Setelah mengenalmu, aku siap menyambut kematian

Setelah mengenalmu, aku siap menyambut kematian Setelah mengenalmu, aku siap menyambut kematian

Menyedihkan memang. Cerita tentang kehilangan seseorang yang dicintainya selalu menyedihkan. Setiap kita memang selalu menganggap bahwa yang kita cintai, yang kita sukai dan yang kita miliki akan abadi selamanya. Padahal itu salah.

Tak ada yang abadi. Tak ada yang kekal. Semua akan dirampas secara paksa dari genggaman kita. Takdir kebinasaan akan datang. Maka yang mampu menetramkan hati adalah pemahaman bahwa semua ini hanyalah titipan sementara. Setiap kita sejatinya nol, kosong, tak memiliki apa-apa, pun tak punya kuasa apa-apa. Kita datang ke dunia tanpa apa-apa, kembali pun tanpa apa-apa.

Aku masih ingat kala itu, kala kamu keracunan makanan yang ku hadiahkan padamu. Ternyata makanan itu alergimu. Aku khawatir bukan main. Mendadak kamu meronta-ronta memegangi perut, lalu pingsan di hadapanku. Aku histeris menangkapmu, menggoyang-goyangkan tubuhmu, berteriak minta tolong, berharap kamu tidak kenapa-kenapa. Namun kamu tak segera bangun, mulutmu mengeluarkan busa. Dengan segala ketakutan, ku larikan kamu ke rumah sakit. 

Tak henti-hentinya aku menangis menunggumu sadar. Tak sanggup aku menyembunyikan kesedihan yang teramat sangat. Aku takut kehilangan, karena kamu adalah orang teramat ku cintai. Bagaimana aku harus hidup tanpa orang yang ku cintai. Hari itu adalah hari paling sulit dalam sejarah hidupku. Tak menyangka hal paling menyakitkan terjadi. Hampir saja aku membunuhmu. Membayangkan kehilanganmu saja tak pernah. Bagaimana aku harus memaafkan diriku, jika terjadi apa-apa denganmu.

Jika kamu pergi untuk selama-lamanya, maka harapan-harapan yang pernah kita bangun dulu pasti akan hilang. Mimpi-mimpi dan janji-janji kebahagiaan itu pasti musnah. Seseorang yang teramat ku sayangi, teramat ku cintai pergi. Pupus sudah hari-hari indah; duduk bersama, berbincang bersama, jalan-jalan bersama. Mengelilingi taman, memutari kota dan makan makanan kesukaan bersama. Ah, hari-hari indah itu pasti akan berakhir. Aku hancur membayangkannya.

Kematian memang merupakan keniscayaan bagi yang hidup. Sudahkah kita siap menerima kematian? Jika belum apa yang membuat kita belum siap? Apakah karena kehidupan dunia ini sudah terlalu nikmat untuk ditinggalkan. Ataukah karena bekal yang sedang kita kumpulkan belum cukup untuk meraih surga? Ataukah kita merasa belum jadi apa-apa di dunia? Belum bisa bermanfaat banyak, belum meraih cita-cita, dan masih belum melakukan apapun selama di dunia?

Benarkah demikian? Lalu kapan kita akan siap menerima kematian? Apakah nanti setelah tua? Bukankan tua muda bisa dimatikan. Siap tidak siap, jika sudah saatnya pasti dimatikan. Namun masalahnya kita tidak tahu kapan pastinya kita akan dimatikan. Jika saja kita tahu, pasti kita akan mempersiapkannya dengan matang. Karena kita tidak tahu, itulah kenapa kita masih saja bersantai. Seakan kematian akan datang di masa tua kita. Tentunya masih lama, bagi yang masih muda. Itu artinya masih ada waktu yang panjang untuk menikmati dunia. Persiapan kematian bisa disiapkan di hari tua.

