Kita minta Tuhan menjodohkan kita

Kita minta Tuhan menjodohkan kita Kita minta Tuhan menjodohkan kita

Saat kamu menjelma angin, harus bagaimana aku memelukmu? Saat kamu menjelma angin, bagaimana aku harus menggandeng tanganmu dan berbincang denganmu? Bukankah cara terbaik membersamaimu adalah duduk diam menikmati setiap belaian yang tak kasat mata darimu. Meski bisa jadi itu bukan belaian untukku. Biarlah aku duduk diam menikmatimu dengan segenap imaji dan kaca mata indahku.

Aku pernah tak menyangka ada seorang gadis tiba-tiba menempelkan pipinya lekat-lekat ke pipiku. Mendadak begitu saja. Padahal aku tengah berbincang dengan kawanku. Gadis itu tersenyum puas dengan kejutannya. Aku hanya bengong. Ruhku melayang tak kunjung kembali ke raga.  Tak menyangka. Benar-benar tak menyangka. Aku mengerjap-erjap merasakan kembali rasa aneh yang menyelimuti tubuhku. Seperti ada segentong es yang mendadak menumpai jantungku. Gerrr. Seketika beku.

Gadis itu adalah kamu. Gadis yang selama ini aku taksir? Siapa yang menyuruhmu datang? Apa maksudmu? Kamu hanya diam dengan mengembangkan senyum. Lama-lama sosokmu menjauh. Menjauh meninggalkanku yang masih mematung. Melayang terbang ke langit. Semakin jauh, semakin memudar, lalu hilang di kegelapan malam. Ah, aku hanya mimpi. Mimpi yang indah bersamamu. Ya, hanya mimpi. Alam nyataku tak mampu merengkuhmu. Alam nyataku menderita karena kesendirian panjang.

Yang menderita dalam kesendiriannya memang adalah mereka yang telah terjangkit virus ketergantungan terhadap bantuan dan sokongan orang lain. Padahal awalnya ia terlahir seorang diri dan tumbuh dewasa tanpa pasangan kekasih. Lantas kenapa ia begitu menderita tanpa kekasih di dekatnya. Barangkali aku telah masuk dalam daftar yang terjangkit virus ketergantungan itu.

Malam ini akan ku nyanyikan lagu-lagu kesukaanmu; sebagai pelepas rindu yang menggumpal. Jika jantungmu mendadak lega dan napasmu mendadak hangat, itu artinya lagu-lagu yang ku dendangkan dari sini telah sampai di jiwamu yang jauh disana. Kita memang dipisahkan jarak. Namun udara selalu mampu menyatukan kita. Merangkul dalam pemahaman bahwa mencintai tak harus membersama dalam kebersamaan raga.

Mencintai tetap bisa dilakukan dimana saja, kapan saja, untuk siapa saja, dan dalam keadaan apa saja. Mencintai tetap akan berhasil membahagiakan. Menghadirkan rasa hangat, damai dan tenang. Yang mendapati luka pasti bukanlah pecinta. Pasti mereka yang dikendalikan hasrat ingin memiliki, ingin menguasai, dan ingin mendapatkan keuntungan.

Hujanmu, hujanku, hujan kita sama. Yakni hujan dari langit. Saat aku menikmati dingin suasana hujan, disaat itulah aku menikmati kesamaan kita; kesamaan memiliki hujan yang sama. Di hadapan alam, di hadapan Tuhan kita semua memang sama saja. Tak peduli jas yang dikenakan atau kain kumal yang dikenakan. Tak peduli kedudukan jabatan yang diamanahi. Tak peduli kasta yang melekat di nama. Tak peduli uang yang tertumpuk atau harta benda yang dipunya. Tak peduli semua itu. Kita sama saja di hadapan alam semesta, dan alam semesta menyatukan kita.

Maukah kamu menolongku? Biarkan aku menemuimu, duduk di hadapanmu. Memandangimu, sebentar saja. Jika aku memang tak bisa membersamaimu seumur hidup, mohon biarkan aku duduk sebentar saja di hadapanmu. Akan ku ceritakan perasaan-perasaanku karenamu. Termasuk memberimu pesan-pesan yang lama aku simpan untukmu. Mohon jadilah perempuan yang baik dan hebat.

Perempuan tak boleh lemah. Tak boleh dengan sengaja menggantungkan nasib kepada laki-laki. Kamu tahu kan telah berapa lama kaum perempuan dijajah kaum lelaki? Beribu-ribu tahun lamanya. Diturunkan ke anak cucunya, bahkan hingga sekarang. Pelemahan kaum perempuan, pengekangan, pembatasan akses, perbudakan, kekerasan, penomor-akhiran hingga penyebelahan-mata peran perempuan terjadi di banyak tempat.

Perempuan harus bangkit memerdekakan diri. Terlebih memerdekakan pikirannya sendiri. Tak perlu bergantung kepada laki-laki. Mandirilah. Berdaulatlah. Jangan merengek-rengek meminta-minta. Kecentilan, ingin dimanjakan. Mohon jangan. Jangan sampai menampilkan kelemahan di hadapan laki-laki. Jadilah pemimpin bagi diri, lingkungan sekitar dan bagi masyarakat banyak. Saatnya perempuan bangkit memimpin perubahan.

Gadis manis bukan yang pandai bersolek. Anggun di depan kamera. Gadis manis bukan gadis yang mendapat banyak senyum dari banyak lelaki. Gadis manis adalah gadis yang peduli sesamanya. Peduli kepada kaum berkebutuhan khusus, miskin, jompo, dirundung sakit atau yang tengah dilanda bencana. Mengentaskannya ke dalam keadaan yang lebih baik. Membantu dengan segenap upayanya. Memaniskan hidup yang tengah pahit. Begitulah gadis manis. Aku ingin kamu tetap menjadi gadis manis dan kelak akan menjadi perempuan hebat.

Pada gilirannya nanti. Aku ingin dipertemukan dengan kamu. Setelah usaha membekali diri dengan ilmu pendidikan tinggi ini usai. Aku ingin bertemu dengamu. Membersamaimu. Berdua saja. Jiwaku dan jiwamu. Bergandengan tangan terbang ke langit. Menembus dinginnya malam. Bertolak ke surga. Bertanya kepada Tuhan. Apakah kita jodoh? Jika tidak, maka kita minta Tuhan menjodohkan kita. Lalu kita turun kembali ke bumi. Duduk di pasir pantai. Berdua saja. Melantun syukur dan doa.

 

Aha Anwar

Kita minta Tuhan menjodohkan kita

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 11 Februari 2017
Ringkasan
Pada gilirannya nanti. Aku ingin dipertemukan dengan kamu. Setelah usaha membekali diri dengan ilmu pendidikan tinggi ini usai.
Dilihat 30 Kali