Studi Kelayakan Kawasan Industri Terpadu Teluk Bintuni

Studi Kelayakan Kawasan Industri Terpadu Teluk Bintuni

Aprilia Periera
Karya Aprilia Periera Kategori Ekonomi
dipublikasikan 09 Agustus 2018
Studi Kelayakan Kawasan Industri Terpadu Teluk Bintuni

Kawasan Industri Teluk Bintuni menjadi salah satu perindustrian besar yang memiliki sumber bahan baku untuk industri petrokimia, yaitu gas. Sebelumnya proyek ini  memiliki beberapa kendala yang belum terselesaikan, seperti alokasi gas, harga gas, pengolahan lahan dan pemberian modal dari negara. Kawasan industri ini memiliki luas lahan sekitar 2.344 hektar.

Kawasan ini dijadikan sebagai pengembangan industri petrokimia dan pupuk. PT Pupuk Indonesia (Persero) merupakan salah satu perusahaan yang ingin membangun industri pengolahan gas bumi menjadi metanol, polipropilena, etilena dan polietilena. Dengan  kapasitas methanol sebesar 1,8 juta ton per tahunnya.

Potensi gas yang ada, dapat menjadi bahan baku industri anomia yang bermanfaat untuk mendukung industri urea dan bahan baku industri metanol. Selain itu pembangunan industri ini masuk dalam program hilirisasi yang merupakan sektor petrokimia yang bisa berdampak pada penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah, dan pertumbuhan ekonomi nasional.


Saat ini pihak Ferrostaal menyiapkan investasi senilai US$2,8 miliar atau sekitar Rp37,2 triliun. Sekitar tahun 2021 yang akan datang, gas akan mulai dieksplorasi dan pabrik siap menyerap gas tersebut. Selain itu juga Teluk Bintuni memiliki Pelabuhan Teluk Bintuni berskala Internasional.

  • view 24