Brunella #finish

anum nangin
Karya anum nangin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 17 Maret 2016
Brunella #finish

Sampai pada titik keputus asaan. Brunella berusaha mengenang kembali hari-hari bersama ibunya. Fikirannya kembali tenang, energy dalam dirinya seketika muncul. Sampai pada titik terang, brunella menemukan sedikit harapan dari semua persoalan ini. Dia teringat akan ibunya yang suka menulis diary. Harapannya muncul ketika mengingat itu, semoga ku temukan jawabanya disana, dengan raut wajah yang penuh kebahagian kata brunella.

Diary!

Ibuku memang gemar menulis semua kegiatan hari-harinya ditulis didalam diary. Karena sepanjang aku mulai pandai mengingat sesuatu diary adalah salah satu list belanja bulanan ibu yang tak pernah ketinggalan.

Brunella yakin semua diary ibu pasti masih tersimpan rapi dilemari kamarnya. Ternyata sangat mudah untuk menemukan itu semua, karena ibu menempatkannya didalam satu lemari khusus. Dan ibunya membuat diary itu semakin nampak indah karena diary itu sudah diberi nomer olehnya. Aku tak tahu apa maksud dan tujuan ibu membuat seperti itu.

Diary dengan sampul dasar hitam dan ada sedikit garis biru ditengah-tengahnya yang secara vertical menghiasi diary dengan nomer umur 261 itu menjadi pilihan brunella. Dengan hati yang terpacu dua kali lipat dari biasanya, brunella was-was membukanya.

Halaman demi halaman, kalimat-demi kalimat yang bermulai dari setiap huruf yang tersambung menjadi sebuah sejarah yang tertuang dalam ragkaian kesatuan peristiwa yang terjadi setiap harinya.

Ibu selalu menuliskan peristiwa apapun yang terjadi selama satu hari kedalam diarynya. Peristiwa apapun itu.

Sampai pada kejadian yang membuat darah brunella seketika berhenti mengalir, jantungnya seketika berhenti berdetak.

Kejadian dimana malam sebelum kematian ibu. Ayah mengaku telah menikah siri dengan sekertarisnya. Pernikahan yang sudah berlangsung selama satu tahun dan sudah menghasilkan seorang bayi laki-laki. Bagaimana bisa ayah yang selama ini selalu ada untuk keluarga dan begitu setia, ayah yang sangat sayang kepada ibu bisa begitu tega kepada mereka. Begitulah isi diary terakhirnya, yang dia tulis dengan tinta merah.

Brunella sudah menemukan jawaban dari kematian ibunya dan kepergian ayahnya. Diary itu jugalah yang menghantarkan brunella kerumah sakit karena merasa sangat frustasi sehingga dia tak sayang lagi akan nyawanya sendiri.

Pertemuanku yang kedua kalinya dengan brunella. Mungkin memang sudah ditakdirkan Tuhan kami harus ketemu kembali, karena pada saat pertama aku melihatnya. Aku hanya sebagai manusia patung yang memiliki fikiran tapi tak memiliki keberanian membantunya, sehingga peristiwa naas itu terjadi padanya.

Rumah sakit menjadi salah satu media pertemuan kami setelah dua minggu peristiwa naas itu. Rumah sakit yang sama dengannya, karena aku terpaksa harus dilarikan kerumah sakit karena over dosis obat penenang diri. Aku selalu mengkonsumsi itu saat aku tertekan dengan kondisi ayah dan ibuku bertengkar hebat.

Pertemuan yang kali ini kuberanikan diri mengajaknya ngobrol, kali pertama aku melihatnya. Kenapa kita bisa bertemu kembali.

Pertemuan yang syahdu dengan kisah hidup yang nyaris sama, membuat senyum brunella akhirnya kulihat diakhir kisahnya menceritakan semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya. Jika tak hanya dirinya saja yang frustasi akan hidup ini. Aku juga.

Tenang brunella kau tak sendiri!

?

  • view 80