Memilih Pergi

Memilih Pergi Memilih Pergi

"Mengapa? Mengapa harus begini? Bukankah seharusnya kamu bersama dia? Kenapa kamu malah berada disini? Bukankah kamu tadi bilang akan pergi bersamanya. Kenapa kamu malah ada di sini? Apa yang kamu lakukan?

Aku tak memintamu kesini bukan? Biarkan aku pergi. Biarkan aku pergi dari kenyataan ini. Untuk apa aku bersamamu. Kamu bukan gadis yang aku cari selama ini. Bukan, bukan kamu. Aku mencari yang setia, baik hati, tidak sepertimu. Kamu telah menghancurkan semua ini; semua yang sudah kita bangun bersama. Kamu telah menipuku.

Pergi! Pergi sana dengan priamu itu. Bukankah kamu akan pergi bersamanya? Aku tak ingin mengingatmu. Biarlah kisah itu menjadi angin lalu! Tak perlu kita ungkit-ungkit lagi kenangan itu. Silakan kamu pergi. Biarkan aku pergi. Melanjutkan hidupku di luar sana bersama orang lain yang entah siapa.

Cukup sampai disini. Jangan membuatku semakin membencimu atau membenci diriku sendiri. Aku tak kuat. Aku juga tak sekuat pria-pria umumnya. Aku terlalu jatuh hati kepadamu. Seharusnya kamu tak datang padaku waktu itu. Kalau tahu begini lebih baik aku tak usah mengenalmu. Kamu juga tak perlu mencintaiku sebanyak itu. Seharusnya kita memang tak perlu dipertemukan. Kenapa musti disaat paling indah begini, priamu datang.

Orang penting yang selama ini kamu sembunyikan dariku. Tak pernah kamu ceritakan padaku. Bahkan menyinggungnya pun tidak. Kamu tak pernah bilang kamu masih  memiliki suami. Tahu begini kita tak perlu menjalin hubungan hingga sejauh ini. Kenapa kamu menipuku? Kenapa kamu tega sekali?!

Aku tak penah berniat mengecewakanmu. Kenapa kamu malah menyimpan lara untukku. Ku pikir kamu juga menyayangiku, mencintaiku. Ternyata itu hanya palsu. Kamu menjebakku. Kamu memanfaatkanku. Untuk apa kamu lakukan semua ini? Hah? Untuk menyelamatkan dirimu? Lalu membunuhku?!

Aku tak pernah membayangkan bakal terjadi hal sepeti ini; hal yang mampu mengecewakanku dengan teramat sangat.  Menjatuhkanku ke dasar jurang yang mematikan. Sudah, biarkan aku pergi. Aku tak akan menyiksa diriku sendiri. Biarkan aku mencari suasana yang lebih hening untuk menenangkan hati. Seharusnya kamu tahu betapa besar cintaku padamu.

Sampai-sampai aku tak siap untuk kehilangan dirimu. Seharusnya kamu tahu itu sedari dulu. Lima tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Segala pengorbanan sudah aku lakukan. Sekarang semua itu seperti sia-sia. Aku tak bisa membersamaimu, menikahimu. Kenyataan sudah menjelaskan bahwa kamu tidak bisa bersamaku. Kamu masih milik orang lain. Masih sah milik orang lain.

Kini kamu mau apa lagi menghampiriku? Mau menjelaskan apa lagi? Bukankah semua ini sudah sangat jelas? Tak ada lagi yang perlu kita bahas. Cukup sampai sini. Cukup terakhir kali ini saja pertemuan kita. Tak perlu ada pertemuan lagi. Silakan lanjutkan hidupmu bersama dia. Bersama anak-anakmu. Biarkan aku pergi.

Aku tak bisa menahan rasa sakit di kota ini, dengan melihat tempat-tempat indah kenangan kita. Aku tak kuat dengan semua hal itu. Ku pikir kamu gadis yang baik-baik. Ternyata aku salah. Salah sejak awal. Aku tak pernah menanyakan apakah kamu masih bersuami, bahkan anak. Terlalu berat untukku menanyakan hal itu padamu.

