Mencintaimu, seharusnya aku terus bertahan dengan pikiran positif saja

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Februari 2017
Mencintaimu, seharusnya aku terus bertahan dengan pikiran positif saja

 

Kamu boleh meremehkanku perkara mencintaimu. Namun diriku percaya bahwa aku tak main-main mencintaimu. Kamu boleh menilaiku dingin perkara mesra memperlakukanmu. Namun diriku selalu berusaha untuk menghangatkan perlakuan penuh cinta yang kucurahkan padamu. Ku harap kamu bisa meresakan itu dan menilai dengan segenap rasa puas dan bangga memilikiku.

 

Aku memang seseorang dengan berlimpah kekurangan. Namun aku juga memiliki kelebihan. Diantaranya berlebih mencintaimu. Ku berikan segala yang baik yang aku punya. Semua demi kebahagiaanmu; demi senyum dan tawamu. Ku harap kamu merasakan itu, lalu menjadikan aku sebagai satu-satunya pria terbaik yang pantas membersamaimu.

 

Tidakkah kamu tahu, kehancuranku adalah ketika mengetahui rasa kecewamu atas perlakuan dariku. Padahal aku selalu berusaha menggembirakanmu; mencegah datangnya kecewa yang akan merubah wajah cantikmu. Kesia-siaanku adalah ketika telah ku perjuangkan sebaik mungkin mewujudkan yang kamu mau, tapi akhirnya kamu menginginkan hal yang lainnya.

 

Seakan semua yang aku lakukan adalah menjalani hukuman atas kesalahanku mencintaimu. Aku memang menyadari bahwa dari awal hanya aku yang menginginkan membersama. Kamu mungkin tidak. Hanya aku yang bersikeras memberikan kasih sayang terbaik untuk kebahagiaanmu. Dengan keyakinan bahwa hati bisa berubah, perasaan bisa berganti. Mungkin awalnya kamu tidak mencintaiku, namun dengan ku berikan segala perlakuan penuh cinta, mungkin kamu bisa mempertimbangkan aku, bahkan bisa berubah mencintai aku.

 

Kamu menerima cintaku, menjadikan aku sebagai kekasihmu, entah dengan pertimbangan apa ketika itu. Yang pasti kamu menerima cintaku, memberi kesempatan bagiku untuk menunjukan rasa cintaku padamu. Dalam berjalannya waktu, barangkali kisah kita bisa dikatakan cinta satu sumber saja; dari pihakku. Kamu hanya bagian yang menerima segala perlakuan penuh cinta. Namun bagiku, aku sudah cukup bahagia dengan bersedianya kamu menjadi muara kasih sayangku. Ya, itu sudah mampu melegakan perasaanku. Meski lama-lama, perlahan-lahan perasaan ingin dicintai balik semakin menggelayuti.

 

Rasanya semakin sia-sia memberi terus tanpa mendapat kembali. Ingin rasanya marah padamu. Kenapa kamu tega melakukan itu selama ini. Tidak bisakah kamu berubah mencintaiku? Sejahat inikah kamu terhadapku yang telah mati-matian mencintaimu. Meski seharusnya aku tidak perlu berpikir seburuk itu. Bukankah hakikat mencintai adalah memberi tanpa harap kembali? Tak perlulah berharap mendapatkan timbal balik dari seseorang yang dicintai. Mungkin aku memang belum termasuk sebagai pecinta sejati yang bisa ikhlas memberi.

 

Kini aku terjebak dalam permainan yang kamu buat untuk mengujiku; apakah aku akan bertahan mencintaimu, ataukah menyerah memutus hubungan denganmu. Kamu memang seseorang yang paling aku inginkan sedari awal? Namun perlahan berubah menjadi seseorang yang makin menjengkelkan. Sehingga muncul niat untuk menjauhi. Rasanya semua ini semakin membingungkan dan menyedihkan. Membingungkan dalam menentukan pilihan. Menyedihkan melihat diriku yang tak berdaya menghadapi konsekuensi dari ulahku sendiri.

 

Mencintaimu, seharusnya aku terus bertahan dengan pikiran positif saja. Mencintaimu, seharusnya aku terus memperlakukanmu dengan penuh cinta; tanpa prasangka yang belum tentu kebenarannya.

 

  • view 61