Aku tanpamu semakin frustrasi, acuh, pesimis dan tak percaya diri

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Februari 2017
Aku tanpamu semakin frustrasi, acuh, pesimis dan tak percaya diri

Penderitaan adalah benturan antara yang diinginkan dengan yang tidak diinginkan.

Membebaskan diri dari penderitaan adalah dengan cara mengubah yang tidak diinginkan menjadi yang diinginkan. Mengubah yang dihindari menjadi yang dicari. Mengubah yang ditolak menjadi yang diingini. Penderitaan karena sakit akan berubah menjadi bukan penderitaan, jika memahami sakit sebagai anugerah yang musti dinikmati dan disyukuri. Penderitaan karena tak berpunya, bisa berubah menjadi bukan penderitaan, jika ketidak-punyaan diubah menjadi hal yang diinginkan. Agar mampu fokus dan senantiasa dekat dengan jalan kebenaran. Terhindar dari dosa, maksiat, kesombongan, angkuh dan ingkar.

Namun penderitaan berpisah denganmu tak kunjung membuatku sembuh seperti sedia kala. Aku masih saja mengingat kenangan masa lalu. Waktu aku duduk di kursimu, dua depa di hadapanmu. Kita terdiam lama. Aku bingung mengawali dari mana. Ku lirik wajahmu sepintas lalu kembali memandangi tembok dengan pikiran yang bergumul bingung.

Bibirmu tak bergerak. Tak ada tanda-tanda kau akan memulai percakapan. Aku jadi membeku. Ditikam sunyi yang menikam hati. Kata perpisahan yang pernah kita sepakati empat bulan yang lalu seperti angin pengkhianatan. Aku kembali ke rumahmu. Kau masih membukakan pintu. Meski mungkin terpaksa. Aku tahu ini tidak benar. Ini adalah pelanggaran. Ini duri.

Setelah hening berkepanjangan akhirnya kau pun berucap: Aku sudah sama orang lain, kamu tak perlu lagi datang. Begitu kalimat pembuka sekaligus penutup darimu. Aku memandang wajahmu tak menyangka. Tak percaya kalimat itu akan terucap. Meski aku sudah pernah berusaha menduganya kalau kamu sudah memiliki pengganti. Namun tetap saja itu terdengar seperti sambaran bledek.

Gugur sudah semua harapan-harapan, mimpi-mimpi yang ingin ku bangun kembali bersamamu. Luruh sudah kalimat demi kalimat yang ku persiapkan untuk melancarkan pertemuan ini. Runtuh sudah bangunan diriku. Sementara setelah itu pandanganmu jauh menembus ruang dan waktu. Memandang ke luar pintu. Dengan tak sedikit pun perlu melihatku. Aku kalah. Menghembuskan nafas panjang. Air mata berusaha ku bendung. Aku ingin menangis.

Ya, aku ingin menangis di hadapanmu. Menumpahkan semuanya. Namun ku tahan sekuat tenaga. Aku tak boleh menangis dan tampak lemah di hadapanmu. Meski sebenarnya aku sudah menangis dalam hati. Tak terhitung sudah tangis merindukanmu sejauh ini. Aku kalah.

Purnama berganti. Aku masih sering tertawa seperti gila. Pikiranku teraduk realita yang benar-benar lucu. Tak habis pikir kehidupan ini begitu lucu. Tak realistis. Kadang nyata, saking nyatanya, menjadi seperti jauh dari yang terpikirkan. Lucu memang. Aku tertawa seperti gila. Melepaskan beban. Perasaanku terodak-aduk. Terombang-ambing. Lalu aku bertanya kepada apa saja yang ada di sekitarku.

Bagaimana sesungguhnya hidup? Benarkah seperti ini? Seperti yang dilakoni kebanyakan orang? Atau seperti yang dilakoni sedikit orang? Ah, pertanyaan-pertanyaan semacam itu selalu saja ku tanyakan. Hanya akan membuatku gila. Terlebih dianggap gila oleh mereka yang mengaku waras. Aku tertawa seperti gila. Atau jangan-jangan aku sudah gila?! Gila karena putus cinta.

