Ketika di belakangmu, mendekam rasa

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Februari 2017
Ketika di belakangmu, mendekam rasa

Ketika keinginan untuk melindungimu, untuk selalu berada di dekatmu, terhalang oleh ketidak-mungkinan. Baik jarak maupun akses ke dirimu. Karena letakku yang tidak memungkinkan, maka yang bisa ku lakukan adalah memohon dengan malu-malu kepada langit untuk menurunkan keajaiban asmara.

Semoga dengan entah bagaimana, tiba-tiba kita didekatkan dan dipertemukan dalam kesempatan yang mengesankan; yang mengawali kisah-kisah indah berikutnya. Ataukah aku menyerah saja; bilang padamu jika aku tak bisa bertahan hidup lebih lama tanpamu, tanpa perhatian darimu. Aku membutuhkanmu, membutuhkan kasih sayangmu. Aku butuh perhatian khususmu. Setidaknya itu yang akan membuatku utuh. Karena ku kira separuh jiwaku memang terbawa olehmu. Aku musti bersatu denganmu untuk mengutuhkannya. 

Apakah perasaan yang terlajur menyelonong bisa dibujuk untuk kembali? Dilarang untuk tumbuh dan berkembang? Bukankah jatuh cinta seperti anak kecil yang dengan polosnya menyelonong masuk tanpa permisi, tanpa ketok pintu. Kemudian nangis kalau disuruh balik. Jatuh cinta memang tidak bisa dibatalkan. Jika terlanjur, maka tidak bisa dibujuk untuk tidak jatuh cinta. Mau seberapa keras mengusahakannya.

Pada langit yang cerah, pada udara yang segar, pada pepohonan yang menghijau, ku lukis wajahmu yang berukir senyum. Wanita dengan senyum yang tulus, memang senantiasa mampu menceriakan siapapun yang berselimut kabut dan awan mendung. Setebal apa pun.

Lihatlah ke belakang. Kamu pasti akan melihatku yang selalu setia menunggumu berbalik badan. Cukupkanlah mengejar yang tidak pasti. Lihat aku di belakangmu. Aku adalah kepastian untuk bahagiamu. Aku yang selalu ingin memperjuangkan bahagiamu.

Seharusnya yang terbukti memperjuangkan patut diperjuangkan. Yang dekat lebih baik dari pada yang jauh. Teman dekat lebih jelas dari pada yang baru dikenal. Namun cinta bisa saja mengabaikan semua kewarasan itu. Jatuh cinta datang dengan penuh ketidak-masuk-akalan. Kewarasan tak mampu menghalangi seseorang yang sedang jatuh cinta.

Ingin ku bisikkan kepadamu bahwa aku sedang menunggumu sambil membawakan payung. Supaya kamu tahu kemana harus berteduh saat hujan mendadak mengguyur perjalananmu. Ingin ku bisikkan kepadamu kalau aku akan tetap menjaga cinta untukmu. Meski itu berarti harus menggenggam erat; jangan sampai lepas berhamburan, yang barangkali bisa membuatmu marah dan tak nyaman.

Memilih menunggu dan bersabar tidak selalu sia-sia. Karena hati bisa berubah. Perasaan bisa berubah. Dan perjalanan tak selalu mulus. Barangkali ketika kamu jatuh kemudian sadar, membuatmu berjalan ke arahku, memintaku untuk memayungimu. Di saat itu terjadi; ketika kamu dan aku berada di satu payung yang sama, maka mulai saat itulah cerita indah berikutnya menjadi milik kita berdua.

Aku menyukaimu. Tapi kamu tampak hingar di mataku. Kamu terlalu sempurna bagiku yang serba kurang ini. Aku merasa tak pantas mendapatkanmu. Tapi aku sungguh suka kamu. Tak sehari pun aku tanpa memikirkan kamu. Mengagumi betapa baiknya dirimu. Murah senyum, selalu tampil menarik. Sabar memperlakukan orang lain. Pandai dan berpengaruh. Sementara aku adalah orang yang penuh dengan kekurangan.

Ketika aku berada di dekatmu, yang bisa ku lakukan hanyalah diam. Menikam hatiku dalam-dalam, jangan sampai bergejolak. Tak ingin aku kehilangan kendali atas diriku. Jangan sampai membuat tubuhku salah tingkah. Berada di dekatmu artinya aku harus mewanti-wanti diriku untuk tetap tenang, bersikap biasa-biasa, seperti selayaknya. Agar tak ada yang curiga, terutama kamu.

Aku tak ingin kamu berprasangka yang tidak-tidak atas sikapku. Aku juga tak ingin teman-teman kita memperhatikan aku. Aku tak ingin tertangkap wajahku sedang bersemu merah setiap kali berada di dekatmu. Entah kenapa aku selalu kikuk di dekatmu. Kaget jika ditanya. Gelagapan jika disuruh bicara. Aku memang benci situasi semacam itu. Membuatku mati kutu. Malu. Mau ditaruh dimana mukaku. Di dekatmu, aku menjadi diriku yang bukan diriku yang sebenarnya. Aku menjadi diriku yang ku benci.

Aku selalu ingin menatap wajahmu, barang sebentar saja. Aku mencoba curi-curi pandang. Meski aku harus pura-pura melihat apalah, mengambil apalah, agar kepalaku bisa menoleh barang sedetik ke arahmu. Aku memang ingin memandang wajahmu lebih lama. Aku ingin melihat senyummu, menikmati gurat bahagia di wajahmu. Sungguh itu sangat menyenangkan bagiku.

Sebagai lelaki aku merasa sulit mengungkapkan perasaan dan sering melakukan kesalahan di hadapanmu. Aku tidak sedang biasa-biasa saja, tapi aku berlagak biasa-biasa saja, tenang-tenang saja. Dalam hati aku ingin mengatakan aku sangat bahagia berada di dekatmu, tapi yang terkesan olehmu aku yang cuek, pendiam dan tak peduli. Karena begitulah caraku bersembunyi. Sebab kamu teman dekatku.

Kekhawatiranku yang berlebih karena aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa, justru malah membuatku marah tak jelas padamu. Melarangmu ini itu. Memaksamu mengikuti kemauanku. Begitulah aku sering blunder di dekatmu. Aku tak bisa mengendalikan motorikku. Sulit memendam perasaan yang seharusnya diungkapkan.

Seharusnya ketidak-mampuanku tidak menjadi alasan bersembunyi, namun membuatku berani dan melejit tak terkira. Jika aku bisa sampai seperti mereka yang bermampu, maka bisa dikatakan aku sudah lebih baik. Sebab permulaanku adalah jauh dari dasar ketidak-mampuan. Sementara permulaan mereka pada kemampuan yang jelas ada.

Ada yang jauh di jarak, namun dekat di hati. Ada yang dekat di jarak, jauh di hati. Ada yang diharap-harapkan, tapi tak kunjung diketemukan. Ada yang tidak diharap-harapkan, namun hadir menyentak dada, mendebarkan perasaan. Aku tak pernah merencanakan menyukaimu, namun akhirnya aku menyukaimu. Itu semua menjadi sebuah perputaran hidup yang mau tak mau musti kujalani.

Bagaimana aku bisa terbang sendirian, jika sayap sebelahku ada padamu. Bagaimana aku bisa menjalani sisa hidup sendirian, jika sisa hidupku ada di tanganmu. Kita seharusnya bersatu, menjalani semua berdua.

 

 

Dilihat 75