Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku

Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku

Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku. Kegilaanku berikutnya adalah mengharapkanmu, meski jelas kamu tak mengharapkanku. Puncak dari segala kegilaanku adalah terus memikirkanmu, meski kau sudah jauh pergi.

Jatuh cinta memang tak masuk akal. Perasaan yang satu itu bisa memorak-porandakan akal sehat, rutinitas dan keteraturan. Membuncahkan semangat. Meledakkan gairah. Begitulah aku yang pernah jatuh cinta padamu. Bahkan hingga sekarang. Hingga perasaan itu berkarat dan ditumbuhi rumput liar, aku masih belum menemukan alasan kenapa aku jatuh cinta padamu. Sebegitukah akal sehat tak mampu mencari jawaban pastinya?

Setelah semua kisah tentang kebersamaan berakhir, kemana lagi aku harus melabuhkan rindu? Kepadamu hanya menambah malu. Perpisahan memang pilihan yang sulit. Aku takut merasakan hampa tanpamu. Namun ketika perselisihan diantara kita kala itu memuncak, rasanya tak ada lagi yang bisa diperbaiki.

Kita sama-sama memiliki pembenar terhadap pilihan berpisah. Nampaknya ada kebosanan yang diam-diam menyelusup masuk ke relung perasaan. Yang menjadikan kebersamaan kita terasa menjengkelkan. Aku dan kamu memaksakan diri untuk saling bertemu, saling menghubungi. Namun tidak lagi dengan perasaan, tidak lagi dengan ketulusan dan kesenangan.

Kita hanya tidak ingin menghianati komitmen yang kita bangun di awal; bahwa kita akan senantiasa memberikan kabar dan saling membahagiakan. Namun bergulirnya waktu, merubah segalanya. Sikap tak lagi seperti dulu. Banyak setuju yang kita paksakan. Menjadi kata terserah dan ikut saja. Banyak hal yang kita lakukan dengan keterpaksaan dan penghianatan dalam hati.

Kita sudah tidak saling menertariki ide dan gagasan yang masing-masing kita usulkan. Menghindari pembicaraan, malas membalas pesan dan panggilan. Kita sebenarnya tahu dengan segala perubahan yang terjadi; hubungan kita tak senyaman seperti dulu lagi.

Satu musim kita berkontemplasi. Merenggangkan diri, membatasi pertemuan. Hingga keputusan itu kita buat dengan baik-baik, sedewasa mungkin. Tak ada khawatir, tak ada tangis. Kita menerima dengan lapang dan ucapan terima kasih. Karena telah bersedia mengisi kisah perjalanan hidup dengan sesuatu yang berharga. Keputusan berpisah menjadi hal yang terbaik saat itu.

Namun saat ini, setelah satu musim berganti, aku bingung kemana harus melabuhkan rinduku padamu. Kamu telah menjadi tempat yang tak mungkin ku sandari. Namun kamu satu-satunya pelabuhan rinduku. Maka ku putuskan untuk membunuh rindu yang tak tahu malu ini.

Dulu ketika menggandeng tanganmu kemana-mana, ku pikir cinta akan membuat kita bahagia selamanya. Setelah perpisahan kita, saat aku tak lagi bertemu denganmu lagi, aku menyadari cinta tak bisa memberi bahagia selamanya. Cinta tanpa pemahaman yang lebih dewasa hanya akan menyakiti satu diantara kita.

Dulu, saat kamu katakan padaku akan selalu ada di sisiku apapun yang bakal terjadi, aku percaya bahwa kamu tercipta hanya untukku; untuk kebahagiaanku. Setelah perpisahan kita, aku mengerti bahwa kamu diturunkan untuk menyakitiku. Biar aku tahu rasa sakit hati. Kemudian biar aku belajar dari rasa sakit itu dan belajar dari masa lalu yang ku sikapi dengan pemikiran kekanak-kanakan.

Hanya berpikir bahwa kebahagiaan bersamamu akan berjalan lancar tanpa hambatan. Tidak menyiapkan diri bagi halangan, rintangan dan godaan yang bakal menghadang. Hingga perbedaan kecil mampu membuat kita berselisih. Kesalah-pahaman membuat hubungan berantakan. Dan akhirnya, ketidak-percayaan memisahkan kita.

Yang dulu aku percaya akan berlangsung abadi selamanya, nyatanya sebaliknya. Kini aku memahami bahwa seiring berjalannya waktu semua bisa berubah. Kepercayaan, komitmen, prinsip, apalagi perasaan. Maka akan ku coba untuk lebih memahami perubahan.

Akhirnya rindu semakin menjauhkan, tak lagi mendekatkan. Setelah kisah yang telah usai, musti butuh keberanian untuk melanjutkan hidup. Terjun bebas dari puncak tebing, pecah belah menghantam batu, tak menghentikan air yang mengalir dengan daya yang kuat. Cerita kebersamaan yang telah usai harus ditutup dengan salam kerelaan dan dimulai dengan alenea yang lebih mendewasa.

Pada rentang waktu kita pernah membersama. Dimulai dari titik pertemuan hingga titik perpisahan. Disanalah rentang waktu itu. Bagaimanapun ceritanya kita telah menjalaninya. Rentang waktu adalah saksi. Dimana kita melukis langit warna-warni. Menanam bibit-bibit pelajaran. Semoga saja tumbuh dan rindang lalu berbuah lebat. Agar dapat dipetik oleh siapa saja di rentang berikutnya.

Rentang waktu yang berlalu biarlah berlalu sebagaimana mestinya. Rentang berikutnya mari diisi dengan semangat baru, gairah baru, pemahaman baru dalam ruang dan suasana baru. Sebab dalam kebaruanlah harapan demi harapan kembali tumbuh subur.

Aha Anwar

Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku

Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian dipublikasikan 04 Februari 2017
Ringkasan
Kegilaanku adalah jatuh cinta padamu, meski kau tak pernah jatuh cinta padaku. Kegilaanku berikutnya adalah mengharapkanmu, meski jelas kamu tak mengharapkanku. Puncak dari segala kegilaanku adalah terus memikirkanmu, meski kau sudah jauh pergi.
Dilihat 27 Kali