Hadirmu dalam hidupku merubah diriku

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 06 Februari 2017
Hadirmu dalam hidupku merubah diriku

Sayang, kebahagiaan itu berada disini, di dalam keputusan kita sendiri, bukan di luar sana, di luar kendali kita. Jadi tidak perlu mencarinya jauh-jauh. Begitulah katamu tempo dulu.

Semua orang memang ingin menemui bahagia; bahagia yang lebih lama dan lebih pasti. Usaha-usaha pun dilakukan dengan berbagai cara. Masing-masing mempunyai cara untuk menemukan kebahagiaannya. Cara yang kita lakukan belum tentu menjadikan orang lain berbahagia. Cara yang kita benci justru bisa menemui kebahagiaan orang lain. Cara yang kita anggap salah bisa jadi merupakan cara terbaik bagi orang lain menemui kebahagiaannya. Setidaknya orang-orang akan menemui kebahagiaannya pada apa-apa yang disukainya.

Derita dan bahagia memang akan selalu mengisi kehidupan siapapun dengan berbagai bentuknya. Datang silih berganti. Kepada siapapun; baik kepada mereka yang bahkan selalu tampil ceria. Pastinya di sudut kehidupan yang lain tersembunyi suatu duka. Sebab begitulah paket kehidupan. Sejak dahulu hingga entah sampai kapan. Kita tidak perlu bersedih dengan teramat, pun tidak perlu memamerkan kesenangan secara berlebihan.

Ku harap kamu senantiasa berbahagia, meskipun derita pasti datang kepadamu. Kini, kamu tidak menganggapku teman pun tak masalah bagiku. Yang jelas bagiku kamu adalah teman terbaikku. Kenapa terbaik? Karena kamu pernah menempati tempat paling istimewa di hatiku; menjadi kekasihku.

Seharusnya aku mampu berubah memperbaiki diri, karena aku yang mengaku mencintaimu dan siap membahagiakanmu. Namun entah mengapa, dalam berjalannya waktu aku justru hanya peduli dengan kebahagiaan milikku sendiri. Menuntutmu dengan ini itu. Memintamu berubah menjadi seperti yang aku ingini. Padahal akulah yang mengaku mencintaimu dengan teramat sangat.

Seperti petani yang mencintai ladang dan tanaman-tanamannya. Begitulah aku dulu mencintaimu. Menginginkanmu tumbuh subur dihidupi hal-hal yang menghidupkanmu. Aku ingin menjagamu, membahagiakanmu. Sebab kamu adalah sumber kebahagiaan bagi banyak orang, termasuk aku. Kamu adalah guru kehidupan. Baik untukku maupun untuk masyarakat banyak yang belajar darimu.

Cara terbaik mencintai seseorang tanpa melukai barangkali adalah dengan cara selalu mendoakannya. Memohon kesuksesan, kesehatan, dan jalan terbaik untuknya. Sebab hakikat mencintai adalah memberi. Memberikan sesuatu tanpa mengharap kembali. Seperti lantunan dzikir dan doa-doa sepanjang hayat; mengalun tanpa hingar-bingar, tanpa harap balasan; meringkuk dalam kesunyian panjang dan sabar.

Rasanya aku memang tidak bisa mengasihani orang lain lebih dari mengasihani diriku sendiri. Rasanya aku memang lebih peduli kepada diriku sendiri dari pada orang lain. Aku masih saja mengkhawatirkan diriku, tanpa mengkhawatirkan orang lain. Nampaknya aku memang masih egois, belum dewasa, masih kekanak-kanakkan. Pantaslah jika kamu memutuskan untuk meninggalkanku.

Perlakuan darimu untukku memang selalu terasa istimewa bagiku. Aku selalu merindukan perlakuan sederhanamu padaku. Seperti caramu mengusap pundakku. Aku masih ingat kita pernah menulis diary di satu buku yang sama; milikku dan milikmu; milik kita berdua. Itu adalah hal termanis yang pernah aku buat bersamamu. Aku bisa mengetahui isi hatimu. Kamu juga bisa mengetahui perasaanku padamu. Terima kasih atas kenangan manis yang pernah kamu berikan kepadaku.

Membuka foto-foto lama bersamamu, memperhatikan wajahmu, mencari sosokmu di kerumunan teman-temanmu dan teman-temanku selalu mengasyikkan. Aku turut sumringah saat menemui guratan senyum manismu. Berharap-harap, berandai-andai; seandainya aku bisa terus membersamaimu. Barangkali kisah kita akan selalu indah. Tapi entahlah, bisa jadi malah tidak. Namun yang jelas aku masih saja berharap suatu saat kita dipersatukan kembali.

Bagaimana mungkin aku bisa tidur nyenyak jika senyummu, tawamu, dan semua gerak-gerikmu terus hadir mengusik malam-malam istirahatku. Bagaimana mungkin aku tidak memimpikanmu, jika dirimu terus muncul di pikiranku. Meski kamu kini tak lagi hadir dalam kenyataan hari-hariku. Namun kamu selalu hadir dalam senggang pikiranku. Kamu memang cahaya pagiku yang begitu cerah menyilaukan mataku, menghangatkan tubuhku, pun menghangatkan perasaanku.
 
Ada yang ingin ku genggam selamanya. Bukan tanganmu, melainkan kenangan bersamamu. Sebab di dalam kenangan itu ada pelajaran berharga yang mampu menjagaku selamanya. Sehingga aku mampu melanjutkan perjalanan hidup dengan lebih bijaksana. Hadirmu dalam kehidupanku adalah untuk melengkapi pemahamanku. Meski tidak melengkapi perasaan hampa di dalam hatiku.

Hadirnya seseorang dalam perjalanan hidup kita memang akan merubah diri kita walau sedikit saja. Hadirmu dalam hidupku adalah karunia. Kamu adalah takdir jalan hidupku. Kamu muncul berdasarkan alur jalan yang telah aku buat dengan berbagai keputusan yang aku ambil di masa lalu. Kamu pun akan turut menjadikan aku di masa depan.

Jika niat membersama untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya, maka pasti dimudahkan. Tetapi jika tidak, maka akan dipersulit. Barangkali begitulah Maha Pengasih mengasihi hambanya yang masih memiliki sepotong hati yang baik.

  • view 127