Pertempuran Seru nan Mendebarkan dalam Panggung Digital Start Up Indonesia

Toha Mukarrom
Karya Toha Mukarrom Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 18 Oktober 2016
Pertempuran Seru nan Mendebarkan dalam Panggung Digital Start Up Indonesia

Tulisan ini saya reblog sepenuhnya dari guru blogger saya yaitu Mas Yodhia Antariksa dengan nama blognya strategimanagement.net

Ledakan digital start up Indonesia terus membuncah seiring dengan mobile smartphone explosion yang terus mengharu biru.

Nyaris tiap bulan muncul nama start up baru dalam dalam beragam ranah – baik dalam industri e-commerce, media, kesehatan, hiburan hingga industri pendidikan berbasis digital.

Dalam sajian renyah pagi ini, saya ingin mengajak Anda untuk menziarahi panggung start up di tanah air dan mencoba menikmati pertempuran seru yang ada di dalamnya.

Karnaval digital start up di Indonesia terus berjalan.

Dan pagi ini sambil ditemani secangkir teh hangat, kita ingin mengulik bagaimana parade inovasi digital itu terus di-selebrasi-kan.

Sejalan dengan makin tingginya penterasi internet di Indonesia, maka diyakini peran digital business akan kian marak di tanah air.

Berikut semacam landscape digital start up Indonesia dalam 6 jenis industri yang berbeda, yang layak kita ziarahi.

ECOMMERCE Start Up
Tak pelak, arena ini adalah arena yang paling tumbuh dalam gelombang digital business. Dan karena itu, pemain didalamnya juga dipenuhi dengan major players yang berkompetisi dengan keras.

Dalam bidang general e-commerce, kita menyaksikan persaingan keras antara MatahariMall.com dengan Lazada/Zalora (yang sudah diakuisi Alibaba – salah satu ecommerce terbesar di dunia). Lalu ada juga Blibli (milik grup Djarum/BCA).

Kabarnya dalam waktu dekat, Amazon juga akan masuk ke tanah air. Sebuah pertempuran brutal pasti akan terjadi jika Amazon jadi masuk ke Indonesia.

Winner takes all. Dalam industry ecommerce, pemain yang menang biasanya akan “menguasai hampir semua porsi”.

Lihat Amazon di USA dan Alibaba di China. Mereka menang, dan hampir menjadi pemain monopoli dalam industri e-commerce di negaranya masing-masing.

Dalam industri muslimah fashion e-commerce, kita melihat persaingan seru antara Hijabenka dengan Hijup (yang baru saja mendapatkan pendanaan hingga 200 milyar dari investor).

Menarik bahwa pendiri Hijup adalah Diajeng Lestari, istri dari Ahmad Zaky (pendiri Bukalapak). Mereka berdua mungkin layak disebut sebagai King and Queen of Indonesian Ecommerce.

Dalam arena marketplace, terjadi pertempurna seru antara Tokopedia dengan Bukalapak. Ratusan milyar sudah digelontorkan kepada dua start up darling ini. Keduanya juga masih merugi.

Minggu lalu, Bukalapak membajak Chief Operating Officer baru bernama Wilix Halim. Dia adalah anak asli Medan yang jadi pioner dibalik meledaknya Freelancer (berbasis di Australia) sebagai marketplace freelancer terbesar dunia.

Wilix yang anak Indonesia itu memang dianggap sebagai pakar growth hacker tingkat dunia. Dia bisa dengan mudah diterima bekerja di Silicon Valley. Di Australia, dia juga sudah jadi semacam “legenda” start up di negeri itu.

Menarik ternyata dia akhirnya milih pulang kampung dan bekerja di Bukalapak.Waspadalah Tokopedia.

Yang menarik : Bukalapak berarti punya budget yang masif untuk gaji karyawannya. Dugaan saya, Wilix diberi gaji hingga USD 10 ribu per bulan + bonus saham Bukalapak.

TRANSPORTATION Start Up
Disini terus terjadi pertempuran sengit nan mendebarkan antara Gojek dengan GrabBike.

Beberapa bulan belakangan Gojek terus diganggu dengan ketidakpuasan para drivers-nya. Ini memang bom waktu.

Pada akhirnya, Gojek harus memangkas subsidi driver yang selama ini menggerus kas mereka. Gojek tak bisa lagi terlalu royal membakar uang. Dilemanya : para driver langsung demo saat manajemen Gojek melakukan efisiensi biaya.

Di sisi lain, Grab Bike justru kelihatannya makin mantap. Papan iklannya ada dimana-mana di Jakarta. Pelan-pelan mereka bisa terus menggerus pangsa pasar Gojek. Pertempuran seru akan terus terjadi.

Menariknya, duet pendiri Grab Bike (Anthoni Tan dan cewek muda energik Malaysia bernama Tan Hooi Ling) adalah sahabat akrab Nadim Makarim (pendiri Gojek) saat mereka kuliah satu angkatan di Harvard Business School.

Saat rehat di kampus, mereka bertiga suka ngobrol bareng tentang masa depannya.

Sebagai alumni Harvard Business School, maka Anthony, Ling dan Nadim sebenarnya bisa dengan mudah bekerja di lembaga konsultan manajemen top dunia seperti McKinsey atau firma keuangan seperti Goldman Sach. Gaji USD 20 ribu per bulan bisa mereka dapat.

