Buatmu Ayah, Perantau yang Menelantarkan Keluarganya

ND Aohana
Karya ND Aohana Kategori Inspiratif
dipublikasikan 28 Oktober 2016
Buatmu Ayah, Perantau yang Menelantarkan Keluarganya

Untuk seorang laki-laki perantau yang tidak berperasaan menelantarkan keluarganya.

Kau lah raja, sang pahlawan hidupku

Kau lah laki-laki terhebat yang ku miliki

Itu dulu, sebelum semuanya benar-benar berevolusi. Sebelum aku mulai belajar membenci seorang laki-laki yang sudah sejak lama ku sebut “ayah”.

Masih jelas terungkai dalam ingatanku, percakapan melalui pesan waktu lalu.

“Ayah, kenapa akhir-akhir ini ayah begitu sulit dihubungi ?”

“Bukan begitu. Tapi ayah sedang sibuk bekerja mencari nafkah untuk keluarga kita.”

“Beberapa waktu lalu, aku melihat ibu menangis. Apa yang sudah terjadi, ayah ? pastinya bukan karena ayah punya wanita lain, bukan ?”

“Bagaimana bisa ayah melakukannya ? ayah tidak mungkin menyakiti hati ibumu seperti itu. Percayalah, nak. Ayah sedang bekerja.”

Pembohong !

Bisakah ayah bertanggung jawab atas ucapan itu ? aku sudah menuruti permintaanmu, ayah. Aku mempercayaimu lebih dari yang ayah minta. Tapi apa ?! Begitu teganya ayah menampar kepercayaan itu tepat di hadapanku. Ayah tukar kepercayaan itu dengan pengkhianatan ! bagaimana bisa keresahanku akan ayah di seberang sana lebih dari sekedar kejadian ?

Apa yang sebenarnya kau lakukan ? bagaimana mungkin kau tidak berperasaan meninggalkan ibu, dan dengan mudahnya mengucapkan janji pernikahan untuk wanita lain ?

Tidak ! aku tidak percaya. Sosok laki-laki yang ku sebut AYAH tidak akan pernah melakukannya. Benarkan, ayah ? mustahil jika kau tiba-tiba menobatkan ibu sebagai JANDA, menempatkan anak-anak ayah sebagai KORBAN kehancuran, dan memberikan posisi terindah untuk WANITA itu.

Beritau aku, ayah, secantik apa wanita yang membuatmu tergila-gila sampai menelantarkan keluargamu sendiri ? aku ingin tau apa yang membuatnya terlihat begitu indah di mata ayah. Sebening apa lensa matanya hingga membuatmu dengan mudahnya berpaling dari seorang wanita yang sudah lama berstatus sebagai istrimu ? dia kah milyarder yang membeli perasaanmu dengan kekayaan ? sebaik apa hatinya yang membuatmu luluh tanpa rasa bersalah sedikitpun ? aku ingin tau seberapa banyak kelebihannya dibanding ibu.

Ayah...

Dimana kau meletakkan cinta dan kasih sayang itu untuk keluarga kecilmu sampai kau melangkah sejauh ini ? sudah terlalu jauh, ayah. Melangkahlah mundur, aku janji akan memaafkanmu. Asal kau kembali di tengah-tengah keluarga kecil kita.

Tidak mungkin aku akan tumbuh di tengah problema orang tuaku. Melangkah pasti di antara sebentuk hati yang retak. Itu sungguh menyakitkan ! bagaimana dengan adik-adik yang selalu tersenyum menanti kepulangan ayah ? Apa yang harus ku katakan pada mereka jika kebenarannya seperti ini ? mereka terlalu kecil untuk tau tentang perpisahan.

Ayah...

Bagaimana aku harus membencimu sementara aku berhutang hidup padamu ?

Membencimu yang sudah melukai perasaan “wanita” ku. Membuatmu membayar setiap tetes air matanya. Memaksamu merasakan kehancuran perasaannya saat mengetahui kau lebih memilih wanita lain. Aku ingin melakukannya !

Baiklah. Pergi saja, ayah ! jangan pernah bersikap seolah-olah aku anak yang kau sayangi. Jangan pernah berharap aku akan ikhlas memanggilmu “ayah” setelah apa yang kau lakukan. Tunggu sampai aku benar-benar membencimu. Bahagialah, ayah. Semoga jalan yang kau pilih tidak pernah salah.

 

Dari seorang anak yang penuh kehancuran,

kehilangan kepercayaan dari seseorang yang selalu ia banggakan,

dan tidak terima “wanita” nya disakiti begitu saja.

 

 

 

Terinspirasi dari seorang teman yang terhanyut dalam dilema broken home.

  • view 295