Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru

Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru

Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru ku tempuh dengan pemaksaan diri yang melelahkan.

Aku tak kunjung menemui hasil yang ku inginkan. Melupakan kenyamanan yang pernah kamu berikan, seperti melupakan masakan kesukaan. Semakin berusaha ku lupakan semakin sulit ku lupakan. Seandainya kamu terus mengingini hidup membersamaiku, maka tak perlu aku bersusah payah melakukan semua ini.

Pernah membersamaimu aku mengerti bahwa kebosanan memang mampu membunuh perasaan indah karenamu. Namun mensyukuri kamu sebagai satu-satunya orang yang mau membersamaiku saat terpuruk dan malu, membuatku terus bertahan dari putus asa. Kamu seharusnya ku syukuri setiap harinya. Bukan malah ku keluhi karena semakin berkurangnya kemesraan seperti saat-saat awal membersama. Tapi semua itu sudah terlambat. Kamu terlanjur pergi.

Kini aku jadi teramat merindukanmu. Jika kamu tidak bisa menampungku dalam hatimu, mohon tampunglah rinduku dalam kebesaran hatimu. Penerimaan darimu untuk rinduku akan melegakan perasaanku pun melancarkan altivitasku. Jika aku tak bisa bersanding di sisimu, biarkan aku terus mengagumimu. Rinduku padamu saat ini mungkin hanya akan menyakitimu.

Namun suatu saat nanti rinduku akan mampu memeluk dan melegakan perasaanmu, di saat kamu jatuh tersungkur sendiri.

Ketika itu aku marah bukan karena benci kamu. Marahku adalah bahasa memintaku kepadamu agar lebih memperhatikanku. Tidak tahukah kamu kalau berkurangnya perhatian darimu membuatku merasa tidak utuh lagi. Apa yang baik buatku memang bisa jadi tak baik buatmu. Begitu pun sebaliknya. Yang kamu gadang-gadang baik bagimu, malah tidak baik bagiku. Kita hanya perlu saling menghargai perbedaan yang banyak terjadi diantara kita. Mari tidak saling menyalahkan dan memaksakan,  lantas saling membenci. Mohon jangan lakukan itu. Mari saling memahami.

Kenyataan yang tak dirindukan selalu saja datang mengganggu kebahagiaan. Seperti tak pernah suka seseorang menikmati bahagianya sedikit lebih lama. Seperti halnya masalah yang tak terduga datang di tengah kebahagiaan kita. Lalu dengan sekejab membalikkan keadaan. Kita tercerai-berai. Kenyataan yang tak dirindukan memang selalu saja mampu melemahkan semangat penuh harap. Menyabotase kebahagiaan yang kita harap-harapkan berlangsung selamanya.

Tanpamu membersamaiku kini hidupku dirundung rasa kurang. Aku masih saja selalu merasa kurang.

Padahal aku punya segalanya. Ya, segalanya. Memiliki potensi untuk mendapatkan segalanya. Aku normal. Fisikku, kesehatanku dan mentalku tak cacat satupun. Tapi aku tak bisa terus berbahagia. Karena selalu ada hal-hal yang membuatku merasa kurang. Terutama kurang dalam hal menjaga keutuhan hubungan kita dulu.

Aku selalu tak pernah puas dengan apa yang telah aku dapatkan. Rasanya yang berhasil aku dapatkan langsung ku kubur dalam-dalam di liang lahat. Lalu gundukan tanahnya ku jadikan pijakan berdiri, untuk memandang ke langit tinggi; melihat apa-apa yang belum aku dapatkan. Kemudian merancanakan langkah-langkah ambisius untuk menggapainya. Membuat hari-hariku selalu tertekan dan gelisah.

Padahal jika saja aku mau mensyukuri apa-apa yang telah aku dapatkan, mungkin aku bisa sedikit bernapas menikmati wanginya hidup. Bukannya malah menikmati kekhawatiran demi kekhawatiran yang meresahkan.

Aha Anwar

Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 15 Februari 2017
Ringkasan
Perihal membuka hati untuk kenyamanan baru ku tempuh dengan pemaksaan diri yang melelahkan.
Dilihat 39 Kali