Mengikatmu jadi jodoh

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2017
Mengikatmu jadi jodoh

Kita jalan beriringan di pematang sawah. Kamu bercerita tentang lucunya kejadian kemarin, aku turut tersenyum, sesekali tertawa. Dari belakangmu aku mengamati kerudungmu, yang ujung-ujungnya dibuncah angin. Tangan panjangmu yang tertutup kaos lengan panjang menggantung gemulai. Lentik jarimu mengelus pucuk-pucuk hijau padi.

Kamu berhenti sejenak, mendadak diam, memintaku jangan bergerak. Ku pikir apa, ternyata kamu ingin menangkap capung yang hinggap di ujung rumput. Aku tersenyum. Aku bahagia. Aku benar-benar bahagia membersamaimu. Bisakah kita berbahagia seperti ini setiap hari? Jangan pernah pergi. Jangan pernah berlalu. Mari tetap seperti ini hingga tua.

Kamu tahu kenapa selama ini aku tak tertarik dengan wanita manapun? Sekalipun wanita itu cantik, baik hati dan dambaan semua lelaki? Itu karena ketertarikkanku disimpan-Nya hanya untukmu. Aku yakin juga, jika ketertarikkanmu tercipta hanya untukku. Sekalipun ratusan lelaki berseliweran di hadapanmu. Nyatanya kamu tak tersangkut. Sekalipun ratusan bujuk rayu, gombal dan sejenisnya menggodamu. Kamu tetap teguh menungguku.

Kamu dan aku memang sepasang kutub yang terus saling memikat hati. Kita adalah sepasang jiwa yang telah dijodohkan semesta. Disimpannya di masing-masing tempat yang jauh dan terpisahkan. Dipisahkan oleh jalan cita kita masing-masing. Cita untuk merangkum pengetahuan sebagai bekal masa depan. Kemudian kita dimuarakannya dalam bahtera yang sama.

Dan kita memang sama-sama selalu yakin bahwa kita pasti dipertemukan di pelaminan karena kesengajaan kita. Yakni karena komitmen ingin membersama. Sebab dulu kita pernah dipertemukan dalam ketidak-sengajaan. Semua itu adalah jalan hidup  yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Sebab kita telah memesannya melalui do’a-do’a yang setiap hari kita larung ke langit. Do’a untuk tetap diikat oleh jodoh terbaik. Akulah jodoh terbaikmu, dan kamulah jodoh terbaikku. Komitmen yang dulu pernah kita ikat kuat telah sekian lama menjaga kita.

Kamu tahu kenapa hanya aku yang boleh menikahimu? Karena hanya aku yang paling gila ingin membahagiakanmu. Kenapa aku gila ingin membahagiakanmu? Karena jika tidak sama kamu aku bisa lebih gila lagi. Sebab kamu adalah kewarasanku. Kamu adalah orang waras yang akan menyempurnakan jiwaku yang kosong sebelah. Kamu harus aku nikahi. Biar tidak ada orang gila lain yang mengambilmu. Pernikahan memang kurungan yang sempurna bagi seorang gila sepertiku.

Kamu selalu membuatku gila. Kamu pernah mengatakan kamu rela menangis untukku. Kamu rela menungguku. Kamu juga pernah bilang ingin menemaniku, sejak aku dari bawah hingga aku sampai di puncak kesuksesan. Kamu pernah mengatakan itu semua. Dan kini kamu bukannya membuatku waras, tapi membuatku bertambah gila. Benar-benar gila. Merindumu setiap hari dan menangis syukur memilikimu. Kamu boleh tersenyum sekarang, mengetahui aku begini. Sebab diperjalanan selanjutnya kita akan tertawa dan menangis sejadi-jadinya dalam pengarungan samudera cinta membersama.

Demi kesempurnaan hubungan kita, mari kita terus belajar memperbaiki diri agar semakin pandai mengelola hubungan dua orang yang berbeda. Sekolah boleh saja selesai, kuliah boleh saja usai, tapi belajar tak perlu selesai. Membaca lagi, mengambil pelajaran lagi. Mengamati lagi, mencari pandangan baru lagi. Berpetualang lagi, menemukan pemahaman lainnya lagi. Menalar lagi, merenung lagi. Mengubah diri menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Belajar tak perlu selesai. Lagi dan lagi.

Dilihat 47