Dahulu kala seorang pejalan kaki asal Indonesia tiba di daratan China

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 11 Februari 2017
Dahulu kala seorang pejalan kaki asal Indonesia tiba di daratan China

Dahulu kala ada seorang pejalan kaki asal Indonesia tiba di daratan China. Di tengah siang yang sangat terik si pejalan kaki memutuskan berteduh di teras rumah penduduk. Belum sempat duduk ia diusir warga setempat.

Ia melanjutkan perjalanan. Di tengah ladang ia melihat pohon rindang, berjalanlah ia kesana. Ingin berteduh dan sekalian tidur siang. Beberapa meter hendak sampai ia memutuskan balik saja.  Ternyata di sana ada seorang warga yang tengah beristirahat. Ia takut mengganggu warga itu.

Namun ketika hendak balik kanan ia segera dipanggil oleh warga itu. Diminta berteduh bersama. Dengan senang hati ia menghampiri warga itu lalu duduk bersebelahan.

“Kenapa Tuan hendak pergi setelah melihat saya? Bukankah Tuan hendak berteduh disini?”, tanya lelaki di sampingnya.

“Saya takut mengganggu Tuan. Saya sebelumnya hendak istirahat di teras rumah warga. Namun belum sempat saya duduk sudah diusir warga. Saya takut mengganggu Tuan",  jawab si pejalan kaki.

“Sebenarnya mereka adalah penduduk yang ramah. Namun mereka takut dengan orang asing seperti Tuan. Wajah dan kulit Tuan berbeda dengan mereka. Mereka takut tertular penyakit yang mungkin Tuan bawa. Kulit Tuan coklat, mereka putih. Mata Tuan lebar, mereka sipit.”

“Tapi kenapa Tuan tidak mengusir saya? Bukankah kita juga berbeda?”

“Tidak Tuan. Kita tidak berbeda. Coba angkat tangan Tuan. Seperti ini. Lihat bayangan tangan kita Tuan. Sama-sama hitam kan? Berarti kita sama. Dengan siapa pun manusia di seluruh muka bumi ini, kita sama saja Tuan. Di hadapan matahari, bayangan kita sama-sama hitam. Di hadapan semesta alam kita juga sama saja. Tak ada bedanya. Warga sini hanya belum mengerti soal itu. Mereka dibohongi mitos bahwa orang asing membawa penyakit.”

Ke dua pria itu pun tersenyum satu sama lain. Lalu merebahkan diri di bawah teduhnya rindang.

  • view 61