Setelah berpisah denganmu

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2017
Setelah berpisah denganmu

Keterpurukan demi keterpurukan, ketak-berdayaan demi ketak-berdayaan yang menimpaku, membuatku sadar bahwa aku terlalu mencintaimu.

Aku ingin tertawa tanpa henti. Hingga aku lupa kalau aku sedang tertawa. Jika ada yang tahu cara menjadi bodoh, katakan padaku. Aku ingin jadi bodoh saja. Tak mau memikirkan semua ini. Ku pikir cinta akan selalu membawa bahagia, ternyata cinta membawa petaka.

Kenapa kita tak bisa bersama? Pasti karena diantara kita ada yang tidak menginginkan untuk membersama. Pasti itu kamu. Kamu tak ingin membersamaiku. Karena jelas aku ingin membersamaimu. Kebersamaan memang merupakan tentang dua orang yang saling menginginkan bersama. Jika tak kunjung bersama, berarti salah satunya tidak menginginkan bersama.

Di titik ini, rasanya berkawan dengan semut dan bercinta dengan buku menjadi cukup untuk hidupku. Bergelut dengan pikiran-pikiran liar; terbang kemana pun, hinggap dimana pun. Tenggelam dalam perasaan-perasaan yang campur aduk. Marah, sedih, muak, hancur, bahagia, kesal dan lain-lain yang tak mampu terjelaskan. Kini aku lebih sibuk mengeksplorasi diri. Biarlah aku begini. Biarlah aku sendiri.

Namun, di pusaran cemasku, aku masih saja memikirkanmu. Apakah kamu baik-baik saja? Apakah kamu bahagia di luar sana? Ataukah justru sengsara karena telah menjalani hidup mengingkari hati nurani? Aku dan kamu memang dipaksa berpisah oleh rasionalitas. Padahal bersatunya kita dulu karena hal yang tidak rasional; saling jatuh cinta. Perkara hati memang tidak butuh rasionalitas.

Aku masih mencintaimu. Tapi aku hanya bisa menuangkan harap, menuangkan rindu dan cemas di cangkirku sendiri. Ku aduk perlahan, ku tiup perlahan, begitu seterusnya, hari demi hari. Sampai dingin. Sampai aku lupa apa yang sebenarnya aku lakukan. Setelah berpisah denganmu, aku terus melakukan hal sia-sia.

Cinta memang tak pernah memaksa. Jika memaksa pasti bukan cinta. Mungkin nafsu. Cinta pasti lembut. Jika kasar pasti itu nafsu. Cinta pasti bertahan. Jika pupus itu pasti nafsu sementara. Upaya untuk membahagiakan orang lain memang selalu saja berbenturan dengan kebahagiaan diri sendiri. Namun para pecinta tak akan berhenti. Ia terus memaksakan prinsip: kebahagiaan orang lain adalah kebahagiaannya. Padahal prinsip itu selalu saja terasa kontradiktif.

Terlihat dari pembuktian mereka; orang tua kepada anak-anaknya, kekasih dengan pasangannya, suami kepada istrinya, maupun istri kepada suaminya, guru kepada anak didiknya, prajurit kepada Negaranya. Mereka membuktikan cinta yang tak harap kembali. Bentuk cinta yang lebih tinggi, yakni sebuah pengorbanan.

Pengorbanan adalah pelajaran yang menghidupkan. Menghidupkan perasaan yang layu, meranggas dan mati. Pelajaran yang mampu merawat lebih banyak, menjaga lebih banyak, melindungi lebih banyak dan menghasilkan kebaikan lebih banyak. Pengorbanan memang tercipta dari inti cinta yang paling murni.

Seharusnya aku tak perlu berhenti mencintaimu, jika memang tak ingin berhenti. Seharusnya aku tak membiarkan orang lain membuatku berhenti. Karena akulah yang memulai. Maka aku pulalah yang memutuskan berhenti mencintaimu. Harusnya aku berhenti karena kemauanku.

Aku kira kita tak mungkin membiarkan rak buku kita terisi hanya satu buku? Pasti kita akan menambahkan banyak buku. Begitulah Tuhan. Dia tidak akan membiarkan kita tergeletak sendirian di kala jatuh. Dimana pun pasti akan menurunkan seseorang yang mampu menguatkan langkah, supaya terangkat dari jurang putus asa. Maka seharusnya aku tak perlu ragu berbuat baik. Karena perbuatan baik mampu menyelamatkan di kala genting. Sebentuk solusi dan pertolongan tak terduga.

Hidup memang tidak dibiarkan berjalan mulus sesuai yang kita inginkan. Maka akan selalu datang hal-hal menjengkelkan. Seperti halnya selalu diletakkannya orang-orang menjengkelkan di dekat kita. Dimana pun dan kapan pun. Mungkin kamu diletakkan Tuhan sebagai orang yang memberi bahagia sekaligus menjengkelkan setelahnya. Begitulah berjalannya kehidupan, berisi segala kontradiksi. Semoga aku bisa sabar melalui lintasan sulit ini.

Karena rasa tidak puas maka ada keserakahan. Karena ada keserakahan maka ada dominasi. Karena ada dominasi maka ada penakhlukan. Karena penakhlukan maka ada ketakutan. Karena ketakutan maka ada perlindungan. Karena ada perlindungan maka ada pembunuhan. Karena ada pembunuhan maka ada dendam. Karena ada dendam maka ada perselisihan. Karena ada perselisihan maka ada perundingan.

Karena ada perundingan maka ada kesepakatan. Karena ada kesepakatan maka ada kebebasan. Karena ada kebebasan maka ada perdamaian. Karena ada perdamaian maka ada kenikmatan. Karena kenikmatan maka ada rasa tidak puas. Barangkali perpisahan kita karena rasa tidak puas. Namun aku yakin di balik itu semua selalu ada rasa cinta yang mampu mengembalikan manusia kepada titahnya sebagai makhluk yang mampu berbagi dan mengasihani.

Cinta, benci, takut, khawatir, dendam; semua itu memang telah merubah kita menjadi yang sekarang ini.

  • view 70