Aku takut kamu tersinggung, aku takut pertanyaan soal itu menyakitimu. Aku tak tega. Aku tak tega menanyakannya. Sejak pertama kali kita bertemu, bagiku kamu bukanlah seorang gadis berbalut kekurangan dan keterbatasan, tapi lebih dari itu. Aku melihat kamu punya hati yang berkilau. Kamu punya potensi yang luar biasa.

Mendekatimu bukan karena aku mengasihani kamu, karena keterbatasan kamu. Tapi karena aku terkesan dan tertarik dengan kepribadianmu. Raut mukamu mampu menjelaskan semuanya; termasuk hatimu. Itulah kenapa selama lima tahun ini kita masih bisa bersama. Tanpa ada gejolak yang berarti. Atau jangan-jangan karena tak ada gejolak itulah, lalu gejolak itu bertumpuk, bersembunyi dan meledak dengan cara menyakitkan seperti ini.

Ku pikir dengan segala kejujuranmu kamu telah mengatakan semuanya padaku. Ternyata tidak. Kamu menyembunyikan bom yang luar biasa dahsyat; hal paling mendasar dari semua ini. Bahkan aku tak bisa membacanya sedari awal atau bahkan di tengah-tengah hubungan kita. Ku pikir aku satu-satunya orang yang bisa mengerti kamu; yang bisa menerjemahkan maksud dari gerak tubuhmu. Ternyata salah. Atau barangkali kamu memang berniat untuk menipuku? Entahlah!”

Aku benar-benar marah besar. Meluapkan segalanya. Tanpa peduli. Tak peduli ditonton orang-orang se-terminal. Para penjaja, pengasong, pengamen, supir, kondektur atau calon penumpang.  Kondektur yang tadinya hendak menarikku masuk ke bus yang hendak berangkat pun turut larut. Mematung, tertegun iba. Aku mengusap mataku yang bengkak. Mencoba mengatur napas.

Di hadapanku, Aina hanya bisa menangis, sesenggukan. Tak mampu lagi menemukan penjelasan yang benar-benar utuh. Ia hanya terus terisak, tergugu. Kelopak matanya bengkak. Besar-besar. Menutupi sipit matanya. Berkali-kali ia mengusap wajah yang terus basah oleh air mata.

Sedari tadi Aina hanya berusaha menghalangi langkahku, menahanku pergi. Sambil menatap sendu, ia bermaksud menyampaikan kata hatinya. Aku tak peduli. Ia memang tak bisa menyela. Tak ada jeda untuk menyampaikannya.  Ia pasti tahu ini masalah besar. Aku memang tak bisa menerima penjelasannya untuk yang kesekian kalinya. Tak menyangka kisahku bersama Aina akan berakhir tragis seperti ini. 

Kini tangannya semakin gemetaran, tak lagi kuat menyangga tubuhnya. Kaki kanan dan tongkat ketiak (kruk) yang menopang tubuhnya pun ikut gemetaran. Kaki sebelah kiri yang buntung hanya menggantung tak berdaya. Mulutnya megap-megap berusaha berucap, tapi sia-sia. Pita suaranya tak lagi bisa bekerja. Sudah bertahun-tahun pita suara itu tak lagi berfungsi. 

Kini aku hanya bisa diam, menatap lekat-lekat mata Aina, sambil berusaha terus mengatur nafas, mengengendalikan diri. Sebab, hanya melalui kontak matalah, pesan Aina bisa tersampaikan padaku. Aku jadi berpikir untuk tidak jadi pergi.

Aha Anwar

Memilih Pergi

Karya Aha Anwar Kategori Cerpen/Novel dipublikasikan 05 Februari 2017
Ringkasan
Mengapa? Mengapa harus begini?
Dilihat 27 Kali