Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 19 Mei 2018   00:50 WIB
Cecunguk

Yang kalah tersingkirkan, yang menang merasa di atas. Itulah syakwasangka saya pada seseorang. Kami baru saja bertengkar hebat. Saat saya baru sehari diterima kerja di Radar Banten Online, awal Juli 2017.

Usai menulis ribuan kata empat bulan lamanya, sekembalinya saya di Kota Serang, ada insiden dan itu  membuat harga diri saya terasa jatuh tak ada artinya. Itu semua bukan sekali atau dua kali saya rasakan. Berkali-kali. Wajar? Entahlah, barangkali sikap saya yang selama ini gagal menyudahi perang dingin antara saya dan orang itu.

Keberadaan saya dari awal menjadi jurnalis di Harian Banten News, dan pindah kerja di Radar Banten Online, tidak pernah disukai oleh satu orang itu. Saya tidak ingin menyebut siapa namanya, cukup tahu dan mungkin dia sejenak membaca tulisan saya ini.

Malam-malam, di rumah, di dalam kamar, sedang mengetik, tiba-tiba ada whatsapp masuk. Begini isinya;

Lo jangan pernah ke press room lagi, cari berita sonoh. Kalau lo tetep ke press room, gw laporin kelakuan lo ke Pimred lo. Dan Lo nggak usah ngikutin tongkrongan gw, gw nggak bebas ada lo, cari tongkrongan sendiri, cari berita sendiri, lo jangan ngambil isu gw. Inget, lo jangan pernah whatsapp gw lagi. Berisik.

Saya berusaha tenang, mungkin orang itu sedang punya msalah di rumahnya, sehingga semua kekesalannya ditumpahkan pada saya. Tenang, bating saya sambil menghela nafas. Orang itu, mengirimi saya pesan whatsapp lagi, kata-katanya jauh di luar dugaan. Kata-kata kasar, bahasa binatang semua disodorkan kepada saya.

Sejak Pak Irfan menugaskan saya setiap hari ke press room, memang orang itu, tidak pernah suka keberadaan saya. Awalnya, saya kira hanya perlu waktu saja. Toh, yang lain pun seperti itu, karena tak kenal dengan mereka. Tidak baginya, sudah saya hitung banyak sumpah serapah yang dia bentur-benturkan pada saya. Oke, batin saya lagi.

Anehnya lagi, saya dilarang dekat dengan orang yang dituakan di press room.. Kerap perlakuannya ketika saya di pres room Kota Serang pun, persis seperti melihat jisim saya hanya seonggok sampah. Apa harus seorang jurnalis magang, yang ingin belajar membuat berita mendapat perlakuan seperti itu? Mungkin iya! Apa tidak sekalian saja, anda bunuh saya? Begitu dan begitu perasaan saya. Sakit hati. Sungguh membuat harga diri saya dibredel

Seorang jurnalis magang macam saya mungkin pantas mendapat orientasi seperti itu. Saya terlanjur sakit dan memutuskan untuk tidak menginjakan kaki ke sana lagi.

Lagi pula, saya sudah diusir di tempat itu, tempat yang saya kira adalah tempat mengawali karir saya sebagai jurnalis. Akhirnya saya menyerah…

Teringat, kata-kata Te Ann, Kita tidak akan bisa membuat orang lain suka kepada kita. Itu berlaku bagi saya. Down pada saat itu sudah pasti. Saya selalu ingat hari-hari yang saya anggap berat itu, hari yang selalu merasa rendah diri adalah Mamah yang menguatkan saya dan menyadarkan saya untuk bangkit lagi. Saya pasti benar-benar putus asa jika tidak ada Mamah.

Sejak itu, saat hujan sudah mengering, masih di bulan Juli, saya ingin sekali menulis berita sungguhan. Mengutip motivasi Miss Marry, masa lalu adalah sesuatu yang sudah kita selesaikan dan tidak ada yang perlu diubah lagi. Akhirnya, saya memutuskan pergi dan memulai sesuatu yang baru. Jujur saya ingin katakan dia hanyalah cecunguk.

Karya : Anton Su