Tentang pelukan yang tak pernah sampai

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2017
Tentang pelukan yang tak pernah sampai

Setelah semua kisah berlalu, aku jadi tahu; kamu adalah nyata bagiku, tapi aku fiktif bagimu. Perasaan sukaku padamu adalah nyata, tapi sukamu padaku adalah fiktif. Rinduku padamu adalah nyata, rindumu padaku adalah fiktif. Kebersamaan kita, cerita indah kita, asmara kita adalah kisah paling fiktif yang ada dalam imajinasiku.

Ketika hari mendung, aku selalu bersiap menampung rindu. Karena hujan akan menurunkan kenangan-kenangan indah masa lalu. Hal itu yang membuatku menyukai hujan. Sebab hujan selalu bisa menghadirkan kenangan-kenangan bahagia bersamamu.

Hujan tak pernah salah, mohon jangan disalahkan. Hujan tak pernah bermaksud menyakiti, mohon jangan jauhi. Hujan tak pernah mengancam, mohon jangan takuti. Hujan adalah wujud keikhlasan dan kebesaran hati. Ia turun kepada apa saja. Tak memandang apa pun dan siapa pun.

Kaya atau pun miskin. Jahat atau pun baik. Penuh dosa atau pun penuh pahala. Hujan turun tanpa pandang apa pun. Ia memberi rahmat untuk semuanya. Turun dengan nyanyian kegembiraan. Kegembiraan dalam kebersamaan. Begitulah aku memaknai hujan setelah perpisahan kita.

Aku selalu berdiri lama menunggu reda. Rinduku padamu memang tak kunjung reda. Kenangan demi kenangan meluncur deras, menghujam hatiku yang pilu. Tanpa bisa ku hindari. Aku hanya bisa menunggumu dan menunggu reda. Hingga tampias menyadarkanku; menunggu menjadi hal sia-sia. Membuatku menerobos basah. Menikmati gigil yang melegakan. Nampaknya basah adalah proses dileburnya dosa, diturunkannya hidayah, dikembalikannya kepada jalan yang lurus. Itulah mengapa aku menjadi begitu kedinginan ketika basah. Akal sehatku kembali jernih.

Untukmu yang tak pernah bertemu surat-surat yang ku tulis sejak pertama mengagumimu, hingga sekarang dan entah sampai kapan lagi, biarlah seperti itu. Untukmu yang tak pernah bertemu dengan mimpi-mimpi membahagiakanmu, hidup harmonis bersamamu dan setia membersamaimu, biarlah seperti itu. Untukmu yang terlalu jauh dariku, yang mustahil untuk ku gapai, biarlah kamu tetap jauh dan tak pernah bertemu dengan surat-suratku, mimpi-mimpiku dan termasuk ragaku. Biarlah tetap seperti itu. Silakan menjauh pergi.

Tentang pelukan yang tak pernah sampai. Tentang tanya yang tak pernah terucap. Tentang rasa yang berkutat di satu tempat. Tentang perasaan suka yang diselimuti takut. Tentang rindu yang membebani. Biarlah aku sendiri yang menyimpannya. Kamu tak perlu memahami keanehan yang terjadi padaku. Biarlah semua itu menjadi kisah milikku; yang akan akan ku baca sendiri dalam kesendirian dan kesunyianku.

Memang mustahil menemukan dua perasaan yang sama persis dari dua orang yang berbeda. Meski dipaksakan seperti apapun. Maka penerimaan atas tidak penuhnya perasaan dari pihak lainnya menjadi penting. Yang hilang biarlah hilang, yang pergi biarlah pergi. Hidup selalu lebih berat untuk menata diri dan bangkit lagi.

Setelah mengantongi persiapan yang matang; yakni persiapan tentang kedewasaan. Dengan pengertian bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan, terutama tentang perasaan. Sukaku tak bisa memaksa sukamu, sukamu juga tak bisa memaksa sukaku. Silakan melanjutkan hidup. Aku juga akan melanjutkan hidupku dengan segenap kelapangan hati. Semoga hidupmu di luar sana selalu menyenangkan.

 

  • view 106