Hujan Terakhir

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2017
Hujan Terakhir

Di depan pintumu aku berdiri dengan setumpuk harapan. Berat. Ratusan senja ku lalui. Hingga malam ini. Musim ke tujuh. Aku menggigil bukan main. Nafasku sesak. Jantungku hampir pecah. Diguyur hujan berminggu-minggu. Akankah ini menjadi hujan terakhir? Segera ku dapati jawaban itu.

Sore itu di atas jembatan, setelah hujan reda. Kami berdiri berdua saja memegangi besi pembatas, sambil mengamati aliran air di bawah sana. Tak ada yang berani meraih atau memegangi tangan diantara kami. Meski sedari tadi, itu yang ku inginkan. Mungkin dia juga. Terlihat dari lirikan matanya ke arah tangan kiriku.

Mengamati jari-jari lentiknya memang menyenangkan. Apalagi jika bisa menggenggamnya erat, memasukkan jari-jariku ke jari-jarinya. Lalu membicarakan apa saja, sambil bergandengan tangan. Pasti sangat membahagiakan. Tapi tunggu dulu. Ada yang berbeda. Ada sesuatu yang tidak seperti biasanya. Astaga, apa aku tidak salah lihat? Di jari manis Lisa melingkar sebuah cincin. Aku baru sadar hari ini. Di pertemuan terakhir, lima hari lalu jelas belum ada.

“Apa maksudnya Lis?”

“Itu yang ingin aku jelaskan kepadamu sore ini Zul. Kamu pasti tahu maksudnya.”

“Tidak. Seharusnya tidak begini. Bukankah kamu akan menolaknya? Sudah tidak zamannya lagi kan jodoh-jodohan seperti itu!”

“Harusnya memang begitu Zul. Seperti yang pernah kita diskusikan waktu kemarin."

"Terus kenapa jadi begini?"

"Tak aku sangka jika yang dijodohkan orang tuaku adalah pria yang pernah ku jatuh cintai untuk pertama kalinya dulu. Cinta pertamaku. Belasan tahun aku tidak berjumpa dengannya. Aku pikir dia sudah beristri dan tinggal di luar pulau. Ternyata dia belum menikah karena sudah dijodohkan orang tuanya. Dan perjodohan itu ternyata adalah denganku Zul."

Aku membeku. Tak habis pikir, hal semacam ini bakal terjadi.

"Orang tua kami jauh-jauh hari sudah sepakat menungguku matang. Inilah saat yang ditunggu itu tiba. Maafkan aku Zul. Kamu pasti bisa menerima hal ini. Kamu sungguh pria yang baik, dengan pemahaman yang amat baik. Dan aku yakin kamu sangat mencintai aku. Kamu pasti bisa merelakan aku. Aku juga harus merelakan kamu. Bukan demi cinta pertamaku, tapi demi orang tuaku yang telah mempersiapkan ini semua.”

Lisa menangis di hadapanku. Aku juga ingin menangis. Tak menyangka akhirnya akan seperti ini. Aku sangat mencintai Lisa. Aku tahu Lisa juga sangat mencintaiku. Kini, jawaban dariku sudah sangat jelas sekali.

Senja itu berlalu pilu.

Aku berdiri di tengah hujan. Menengadahkan muka ke langit. Membiarkan ribuan peluru hujan menembusi kulit hingga jantungku. Aku pasrah di bawah kuasa-Nya. Aku mengakui kelemahanku sebagai manusia biasa. Aku tak bisa membendung jalan cerita-Nya. Sekuat apa pun aku mengintervensi. Sungguh itu semua adalah kuasa-Nya. Seperti peluru-peluru dari langit ini; tak bisa sedikit pun ku bendung walau hanya sedetik saja. Mengucur sesuai kehendak langit. Menghujani bumi.

Begitu pula dengan segala harapan yang ku bangun dan ku ikatkan pada selendangnya. Selendang penuh warna, penuh cinta dan gelora asmara. Ah, harapan tinggal harapan. Keinginan tak berujung indah. Dia berlabuh bersama orang lain. Aku kalah. Aku hanya bisa menengadah ke langit memasrahkan cerita. Entah langit peduli atau tidak, yang jelas kini langit tak henti-hentinya menghujani bumi.

Apakah cinta bisa dipaksakan? Apakah tulus bisa dipaksakan? Apakah penerimaan bisa dipaksakan? Aku rasa tidak. Itulah kenapa aku menerima jika cintaku tertolak. Termasuk saat cintanya ku tolak tempo dulu. Itu karena masing-masing kita memahami bahwa cinta tak perlu dipaksakan. Asal masing-masing kita terus berbuat baik dan melakukan yang terbaik. Bisa jadi kita bisa saling jatuh cinta.

