Merelakan Sepenuhnya

Aha Anwar
Karya Aha Anwar Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2017
Merelakan Sepenuhnya

Kamu adalah gumpalan rindu yang tak mau enyah dari kepalaku. Bagaimana mungkin aku membunuhmu, jika kamulah yang menjadikanku tetap merasa hidup. Tanpamu aku tak berguna. Maka tetaplah tinggal di kepala. Sebagai kenangan indah dan berharga. Selamanya.

Apa ada hal yang sia-sia untuk dilakukan? Aku kira tidak ada. Bahkan mengingatmu, merindumu bukanlah hal yang sia-sia. Sebab itu membuat hidupku penuh dengan kenikmatan. Aku tak pernah menginginkan bunuh diri. Karena kehidupanku teramat berharga.

Namun aku berani merenggut bahagiaanku dengan mengikhlaskanmu. Menukar bahagia dengan sengsara yang ku kira akan sangat lama durasinya. Dengan asumsi awal bahwa bahagia yang ku serahkan bisa menambah bahagiaanmu di luar sana. Terlalu mencintaimu mungkin adalah kesalahan. Tapi juga merupakan sebuah prestasi besar bagiku. Sebab aku tidak pernah memberikan sebanyak itu pada siapapun selain kamu sebelumnya.

Karena kebahagiaanmu begitu penting bagiku, maka tak akan ku biarkan suara tangisku sampai di telingamu. Suara tangis merindukanmu biar aku redam dengan sepenuh upayaku. Dan karenamu aku tak berani berkenalan dengan kesempatan-kesempatan baru untuk berubah. Bagiku kebahagiaanku bersamamu adalah final. Aku masih saja memeluk kenangan-kenangan indah bersamamu. Kemana pun aku berkelana, aku menutup diri. Tidak membiarkan siapa pun mengulik tempat istimewa milikmu di hatiku. Aku tak ingin mengubah bahagia yang dulu. Biarlah tetap seperti itu.

Pikiranmu adalah pikiranmu. Pikiranku adalah pikiranku. Jika pikiranmu dan pikiranku tak sejalan, maka tragedi perselisihan dan perpisahan seperti ini pun terjadi. Kita seringkali seperti dua anak kecil. Bukan sebagai dua orang dewasa. Tugas pokokku kini adalah mengusir diriku dari dirimu. Membenamkan rindu yang berusaha memelukmu. Merawat kesepianku yang semakin beranak-pinak. Aku tanpamu adalah kegilaan dan kebodohan yang membersatu. Menyukaimu, berharap padamu, mencintaimu, bergantung padamu, membuatku merasa sangat bodoh.

Namun tak apalah. Akhirnya aku menyadari bahwa kita memang tidak akan dipertemukan pada apa-apa yang benar-benar kita harapkan. Sebab harapan adalah sesuatu hal yang sempurna. Sementara upaya mewujudkannya adalah sesuatu yang tidak pernah bisa sempurna.

Mencintai dan dicintai satu orang yang sama memang menjadi dambaan semua. Sebuah kisah asmara yang sempurna. Namun perjalanan hidup tidak lantas semudah itu. Musti ada lika-liku, halang-rintang, dan kesulitan-kesulitan. Semesta selalu mampu mengatur jalan cerita setiap manusia, mau bagaimana pun itu.

Dalam cinta pun ada perbuatan. Padahal semua perbuatan selain membuahkan konsekuensi juga perlu dipertanggung-jawabkan. Maka di luar sana jadilah manusia yang selalu bersedia mempertanggung-jawabkan segala perbuatan. Baik dengan maupun yang dilakukan tanpa cinta.

Kamu tak perlu membenciku. Aku tidak akan menghancurkan hidupmu. Tak pernah ada niat untuk menghambat kebahagiaanmu. Sebab kebahagiaanmu juga kebahagiaanku. Kasihan hati baikmu. Jangan kotori hanya dengan membenciku. Bukankah kamu orang baik dengan hati baik yang akan selalu menjaga kebaikan? Jangan biarkan benci mendekam di hatimu. Kamu tahu kan kalau kebencian di hati bisa menjangkit ke organ-organ lainnya.

Kebencian bisa menggerakkan mulut untuk mengumpat. Menggerakkan tangan untuk memukul. Menggerakkan kaki untuk menendang. Mampu mengubah raut muka menjadi menyeramkan. Kamu cantik dan murah senyum. Jangan biarkan kebencian mengubah wajah manismu itu.

Kamu tak perlu membenciku karena aku pernah mencintaimu dengan cara yang tak sesuai dengan apa yang kamu inginkan. Itu asli karena ketidak-tahuanku. Bukan karena sengajaku memperlakukanmu tidak baik. Sungguh aku ingin memberikan perlakuan cinta dengan sempurna; seperti yang kamu dambakan.

Namun lagi-lagi kekuranganku menjadikan hubungan kita berantakan. Dan perlu kamu tahu, hingga kapan pun, aku akan tetap ingin melihat bahagiaanmu, kesuksesanmu. Sungguh aku tak ingin mendengar kegagalanmu atau kehancuranmu. Maka kamu tak perlu membenciku. Kamu hanya perlu melanjutkan hidup dengan damai dan bahagia, tanpa kebencian di dada. Aku tak pernah membencimu. Jika aku terkesan membenci, itu adalah bentuk benciku kepada diriku sendiri, yang masih saja tidak bisa memaafkan, merelakan dan mengikhlaskan sepenuhnya apa yang telah terjadi.

Setelah didiamkan beberapa saat dan dijauhkan dari api, air yang mendidih pun akan menjadi dingin. Seperti sebuah perasaan yang terabaikan, lama-lama bisa menjadi dingin. Barangkali cukup kamu abaikan aku, diamkan aku. Hingga perlahan-lahan segala perasaanku padamu dingin dan membeku seiring berjalannya waktu.

Ada yang hilang dari pandangan. Ada yang kemudian menetap di hati. Ada yang menyayat rasa. Ada yang melambungkan ke awan. Ada yang menjengkelkan. Ada yang menentramkan. Macam-macam orang datang silih-berganti. Ada yang jadi teman, ada yang jadi sahabat. Ada yang kemudian jadi kekasih. Ada yang teringat, ada yang terlupakan. Namun ketahuilah bahwa kamu spesial bagiku. Darimu aku belajar dan memperbaiki diri. Terima kasih telah hadir dan mewarnakan hidupku yang tak lama ini.

 

  • view 88