Aku selalu berusaha berbuat lebih dari pada yang aku perlihatkan ke kamu

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 15 Februari 2017
Aku selalu berusaha berbuat lebih dari pada yang aku perlihatkan ke kamu

Kita sama-sama tahu bahwa luka akan menganga jika kita sayat dengan penghianatan.

Menghianati apa-apa yang pernah kita tetapkan bersama. Menghianati apa-apa yang kita pernah ikat menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan. Atau mengingkari janji-janji yang memperkokoh kepercayaan satu dengan yang lainnya. Kita seharusnya bisa kembali saling percaya. Namun berbagai kemungkinan di depan membuat masing-masing kita tidak sepenuhnya percaya lagi. Hingga janji-janji terpaksa diingkari.

Berbagai macam faktor mempengaruhi perubahan pikir dan perasaan kita. Sehingga membuat kita melakukan kesalahan. Menghianati semua yang pernah kita pondasikan bersama-sama. Hal-hal yang dulunya tidak kita rencanakan terjadi, hari ini justru kita biarkan terjadi. Hal-hal yang dulunya kita hindarkan agar tidak terjadi di masa depan, sekarang justru datang tak terhindarkan. Dulu kita berjanji tidak akan mentertariki yang lain, sekarang malah tertarik dengan orang lain. Dulu kita berjanji tidak akan terpisahkan, sekarang malah diambang perpisahan.

Seakan waktu mengubah segalanya. Membalikkan kepada ruang yang tak teringinkan. Namun ku yakin semua itu adalah murni kesalahan kita. Karena perubahan itu memang merupakan hal yang mutlak. Semuanya pasti berubah dalam berjalannya waktu. Harusnya kita tetap berkomitmen dengan apa yang dulu kita jadikan janji. Bukannya malah saling mengajukan perpisahan. Menghianati janji bersama, menggelorakan keinginan masing-masing. Kamu yang tertarik dengan orang lain. Aku yang cemburu, mengingini menjauh pergi.

Kita bertengkar memaksakan pendapat. Memaksakan apa-apa yang masing-masing kita percayakan sebagai kebenaran utama.

Kamu menginginkan aku menyerah pada alasan bahwa hubungan kita tak lagi bisa dilanjutkan. Kita tak lagi cocok dan berbahagia membersama. Sementara aku memaksamu menyerah pada alasan kamu yang berhianat. Melukai hubungan dengan menyukai orang lain, menyingkiri aku. Padahal kamu bersikeras mendebat dan menggugat bahwa bukan karena orang lain di luar sana.

Kita memang sering berselisih untuk melegakan perasaan masing-masing; dengan mengalahkan argumen dari yang lain. Merasa menang jika salah satu memilih diam duluan. Karena tak ada lagi yang bisa dikatakan untuk mengokohkan argumen awal. Padahal sebenarnya kita sedang merajuk ingin lebih diperhatikan. Sebagai sinyal meminta pasangan untuk mengubah perlakuannya yang kurang perhatian, kurang kasih sayang dan kurang ketulusan.

Kamu mungkin tak percaya bahwa aku selalu berusaha berbuat lebih dari pada yang aku perlihatkan ke kamu. Mengupayakan segala permintaanmu, apapun itu. Menyetujui setiap usulanmu. Meski terkadang bertentangan dengan keinginanku. Namun demi senyum dan tawamu, ku lapangkan dada menurutimu. Aku tak ingin melihat kecewa maupun berlinang air mata. Maka selalu ku usahakan lebih banyak dari yang terlihat di hadapanmu. Memberi kejutan-kejutan kecil padamu pun butuh upaya yang berkali-kali sebelumnya. Aku harus merelakan waktuku yang lain, demi untuk meluangkan waktu terkhusus buatmu.

Sebegitu besarnya aku memperjuangkan agar hubungan kita tetap baik-baik saja.

Sebegitu besar usahaku untuk membahagiakanmu. Seharusnya kamu tahu itu. Seharusnya kamu bisa merasakan itu. Lalu menyetiai aku; menjadikan aku satu-satunya pasangan yang kamu ingin bahagiakan. Menjadi satu-satunya pusat segala perhatian. Termasuk sebagai satu-satunya tempat melabuhkan segala harap, cinta dan kasih sayang.

Namun nyatanya penghianatan menghancurkan segalanya. Apa-apa yang kita bangun dulu, kini dengan cepat kita runtuhkan bersama. Retaknya pondasi kepercayaan ampuh merubuhkan seluruh bangunan. Aku tak habis pikir jika aku begitu mudah retak karena melihatmu begitu. Kamu juga tak kalah lemahnya. Tergores sedikit, membuat robek semuanya. Kita memang pantas berpisah, karena kepercayaan tak lagi bisa direkatkan.

  • view 83