Bukankah aku masih memiliki hak untuk memintamu kembali?

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2017
Bukankah aku masih memiliki hak untuk memintamu kembali?

Aku masih ingin melihatmu. Aku masih ingin membersamaimu. Meski aku tahu kamu sudah pergi dari genggaman tanganku. Telapak tanganmu tak lagi menjadi penghangat telapak tanganku. Kamu memilih melepas apa-apa yang pernah kita ikat bersama.

Aku masih ingin melihat senyummu mengembang di hadapanku. Aku masih ingin mendengar suaramu menyapaku. Aku masih ingin berbagi cerita perihal apa saja, berdua denganmu. Aku ingin berburu makanan kesukaan, lalu menyantapnya dengan riang. Aku masih ingin mengunjungi tempat-tempat indah bersamamu. Aku ingin mengulang semua kenangan indah bersamamu.

Meski terkesan seperti tak tahu malu, namun bukankah itu menjadi bagian dari hakku untuk mendapatkan bahagiaku kembali. Bukankah kamu pernah berjanji akan terus membersamaiku meraih kebahagiaan demi kebahagiaan, hingga nanti; hingga waktu yang tak terbatasi. Bukankah aku masih memiliki hak untuk memintamu kembali; untuk memegang tanganku lagi. Namun apalah dayaku, jika kamu yang menginginkan pergi.

Aku selalu menuruti apa yang kamu ingini. Aku yakin bahwa apa yang kamu ingini membuatmu bahagia. Dan bahagiamu adalah alasan untukku berbahagia. Aku selalu merasa lebih berbahagia jika melihatmu riang gembira dengan senyum dan tawa. Aku seharusnya berbahagia jika bisa mengabulkan keinginan terakhirmu. Yakni melepasmu dengan kerelaan dan keikhlasan. Tanpa dendam, tanpa kebencian. Itu yang kamu ingini. Sebuah keinginan yang membuatku lemah tak berdaya; tak bisa berbuat apa-apa.

Kini aku berusaha untuk merelakan kamu pergi. Perlahan-lahan dengan terus merasakan rindu berbalut hampa. Merelakanmu berarti harus mengelupasi janji-janji bahagia yang pernah kita rekatkan bersama. Tak mudah melupakan komitmen yang pernah kita buat. Rasa penghianatan menyayat-nyayat kesabaranku. Hingga inginku menemuimu, lalu menyeretmu kembali. Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan penghianatan seperti itu kepadaku; kepada orang yang berikrar ingin membahagiakanmu.

Namun ku berusaha menahan diri. Pergimu bukan karena alasan ada seseorang yang ingin kamu temui atau karena bencimu kepadaku. Pergimu karena ingin menenangkan hati. Meski itu terdengar seperti omong kosong yang tak bisa aku mengerti. Aku tak bisa menggugat. Karena itu keluar dari lisanmu dengan segala permohonan di hadapanku. Aku tak pernah mengerti apa maksud dari alasanmu itu. Apakah itu artinya kamu selama ini tidak pernah merasa tenang membersamiku? Apakah semua kebahagiaan yang terluap dari ekspresimu adalah kebohongan? Ah, mendadak kamu berubah menjadi misteri.

Seperti halnya jatuh hati, aku tak bisa menemukan alasan mengapa aku jatuh hati. Karena sekonyong-konyong hal tak terjelaskan itu terjadi. Seperti itu pulalah aku tidak mengerti dengan alasanmu berhenti. Aku ingin sekali mendengar penjelasan yang lebih bisa ku pahami. Namun kamu selalu saja menghindari. Seakan kamu ingin aku menafsir sendiri. Bagaimana aku bisa melepasmu dengan tenang, jika aku tak kunjung menemui jawaban yang pasti dan bisa ku mengerti.

Kamu pergi menemui ketenangan hati, tapi kamu menyisakan resah di hatiku. Resah yang selalu mengganggu hari-hariku. Semakin bertambah hari, semakin menyakiti. Semakinku menerka jawaban pasti, semakin ku bingung dan tak mengerti. Lalu apalagi yang perlu kamu lakukan demi mendapatkan ketenangan hati. Apakah kamu akan tetap sendiri? Melakukan segalanya sendiri? Tapi rasanya tidak mungkin. Apakah dengan sendiri akan mendapati pada ketenangan hati?

Ah, aku tak habis pikir dengan semua ini.

  • view 70