjulurkan bambu yang diujungnya kami talikan sebuah kail. Kami celupkan ke beningnya air sungai. Sudah satu jam kami bersisian. Tak ada percakapan sekali pun. Masing-masing mata tertuju pada pengapung kail yang meliuk-liuk digerakkan air. Namun bukan lantas memperhatikan itu.

Pikiranku mungkin pikirannya juga menembus ruang dan waktu; memikirkan sesuatu yang lain. Aku memikirkan masa depan kami. Membayangkan saat kami hidup bersama dalam rumah tangga. Menghadapi semua kemungkinan bahaya dan tragedi yang akan menimpa. Dengan segudang keterbatasan-keterbatasan yang ada. Aku tuli, dia bisu. Aku lumpuh, dia buruk rupa. Aku tak berpendidikan, dia pemalu. Aku miskin, dia dikucilkan lingkungan.

Adakah harapan yang akan menguatkan jalan kami ke depan? Ataukah tanpa harap, seperti halnya menanti ikan yang menyangkut di kail tak berumpan yang sedang kami julurkan ini?

Berpijar langkah menapaki bara kehidupan. Menyongsong hari depan yang indah, yang sering kami andaikan. Membakar gelisah yang sama, di hari-hari penuh kemelut. Hari-hari dimana kami tumbuh bersama kesalahan, kesadaran, khilaf, perbaikan, sesak, lapang; yang ku jalani terus menerus, hingga hari-hari nanti.

Kami selalu iri dengan keberhasilan orang lain; dengan apa yang dikenakan orang, dan apa yang dikendarai orang lain. Hampir semua hal yang terlihat mata pernah kami irii. Namun malah jarang iri dengan kerja kerasnya, usahanya, penderitaan demi penderitaan yang dilaluinya, atau bahkan masa-masa sulit yang diarunginya, masalah-masalah yang bertubi-tubi melemahkannya atau bahkan ribuan rintangan yang menjegal seluruh aktivitasnya.

Sebab kami memang tidak tahu itu dan tidak mau tahu bagian itu. Jika saja kita bisa iri dengan bagian itu, mungkin kami bisa mengambil banyak pelajaran dari sana. Bahwa orang lain terlihat hebat, sejatinya karena perjuangan panjangnya meniti segala halang dan penderitaan. Begitupun dengan penghargaan dan penghormatan. Rasanya tak ada penghargaan maupun penghormatan yang berlabuh ke kami. Seakan kami tak layak mendapatkan hadiah istimewa seperti itu. Banyak orang yang menghindari dan menjauhi kami. Padahal, bukankah semua memiliki hak yang sama?

Hanya karena mereka merasa pintar, lantas bisa membodohi mereka yang tidak tahu. Hanya karena mereka bertampang rupawan, lantas bisa mengejek mereka yang buruk rupa. Hanya karena mereka berduit banyak, lantas bisa seenaknya mengeksploitasi mereka yang  miskin. Hanya karena mereka kenyang, lantas bisa melenggang di hadapan si pengemis. Ah, yang bermampu memang seringkali menidak-adili yang tak bermampu.

Namun kami yakin semua nasib adalah baik. Terkhusus baik buat diri masing-masing.

Meskipun banyak yang berprasangka tidak baik atas nasibnya, nasib akan tetap baik. Alam semesta selalu memberikan yang terbaik. Meskipun itu berupa bencana atau segala hambatan yang menyiksa. Kami tahu nasib kami yang seperti ini memang merupakan anugerah terbaik buat kami. Terkadang kami syukuri, namun saat terbentur dengan kenyataan pahit, terkadang juga masih kami keluhi. Karena kenyataannya dalam melampaui masalah memang tak selalu bisa mudah.

Setiap upaya menyelami masalah, mengarungi ketakutan, melompati kemustahilan, menapaki kegilaan, meminum rasa sakit, penghinaan, pelecehan, kebencian, penyebelahan-mata, memang memerlukan ketahanan batu karang yang dihantam badai. Namun rasanya diri ini hanya seperti batu cadas yang terlihat keras, namun sedikit demi sedikit habis tergerus air.

Kuat bukan berarti hanya mampu melampaui satu, dua ketidak-nyamanan saja. Musti belasan, puluhan bahkan ratusan. Tanpa harus berhenti, menangis atau membalik badan kembali. Namun jalan terus sampai dapat. Tanpa peduli seberapa berat semua badai ketidak-nyamanan menghantam mental tak terperikan.

Kami memang bukan malaikat yang bisa tahu apa yang dipikirkan orang lain. Oleh sebab itu kami berusaha tidak peduli dengan apa yang sedang dipikirkan orang lain. Terlebih pikiran terhadap kami. Baik penilaiannya, prasangkanya atau komentarnya dalam hati. Biarlah. Penilaian terhadap kami adalah kebebasan mereka. Terserah mau menilai apa, berprasangka apa dan berkomentar apa. Itu sepenuhnya adalah hak mereka. Kami hargai semua itu. Dan kami berusaha untuk tidak membebani diri dengan mengurus hal itu.

Kenyataannya dunia berjalan dengan keras. Ketika hukum tak mampu menata kehidupan masyarakat. Ketika agama tak mampu menata kehidupan umat. Ketika aturan, norma dan etika tak bisa lagi mengendalikan perilaku setiap individu untuk tidak melanggarnya. Maka konsep sebab-akibat alias karma musti dibumikan ke dalam sanubari setiap manusia.

Bahwa setiap kita tak bisa lepas dari segala perbuatan kita. Kita adalah pewaris dan penanggung-jawab setiap perilaku yang telah kita lakukan. Semua akan kembali kepada diri sendiri. Perbuatan baik maupun buruk, kembalinya kepada diri sendiri. Berbuat jahat hari ini akan terbalas di hari depan dengan kejahatan yang menimpa diri. Berbuat curang maka akan dibalas dicurangi suatu saat nanti. Begitu pun perbuatan-perbuatan lainnya. Sehingga, biarlah konsep karma yang memagari manusia dari perbuatan buruknya. Dimana pun dan kapan pun. Karma selalu membayangi langkah kita. Itulah hukum tertegasnya. Hukum alam semesta yang tak terhindarkan.

Tubuh dan tulang-belulang memang pasti akan hilang terurai dalam tanah. Namun kebaikan yang kita berikan kepada yang lain, pengorbanan yang kita lakukan untuk yang lain, kasih sayang yang kita tebar kepada yang lain, serta gagasan yang kita buat, akan senantiasa hidup dan tumbuh. Menumbuhkan kebaikan-kebaikan yang lainnya, kasih-sayang lainnya dan pengorbanan-pengorbanan yang lainnya. Meskipun itu semua bisa jadi tak tercatat dalam rangkaian sejarah di dunia. Namun yakinlah itu semua pasti tercatat dalam buku amal manusia, yang akan dihadiahkan kembali kepada kita di kehidupan berikutnya. Bisa jadi berupa kehidupan yang nyaman, tentram dan damai serta abadi selamanya.

Terlahir cacat memang bukanlah sebuah kutukan. Namun merupakan anugerah Tuhan Semesta Alam. Di tengah pergulatan kehidupan dunia setiap kita musti kerja keras menjalani tugas-tugasnya, melampaui masalah-masalahnya. Mari kita semua--termasuk kami yang tak seberuntung yang normal--bisa melalui kehidupan dunia ini dengan kebaikan-kebaikan. Agar kita semua ditempatkan di alam kebaikan setelah mangkat dari kehidupan dunia. Semoga.

 

 

  • view 57