Namun mereka memilih mendirikan start up. Ini tren baru di kalangan alumni sekolah bisnis top dunia seperti Harvard dan Stanford.

Lulus MBA, mereka ndak nyari kerja di bank atau big companies lainnya. Namun lebih memilih membangun start up sendiri.

Membangun start up mungkin dirasakan lebih asyik. Daripada bekerja sebagai investment banker, bahkan dengan gaji ratusan juta per bulan.

(Jadi kapan kamu akan resign dan membangun start up, guys?)

HEALTH Start Up
Dalam bidang kesehatan ini, banyak hadir beragam start up yang saling bersaing dengan keras.

Ada alodokter, dokter.iD, MeetDoctor, hingga TanyaDok. Hampir semua startup ini sudah memperoleh pendanaan dari investor.

Memang kalau dilihat, semua web mereka bagus dan informasinya tentang kesehatan amat lengkap dan detil. Semua web-nya tampak dikelola dengan profesional.

Namun saya melihat strategi monetisasi (cara dapat profit/uang) dari beragam start up kesehatan itu masih belum jelas. Apakah dari iklan, dari jualan jasa dokter, dari jualan obat, atau dari fee pelanggannya. Masih belum jelas.

Tampaknya, semua start up kesehatan yang bagus-bagus isinya itu masih minus. Alias masih besar pengeluaran daripada pemasukan.

MEDIA Start Up
Dalam arena ini juga banyak muncul start up.

Ada Hipwee, MalesBanget, IDNTimes, hingga Mojok.co.id.

Hipwee termasuk yang paling sukses. Pemilihan judul yang nendang dengan isi yang renyah membuat banyak artikel mereka jadi viral di Facebook.

Simak salah satu judul artikelnya : Untukmu yang Sedang Diremehkan. Tenang. Kesuksesan Menanti di Ujung Jalan (artikel ini sudah di-share 300 ribu kali !!).

Btw, Hipwee yang baru seumur jagung ini beberapa waktu lalu sudah diakuisi investor dari Australia dengan nilai Rp 5 milyaran. Not bad untuk sebuah start baru dengan hanya 6 karyawan.

(Berapa tahun yang kamu butuhkan untuk bisa mengumpulkan uang Rp 5M, teman-teman?)

FINTECH Start Up
Ini dia arena yang juga digadang-gadang akan terus melesat.

Fintech atau financial technology adalah start up yang bergerak dalam ranah finansial – sebuah arena yang diprediksi akan terus booming sejalan dengan ledakan kelas menengah Indonesia.

Dalam arena fintech, kita mengenal start up payment gateway seperti DOKU yang sukses. Ini start up lokal yang memproses pembayaran secara online via kartu kredit. Mungkin mirip Paypal kalau di Amerika.

Lalu ada juga fintech yang fokus pada penyediaan informasi perbandingan beragam layanan keuangan. Seperti CekAja, CekPremi dan KreditGogo. Semua start up ini bagus isi dan informasinya.

Ada juga fintech yang memberikan pinjaman seperti UangTeman danPinjam.co.id (mirip pegadaian namun versi online).

Sayangnya fintech dalam arena pinjaman uang ini agak berbau riba. Sebab suku bunga pinjamannya mirip rentenir, tinggi banget. Mungkin lebih cocok disebut “rentenir digital” :) :)

Fintech lainnya adalah yang menyediakan aplikasi pengelola keuangan.

Yang paling baru dan paling gencar iklannya adalah Jenius.com – aplikasi bagus untuk mengelola semua aspek keuangan personal Anda, mulai dari tabungan, investasi reksadana, hingga mengalokasikan budget buat liburan.

Namun Jenius.com ini ternyata start up ini bikinan Bank BPTN. Pantesan iklannya sangat masif. Bank lain harus segera bergerak agar tidak ketinggalan kereta.

Sebab seperti saya tulis minggu lalu, masa depan bank di Indonesia adalah “DIGITAL and MOBILE BANKING”. Bank yang tidak punya aplikasi fintech yang maut pasti akan ditinggal generasi milenial.

EDUCATION Start Up
Oke, ini arena terakhir yang akan kita ziarahi.

Disini kita mengenal PesonaEDU, salah satu startup pendidikan lama yang paling sukses. Mereka fokus jualan software pendidikan yang bagus dan disukai para pelanggannya.

Ada juga startup baru bernama RuangGuru – menyediakan marketplace untuk mencari guru les privat. Startup ini sudah dapat pendanaan miliaran, dan didirikan dua anak muda usia 20-an tahun.

Yang paling saya suka adalah Zenius.Net – lembaga penyedia bimbel online yang sukses. Pasarnya adalah anak SD, SMP dan SMA. Berapa pemasukan per bulannya? Tembus Rp 500 juta. Amazing.

Dan terakhir, start up legendaris dalam arena online education adalah EDUBISNIS.NET.  Kalau Anda belum join edubisnis, saya sarankan silakan KLIK DISINI. :) :)

Harapannya omzet edubisnis suatu saat bisa setara dengan zenius.net. Amin.

DEMIKIANLAH sekilas peta digital stratup Indonesia dalam arena ecommerce, transportation, media, health, fintech and education.

  • view 337