Selain menyaksikan penghianatan, aku juga sering menghianati diri; dengan menghianati pikir yang ku sepakati, menghianati rencana yang telah ku susun, menghianati komitmen yang telah aku tancapkan. Rasa malas sering menghianati rencana. Keragu-raguan menghianati komitmen. Ketakutan-ketakutan menghianati pikiran-pikiran positif. Seakan aku tak lebih hina dari manusia yang dihinakan lingkungan. Aku dihinakan oleh diriku sendiri.

Penghianat memang hina. Namun ada beberapa hal yang tak bisa ku hianati. Diantaranya adalah usaha menepati janji kepada orang lain. Berusaha bertanggung-jawab dengan tugas yang ku sanggupi. Namun tidak dengan janji yang pernah ku buat denganmu. Juga tidak dengan tanggung-jawabku padamu. Sebab kita sudah selesai.

Aku tak mau mengecewakan orang lain. Aku tak mau orang hilang kepercayaan kepadaku. Meskipun kepada diriku sendiri aku kehilangan kepercayaan. Kepercayaan diri itu terkikis oleh penghianatan-penghianatan diri sendiri. Apakah ini bagian dari tragedi menuju dewasa? Bahwa wajar bila keraguan demi keraguan, kegalauan demi kegalauan datang bertubi-tubi? Hingga mendatangkan penghianatan yang bertubi-tubi pula?

Ah, rasanya aku masih belum menemukan siapa diriku sebenarnya. Kemana arah masa depan yang akan aku tuju. Semua jadi tak jelas di mata rencanaku. Semua terasa menggundahkan. Apalagi ditambah dengan benturan antara mimpi dan realita. Ini sangat membuatku stres tingkat tinggi. Menemui kenyataan yang tidak sesuai dengan harapan dan idealisme itu memang membuat kecewa.

Diriku selalu saja seperti itu, bertentangan. Satu bilang begitu, satunya lagi bilang hal lain. Selalu begitu, bertentangan. Mempersoalkan segala kontradiksi. Terlebih menyalahkan satu dengan yang lain, karena berlebihan dalam berekspektasi. Jatuhnya kecewa juga. Karena diri yang satu tak mau digerakkan. Serba malas dan banyak alasan. Aku masih belum menemukan jalan penyelesaian dari penghianatan demi penghianatan yang ku lakukan. Semoga embun-embun dari langit bisa menyibak segala debu yang berkerak di ubun-ubunku.

Sepertinya anak muda memang dikurung malam, dijebak siang. Hidup di malam hari, mati di siang hari. Mengagungi malam, mengingkari siang. Malam adalah kekasih. Sunyi adalah sahabat. Dalam hening-hening berdialog dengan bayangannya. Berontak menjawab kenyataan. Mengumpat melihat kebobrokan. Membenci penghianatan, kemunafikan, pencitraan dan genggap gempita arus permukaan. Semua nampak memuakkan. Penuh kebohongan.

Dunia tampak jelas sebagai panggung sandiwara. Anak muda menyusuri jalan gelap berliku. Berusaha mencari kebenaran dan jalan terang. Menyelusup di ruang-ruang fatamorgana. Semu, kelam, tak ada jalan lurus. Memuja idealisme seperti memakan bangkai. Pahit. Busuk ada dimana-mana. Anak muda tertawa. Bukan bangga. Tapi muak. Membuatnya hampir gila. Ia terkurung malam, terjebak siang. Di jerat malam, ditelikung siang. Dijanjikan harapan, dihianati kenyataan.

Benarkah hayalan-hayalan akan menjadi kenyataan di masa depan? Benarkan ada masa kejayaan di masa depan? Masa dimana segala penderitaan masa lampau terbayar dengan segala kemudahan dan keberlimpahan? Benarkah itu semua? Tidakkah semuanya hanya bualan belaka? Benarkah mimpi akan jadi kenyataan? Cita-cita akan tercapai?

Pertanyaan demi pertanyaan seperti ini terus melucuti semangat dan keyakinanku. Perjalanan menggapai mimpi memang tidak bisa mudah-mudah saja. Menjaga keyakinan-keyakinan seperti membungkus angin dalam karung. Begitulah aku tanpamu. Semakin frustrasi, acuh, pesimis dan tak percaya diri.

 

  • view 76