Yang Hangat di Tulisan Ini

Danti Paramadini
Karya Danti Paramadini Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Yang Hangat di Tulisan Ini

Ada sisa-sisa perjalanan panjang yang telah ia lalui. Wanita muda itu duduk, kini ia menerawang ke arah langit membayangkan hidupnya yang hampir seperempat abad. Belum dekat juga dengan seperempat abad, hanya kelihatannya ia lelah saja dan hidupnya serasa panjang. Panjang sekali untuk dikenang. Hingga di batas awang-awang.

Namanya Celah, tubuhnya kecil seperti sebuah celah. Sakit-sakitan dan pendiam. Banyak perasaan yang ia simpan. Ia kesulitan mengungkapkan apa yang ada di hatinya. Pikirnya, semua yang ia pikirkan adalah kotak pandora yang mega besar, sehingga ketika dibuka semua isinya terhambur keluar dalam berbagai perspektif hingga kadang yang melihatnya akan mual. Percayalah.

Sementara aku, hanya bisa menatapnya dari bangku baris kedua dari belakang di ruang kelas yang sama. Sama seperti hari-hari sebelumnya, sama seperti 11 hari yang lalu ketika aku menemukan buku catatannya yang terjatuh di depan kelas. Belum genap aku membaca semua isinya, namun aku sudah tidak ada niatan untuk mengembalikan buku itu kepada empunya. Buku itu menghipnotis. Seakan-akan aku bisa memahami dunianya yang rumit. Hingga aku jatuh.

Kamu tahu, Ia menyukai titik-titik hujan yang jatuh dari atap yang miring di depan gazebo kampus. Katanya, hujan itu seperti irama dari langit. Tidak ada lagu yang seindah itu. Karena itulah ia berpikir, hujan adalah cara Allah memberikan manusia ruang untuk berdoa. Berdoa saat hujan, adalah satu hal yang tidak pernah ia lewatkan.

Zrraaasssshh .. Hujan.

Tepat saat kami semua berhamburan keluar kelas.

"Mau bareng?" aku menawarkan diri.

"Nggak makasih." jawabnya singkat.

Bodoh, siapa juga yang mau ikut dengan teman sekelas asing sepertiku ini. Gender kami yang berbeda juga pembatas yang cukup logis bagi penolakan itu. Aku tahu betul, ia gadis yang taat.

Hei, aku juga taat. Setiap minggu aku sholat jum'at dan soal mendengarkan ceramah, aku tidak pernah terlambat.

Ya sudah lah, aku bawa motor matic ku melewati lobi tempatnya berdiri. Aku melihatnya sekilas. Ia masih menatap hujan, seperti menatap kekasih yang telah lama ia nanti-nanti.

Manisnya, kini aku juga tahu dia wanita yang cukup biasa. Berani taruhan, semua wanita akan suka dengan bunga. Ia juga begitu, jelas ia bukan alien yang tersesat di bumi. Tulisnya di buku itu pun, ia suka dengan bunga-bunga bermahkota putih di sepanjang parit dekat tempatnya bekerja sambilan. Ah lucu.

Katanya, bunga ini seperti hidup dalam celah, ia pun ingin menjadi celah bagi tumbuhnya bunga itu. Dasar celah, Ia jatuh cinta dengan hal-hal kecil seperti namanya. Sebegitu mudahnya.

Kamu tahu, Ia juga menyukai birunya langit. Tak perlu warna lain hanya biru. Tanpa awan. Karena ia akan merasa tenggelam ketika melihatnya. Seperti selimut dingin di hari yang terik. Seperti ada yang bersembunyi atau tidur. Ia sering berharap itu adalah kelinci bulan, yang pegal seharian karena berkali-kali menumbuk adonan saat malam purnama, atau mungkin ada yang lain. Mungkin nelayan yang biasa memancing saat bulan sabit.

Ia menyukai hijaunya rumput, ia menyukai bangku teras depan kos nya. Ia menyukai banyak hal dan ia ingin membagi apa yang ia sukai dengan orang lain. Tapi ia tidak bisa. Menurutku ia hanya takut, karena ia terbiasa menyimpannya sendirian. Mungkin ia tidak tahu cara berbagi. Karena ia terlalu mencintai dirinya sendiri, dunianya sendiri. Dunia yang penuh dengan hal-hal yang mudah ditertawakan oleh orang lain. Hingga tiada ruang untuk, membicarakannya. Hanya menulisnya.

Kali ini motor matic ku berbalik. Aku putuskan begitu. Aku tarik rem di depannya.

"Hey, namaku Langit. Nih buat kamu" ya, namaku Langit seperti sesuatu yang kamu suka, Celah.

Aku memandangnya sambil memberikan jas hujan kepadanya. Jas hujan egois, bukan kelelawar. Kemudian, aku berlalu, berharap ia akan menggunakan jas hujan yang aku berikan. Agar ia tidak kehujanan.

Sambil tenggelam di derasnya hujan aku bergumam. Terima kasih Celah, karena telah menuliskan sesuatu di buku catatanmu. Terima kasih untuk semua yang hangat di tulisan ini. Terima kasih untuk membuatku lebih rajin ikut ke kelas dan jarang bolos lagi. Tentu saja karena aku ingin melihat hari-harimu yang diam. Maaf bukumu masih aku simpan.

pic source : www.psychologicalscience.org

  • view 206