Biarlah kisah ini tetap menjadi kisah satu sisi

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2017
Biarlah kisah ini tetap menjadi kisah satu sisi

Aku dan kamu sering berpapasan. Tapi kita tidak saling mengenal. Aku menyukaimu sejak lama. Aku sering mengirim buku ke kontrakanmu. Kamu selalu menerimanya, meski tanpa tahu persis dari siapa. Memang aku sertakan sepotong kertas bertuliskan: terimalah! dari pengagummu. Seharusnya kamu mencari tahu aku. Menemukanku dengan segenap rasa suka.

Sebetulnya aku tak sekedar menyukaimu atau mengagumimu. Aku sudah berkali-kali jatuh cinta padamu. Meski tak sekalipun aku ungkapkan kepadamu. Aku hanya terus mengirim buku-buku, tanpa menjelaskan siapa aku sebenarnya. Begitulah aku menyampaikan rasa cintaku kepadamu.

Aku mencintaimu dari tempatku bersembunyi. Tanpa berani mengungkapkan langsung padamu. Menyaksikan senyummu dari jauh, sudah sangat membahagiakanku. Apalagi jika bisa menikmatinya tepat di hadapanku. Ah, barangkali itu tidak perlu. Aku tak perlu hadir di hadapanmu pun dalam kehidupanmu.

Banyak hal yang aku takutkan. Diantaranya bertemu kamu. Jika bertemu kamu aku takut tidak bisa berbuat apa-apa. Takut menjawab pertanyaanmu. Setiap pertanyaan yang kamu utarakan pasti akan sulit ku jawab. Tanpa kamu tahu, kamu telah merubahku jadi bodoh, gila dan penakut. Tapi aku menikmati itu.

Aku selalu merasa kurang. Tidak percaya diri. Aku juga tak memiliki kemewahan harta benda. Aku hanya memiliki kemewahan berupa kesempatan hidup lagi di hari ini, menghirup udara hari ini, mendengarkan suara kehidupan hari ini, serta melihat benda-benda yang diam maupun yang bergerak, dengan segala macam pernak-pernik kehidupan di lingkungan sekitarku, hari ini. Entahlah dengan kesempatan esok hari. Apakah aku akan menikmatinya lagi atau tidak. Yang jelas kesempatan hari ini adalah kemewahanku. Kemewahan kedua adalah memiliki rasa cinta. Ku berikan kemewahan cintaku untuk mencintaimu dalam persembunyianku.

Sebenarnya aku tidak menghendaki untuk terlalu mencintaimu. Karena terlalu mencintaimu hanya akan membuatku takut kehilanganmu. Pun membuatku khawatir akan keselamatanmu. Bukankah sebaiknya aku menghindarimu dan menganggapmu tidak penting bagi hidupku? Biar aku terbebas dari segala rasa takut itu.

Dalam benakku, sesekali aku menggerutu bahwa seharusnya kamu tahu, masih ada aku di belakangmu. Aku siap memelukmu kapan pun kamu mau. Karena bahu di sampingmu tak selamanya mau kamu sandari. Tak selamanya pula tangan di sampingmu mau membantu berdiri. Maka ingin ku bisikkan ke telingamu bahwa masih ada aku di belakangmu. Siap untuk menopangmu. Saat kamu membutuhkanku aku pasti akan selalu siap. Saat kamu memanggilku datang aku pasti akan bergegas datang. Aku rela memberikan apa saja kepadamu. Aku rela memberikan kasih sayangku padamu, percayalah.

Ah, bodohnya aku, merencanakan sesuatu hal yang sebenarnya bukan kewenanganku. Bagaimana mungkin aku merencanakan bisa bertemu dengan kamu secara dramatis, seperti di film-film. Dengan adegan mengesankan yang tak bisa terlupakan. Lalu kita saling mengenal dan menjalin hubungan. Ah, aku terlalu berlebihan; merencanakan sesuatu yang sangat bodoh dan mustahil terjadi.

Bukankah romantisme yang mengesankan itu hanya terjadi pada ketidak-sengajaan. Sebuah pertemuan yang tak terencanakan, tak dinyana-nyana. Bertemu begitu saja dengan berbagai bentuk kejutannya.  Karena sebuah pertemuan mengesankan itu memang mustahil untuk diskenariokan. Biarlah semua kisah semesta yang mengurusnya. Manusia hanya perlu menjalani sebagaimana mestinya.

Sudah, tak perlu berskenario bodoh. Biarlah semua kisah cinta ini aku saja yang mengetahuinya. Toh aku sudah cukup bahagia dengan cara mengagumimu dari tempatku sembunyi. Biarlah kisah ini tetap menjadi kisah satu sisi.

Dilihat 47