Kecewaku bukan salahmu, tapi salahku

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Februari 2017
Kecewaku bukan salahmu, tapi salahku

Kini aku kecewa, hancur, berantakan, sungguh bukan karenamu. Itu karena diriku sendiri.

Menjadi orang yang tak terkendali. Melakukan hal-hal yang ku tujukan untuk merusak diriku sendiri. Ada kecewa yang tak bisa ku enyahkan dari kepalaku. Ada rasa tak berguna melanjutkan hidup tanpamu. Membuatku menjalani hidup bagai sampah; yang terkulai lemah, tak berpengharapan, tak berguna, tak berdaya.

Aku jadi begini bukan salahmu, ini semua karena salahku. Aku salah memahami semua kejadian ini. Kejadian yang mendadak menyentak hati. Seperti petir yang menyambar kesadaranku. Mengambil paksa kewarasanku dari dalam tubuhku.

Sungguh ini bukan salahmu. Aku yang memulainya dengan mentertariki kamu. Menjadikan kamu sebagai pelabuhan segala harapan. Mengejarmu, mendekatimu, meniru, menjiplak dan berusaha menyukai segala tentang kehidupanmu. Menjadikan kamu sebagai satu-satunya tempat menggantungkan hidup dan kebahagiaanku.

Sakitku kini adalah karena semua sengajaku mendekat ke kehidupanmu. Memasuki tempat-tempat yang seharusnya tidak ku masuki. Karena aku masuk tanpa bekal pemahaman bahwa suatu tempat indah tidak akan menjamin keindahan abadi. Akan ada masanya tempat itu tak lagi terlihat dan terasa indah. Seharusnya aku memiliki kunci untuk keluar dari tempat-tempat indah yang ku masuki.

Aku sakit karena kecewa. Kecewa dengan kebahagiaan yang ku prasangkai akan abadi, ternyata sirna begitu saja. Kecewa karena bahagia yang ku dapati dengan membersamaimu tak bisa berlangsung selamanya. Hilang begitu saja, saat kamu memutuskan pergi dari sisi.

Kini aku menginginkanmu kembali. Untuk menyusuri tempat-tempat indah yang pernah kita datangi. Namun kamu berhak mengabaikanku, menghindariku. Karena semua itu hanyalah keinginanku untuk mendapatkan bahagiaku kembali. Tanpa mempedulikan bahagiamu. Bisa jadi kamu tak lagi bahagia membersamaiku datang ke ruang-ruang bahagia.

Aku yang memulai, akulah yang harus mengakhiri. Mengakhiri dengan pemahaman bahwa hubungan kita selesai sejak kamu memutuskan pergi. Karena kebersamaan adalah keputusan setuju dari dua belah pihak. Bukan setuju hanya dari satu sisi. Maka ku hargai keputusanmu pergi. Aku pun harus mengakhiri dengan pemahaman bahwa seindah-indahnya kamu dalam hidupku, kamu tak layak ku minta kembali, karena kamu yang memutuskan pergi.

Seharusnya aku tak perlu menyalahkanmu, tak perlu membencimu. Tak bersedianya kamu membersamaiku adalah kebenaran milikmu. Aku harus bisa menerima kebenaran meski pahit terasa di hati. Meski menyakitkan, namun begitulah kebenarannya. Meski terasa tak adil, namun begitulah kenyataannya.

Aku harusnya menyediakan ruang untuk menaruh kecewa. Menyediakan ruang untuk meletakkan pemahaman yang mampu mengelola kecewa, melumat benci, membunuh dendam yang kekanak-kanakan. Meramunya menjadi pemahaman yang lebih mendewasa. Bahwa kecewa adalah hal yang wajar, asal tidak berlangsung lama. Bangkit dari kecewa adalah keharusan. Hidup wajar harus dijalani kembali. Rencana-rencana masih banyak yang menanti. Mimpi-mimpi masih banyak yang musti diperjuangkan lagi.

Kecewaku, sakit hatiku adalah salahku sendiri, maka ku akhiri sendiri dengan pemahaman bahwa kamu layak pergi dan aku bisa melepasmu pergi.

  • view 139