Barangkali seperti itu pemikiran kita. Sehingga kini persiapan-persiapan itu bisa kita tangguhkan. Saatnya menikmati dunia. Mencari kenyamanan. Toh jika salah bisa bertaubat di hari tua. Pasti dimaafkan oleh Tuhan. Bukankah Tuhan Maha Pemurah? Seperti yang disampaikan oleh para pemangku agama. Apakah seperti itu pikiran kita? Jika benar, kita memang belum siap menerima kematian. Bukan berarti karena belum siap, maka hari pencabutan nyawa itu akan ditunda. Tidak. Masing-masing kita telah mempunyai hari kematian masing-masing. Yang menjadi rahasia Tuhan. Bahkan malaikat yang dekat dengan Tuhan pun tidak tahu.

Setelah sekian lama mencintainya, mengenalnya, kemudian berpisah dengannya, tak terikat dengannya. Akhirnya aku siap menerima kematian. Aku tak lagi khawatir tentang kematian. Aku telah memahami banyak hal melalui tragedi-tragedi bersamanya. Ternyata kita bisa dengan ikhlas menerima kematian, jika kita benar-benar ikhlas menerima kehidupan. Sadar bahwa kita hidup berarti harus juga sadar bahwa kita pasti mati. Keikhlasan itu tumbuh bersama kesadaran itu.

Mewujud sebuah penerimaan, bahwa badan, jiwa dan nyawa yang membentuk kita ini bukan milik kita, melainkan milik Tuhan. Zat yang antah berantah, yang kita yakini keberadaannya dan memiliki kekuatan untuk mengambil kembali kita. Dikembalikan menjadi tiada. Dari tiada, ada, lalu ditiadakan kembali.

Demi menyambut kematian kita musti kembali melaksanakan peran manusia yang sebenarnya. Yakni menjadi manfaat bagi semesta alam. Memberikan kebaikan-kebaikan sebanyak mungkin. Menyampaikan ilmu, menyampaikan kebenaran dan memberi bantuan kepada yang papa. Jika hal-hal itu yang selama ini kita kerjakan, berarti kita sedang dan telah mempersiapkan kematian dengan baik.

Artinya kita sedang dan telah menyusun surga kita yang hendak kita tinggali. Itupun jika benar ada surga di alam sana. Kalaupun tidak ada, kita telah membuatkan surga-surga di dunia untuk orang-orang yang menerima manfaat dari apa yang telah kita berikan selama di dunia. Selamat membangun surga-surga. Terima kasih untuk kamu yang telah memberiku banyak pelajaran.

Untukmu yang pernah mengenalku, maafkan atas segala kesalahanku. Aku tak pernah bermaksud menyakiti. Kalau pun ada kata-kataku atau perbuatanku yang menyinggung perasaanmu, itu sungguh tidak aku sengaja. Pasti itu hanya becanda. Kalau pun tidak, berarti itu adalah karena ketidak-tahuanku. Maafkan.

Untuk yang pernah mengenalku, maafkan jika aku tidak bisa mengerti kamu. Terkadang aku memang bersikap tidak peduli. Itu karena aku tidak ingin menyampuri urusanmu. Aku takut merecoki urusanmu, yang bisa jadi aku juga tidak tahu solusinya. Justru menambah masalah. Maafkan segala kekuranganku. Aku hanyalah manusia biasa. Tak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Mengenalku, semoga bermanfaat bagi kamu. Bagiku, mengenalmu adalah anugerah. Hanya di jalan inilah aku bisa mengenalmu.

Semoga perkenalan kita membawa berkah dan hikmah. Guna menapaki kehidupan di masa-masa berikutnya. Dimana pun, bersama siapa pun, dan dalam keadaan apa pun.

Aha Anwar

Setelah mengenalmu, aku siap menyambut kematian

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 04 Februari 2017
Ringkasan
Menyedihkan memang. Cerita tentang kehilangan seseorang yang dicintainya selalu menyedihkan. Setiap kita memang selalu menganggap bahwa yang kita cintai, yang kita sukai dan yang kita miliki akan abadi selamanya. Padahal itu salah.
Dilihat 34 Kali