Bukankah hati bisa berubah dalam berjalannya waktu dan seiring perubahan pengalaman. Pada waktu itulah akhirnya aku jatuh hati padanya, meski awalnya aku tak menerimanya. Lantas jatuh hingga jurang yang dalam. Hingga perubahan hati itu kembali terjadi.

Seperti bunga kembang api, begitulah keindahan hidup. Seketika terbentuk, seketika itu pula musnah. Seperti itu pula semua kenyamanan hidup; begitu singkatnya. Tak bisa kita rengkuh dalam waktu yang lama. Segera tergantikan penderitaan dan kekecewaan. Apakah semua yang hadir di kehidupan ini seperti bunga kembang api? Seketika hadir, seketika musnah?

Aku berpikir untuk membencinya. Tapi tidak bisa ku lakukan. Bukankah orang yang tidak mau memaafkan orang lain atas kesalahan masa lalunya, berarti sedang melakukan kejahatan baru. Sebab yang dibencinya itu jelas bukan orang dengan kepribadian yang sama seperti dulu lagi. Karena semua orang sejatinya terus terlahir baru setiap saatnya. Melalui bertambahnya pengalaman, pengetahuan dan kontemplasinya.

Maka orang yang ku lihat sekarang adalah pribadi yang baru saja lahir; murni, tanpa dosa. Pribadi yang melakukan kesalahan kepada kita tempo kemarin sudah tertinggal jauh di belakang. Mungkin sudah hilang ditelan masa. Maka jika aku masih membenci seseorang atas kesalahan masa lalunya itu sama seperti membenci bayi yang tak berdosa. Itu artinya malah aku sendiri yang berbuat jahat kepada orang lain.

Maka ku maafkan siapa pun yang berbuat salah kepadaku. Tak perlu ku tunda-tunda. Apalagi menyimpannya dalam bentuk dendam dan benci. Itu hanya membebani hidup saja. Semakin bertambah hari, seharusnya aku semakin menjadi pribadi yang lebih pemaaf. Yang tidak mempan oleh kekecewaan sebentuk dan sebesar apa pun juga.

Satu musim berlalu. Di tengah ladang jagung yang tertutup kabut, aku melihat wajahnya. Hatiku bergetar, benarkah itu dia? Semilir angin pagi mengusap wajahku perlahan. Bulir-bulir embun ikut terbawa, menambah dingin kulit leher dan telapak tangan. Ku usap wajahku, ku kucek kelopak mataku. Mendadak dia hilang. Dia tidak ada. Ah, dia memang sudah tiada. Yang ada hanya kabut putih yang mengukung bukit-bukit jagung. Aku harus sadar, sudah tak ada dia di sisi.

Mencintai ya mencintai. Dengan segenap kemurniannya. Tak mengharap balasan dalam bentuk apa pun. Tak ada kekecewaan dalam mencintai secara tulus. Mencintai adalah suatu bentuk kekuatan suci. Dalam bingkai kemanusiaan, sudah seharusnya kita mencintai semua makhluk. Sesama manusia, hewan, tumbuhan, benda mati, semuanya. Bahkan jin, syetan dan iblis sekalipun.

Meski bukan berarti mencintai lantas ikut serta berbuat cela dan terlarang. Mencintai penjahat bukan berarti turut ikut atau mencontoh perbuatan jahatnya. Mencintai berarti memperlakukannya dengan penuh kasih sayang, penuh penghormatan, penuh penghargaan. Memperlakukannya secara adil, menghargai hak-haknya, menjaganya, tidak mengancam keberadaannya.

Dengan cinta yang tulus kepada semua makhluk, kita bisa hidup dimana pun, kapan pun dan dalam keadaan apa pun. Semua makhluk membutuhkan perlakuan penuh cinta. Maka kini ku ubah paradigma cintaku, untuk sesuatu hal yang lebih luas. Yakni mencintai kemanusiaan.

Terima kasih hujan. Kau telah mengajarkanku tentang mengairi yang rendah. Membasuh segala benda yang kering dengan pemahaman tentang kasih dan kemanusiaan. Memberi semangat dan tenaga baru bagi bibit-bibit yang telah lama layu. Membersihkan lorong-lorong kotor yang bertumpuk iri, dengki, dan kebencian. Mengalir ke tempat-tempat rendah. Dimana saudara-saudara terpinggirkan berada. Menuju persatuan yang luas. Di sungai-sungai kebersamaan dan di samudera keberagaman.

Kebahagiaan dalam kebersamaan memang mampu memangkas waktu. Tahu-tahu sudah berjalan jauh dan berlangsung tak terasa. Perpisahan menyadarkan bahwa kebersamaan memang musti diakhiri. Ada hal lain yang musti digarap secara mandiri. Seperti mencintai hal yang lebih luas pengaruhnya; mencintai kemanusiaan. Itulah hikmah dari perpisahan kita.

 

 

  • view 105