Mengikhlaskan Pergi

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2017
Mengikhlaskan Pergi

Kamu tahu Sayang, aku munafik; bilang ikhlas merelakan kamu pergi bersama seseorang yang lain, bilang tidak apa-apa, itu bohong. Apakah mungkin orang merelakan separuh nyawanya pergi. Akan bagaimana hidupnya jika hanya dengan separuh nyawa. Hidupnya pasti lumpuh, tak bergairah, tak berpengharapan; hidup dalam sekarat. Begitulah aku tanpamu.

Tak ada hubungan tanpa perbedaan. Tak ada hubungan tanpa perselisihan. Tak ada hubungan tanpa pertengkaran. Seharusnya, semua itu adalah alasan untuk lebih mengerti, memahami, mendalami dan merekatkan hubungan. Bukannya malah menjadi awal untuk berpisah seperti ini.

Kini, perasaan yang ku rasa tercipta dari upaya kita untuk saling menjauh dan menghindari. Karena prasangka bahwa aku tak layak membersamaimu. Seperti tumbuh-tumbuhan merayakan hujan, seperti anak-anak merayakan libur, seperti itu pulalah aku merayakan kesendirian dan kesunyianku kini. 

Dari awal kamu pasti mengharapkan dicintai sebagaimana yang kamu mau. Itulah kenapa kamu kecewa. Karena yang mencintai kamu bukanlah dirimu, tapi aku; orang yang bukan kamu. Tentulah caraku berbeda dengan caramu. Kamu seharusnya bisa menerima kenyataan itu, agar tidak kecewa. Aku sudah berusaha sepenuh usaha untuk memperlakukanmu dengan sempurna.

Saat kita mencintai seseorang, kita memang berubah menjadi orang yang lemah. Sekeranjang kekhawatiran senantiasa kita jinjing kemana-mana. Namun, saat kita bisa menerima segala kemungkinan buruk, maka mulai saat itulah kita berubah menjadi orang yang kuat. Harusnya hubungan kita menguat karena perbedaan. Bukannya terlepas seperti ini.

Musim demi musim pun berganti. Angin musim penghujan yang panjang membuat kesendirianku semakin mengerikan. Aku serasa mati beku tanpa pelukan hangat darimu seperti dulu. Tetes demi tetes sisa hujan yang jatuh ke selasar, mengingatkanku pada sisa-sisa doa yang terus menetes di rentang putus asa. Berharap usaha dan doa yang tak terkira itu menjadikan nyata; yakni kamu kembali ke pelukanku. Bukankah usaha yang tiada henti, yang dibalut doa yang tiada habis, mampu menurunkan keajaiban pada ambang putus asa? Tapi sepertinya tidak untuk hal ini.

Perasaan bisa mempengaruhi keputusan. Pengalaman juga mempengaruhi keputusan. Pengetahuan mempengaruhi keputusan. Kemudian keputusan demi keputusan merangkai jalan hidup. Aku tak pernah tahu bagaimana jalan hidupku ke depan. Aku hanya ingin menikmati hari ini dengan seperti apa yang aku ingini. Biarlah aku menikmati kesendirianku yang mencekam ini. Silahkan kamu menikmati kehidupan barumu.

Di pekarangan belakang rumah, di antara ranting-ranting patah, dulu kita pernah berikrar; akan saling memaafkan, apa pun masalah yang akan terjadi; apa pun pertengkaran yang akan pecah; apa pun perlisihan yang akan hadir dalam hubungan kita nanti. Jika kita tak kunjung saling memaafkan, maka kita akan sama-sama datang dan berdiri di pekarangan belakang rumah, di antara ranting-ranting patah. Begitulah kita memaafkan dalam diam, dalam teduhnya rindang. Namun tak pernah sekali pun kamu datang. Meski aku telah belasan kali berdiri disana.

Jejak yang tertinggal pun akan hilang terhapus waktu. Manusia dengan masanya adalah setitik kecil pada rentang zaman. Yang hadir, yang menguap hilang. Mungkin inilah saatnya merelakan segalanya. Menutup harap yang sia-sia. Memulai hidup yang baru, tanpamu. Dengan harapan baru; harapan menemukan yang baru. Seperti pagi yang terus datang memulai kehidupan. Harapan selalu hadir untuk menyumbang kekuatan. Tak peduli malam terlalui dengan dosa. Tak peduli masa lalu berlalu dengan begitu banyak kesalahan.

Sekalipun aku memaksa diriku untuk melupakanmu, pasti tetap saja kamu tak bisa terlupa. Biarlah kamu tetap menjadi istimewa di alam pikiranku. Menjadi abadi di ingatanku. Sampai pikun menghapusnya. Sekali pun kita tak bisa membersama dalam bahtera, aku tidak ingin hubungan kita tutup dan usai. Aku ingin tetap berteman denganmu. Sebab kamu adalah buku hidup yang bisa ku baca lagi dan lagi. Begitu pun aku; sebagai buku hidup milikmu; yang berisi kisah masa lalu. Baik menyenangkan, maupun mengecewakan.

Aku ingin saat kita bertemu nanti, kita bisa saling tersenyum. Mengingat kisah yang menggelikan. Dari situ artinya kita bisa membaca kembali kisah masa lalu, untuk kita ambil pelajarannya; guna menguatkan hubungan masing-masing kita dengan orang-orang baru. Aku ingin tetap menjadi buku pelajaranmu. Dan aku akan tetap menjadikanmu buku pelajaranku yang abadi, yang  senantiasa ku baca lagi dan lagi, di setiap kesempatan waktuku. Terima kasih telah menjadi bagian materi pelajaran yang berharga dalam hidupku.

Yang lama tergantikan yang baru. Seperti air sungai yang mengalir. Meski tampaknya sama, tetapi yang mengalir itu selalu bukan air yang sama; selalu air yang baru. Maka akankah kita terus menyimpan dendam masa lalu? Untuk balas dendam di kemudian hari? Bagi yang mengerti, ia memilih melupakan, memaafkan, mengikhlaskan. Sebab masa depan selalu murni. Jadi aku memilih memaafkan semua salahmu. Semoga kamu juga memaafkan semua salahku.

Aku masih ingat kala itu, saat kita duduk berdua di atas pasir pantai sambil memandang laut dan debur ombak. Kita bersepakat untuk tidak saling menyakiti, jika suatu saat tragedi perselisihan membuat kita berpisah. Kita saling melepas senyum, kita akan saling memaafkan. Lalu kita tulis nama kita berdua di atas pasir putih dan di tengahnya kita gambar hati yang memisahkan nama kita. Namun ombak besar tiba-tiba datang, menggulung nama kita berdua. Kita beranjak sambil tertawa, berpegang tangan dan mendendang lagu-lagu pantai.

 

 

  • view 88