“Pleno KPU” Liputan Perdana di Kota Serang

Anton Su
Karya Anton Su Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Mei 2018
“Pleno KPU” Liputan Perdana di Kota Serang

Mulanya saya takut banget masuk ke ruang Pokja Wartawan Kota Serang (PWKS). 12 Desember 2016, pukul 09:00 WIB pagi, saya memberanikan diri ke tempat itu. Saran dari Pak Irfan, saya ikuti, berkenalan dengan wartawan lainnya di PWKS.

Saya masih ingat orang pertama yang saya temui, adalah Bang Fauzan dari Radar Banten Online dan Mahyadi dari Banten Hits. Saya ketuk pintu PWKS, mengucap salam dan berkata “Permisi” kepada mereka berdua. Berterus terang kedatangan saya waktu itu, dengan membawa nama media Harian Banten News.

“Saya disuruh kantor untuk bersilaturahmi ke PWKS. Saya sedang magang di Harian Banten News, kalau boleh saya ikut liputan bareng,” begitu seingat saya pada Bang Fauzan.

Setelah berkenalan dan menjelaskan maksud yang saya sampaikan, Bang Fauzan mengajak saya ke Kebon Kubil. Disana, sedang ada kegiatan Rapat Pleno KPU Kota Serang. Tahun 2016-2017 memang sedang gencarnya isu Pilgub. Sebagai wartawan magang, saya benar-benar gamang. Tidak tahu yang harus saya lakukan, lagi-lagi saya perhatikan wartawan lainnya, dengan santainya minum kopi sambil makan camilan coffee break. Saya? Boro-boro. Otak saya harus mencerna lebih lama untuk memahami kegiatan Pleno ini, sampai-sampai malas makan.

Di depan ada Ketua KPU dan Komisioner KPU Kota Serang. Entah apa yang mereka jelaskan, yang jelas soal Pilgub Banten. Kebiasaan di Rumah Dunia yang tak pernah hilang sampai sekarang, saya selalu membawa buku catatan. Cara saya ini dipandang aneh oleh orang-orang di sekitar, apalagi wartawan yang sedari tadi sudah berkumpul di Kebon Kubil.

Akhir acara, semua wartawan mewawancarai Ketua KPU Kota Serang, Heri Wahidin. Saya ikut-ikutan, meskipun apa yang dibicarakan sangat diawang-awang, itu karena saya belum memiliki refrensi soal pemilihan Gubernur. Penting sekali, pengetahuan bagi wartawan pemula seperti saya. Seiring giatnya belajar soal jurnalistik, lama-kelamaan bisa juga dan memahami apa yang dibicarakan narasumber. Kuncinya tetap update berita-berita lokal, seperti isu-isu yang berkembang di Kota Serang.

Sudah saya duga, berita soal Pleno KPU Kota Serang tidak terbit keesokan harinya. Pak Irfan kebingungan melihat berita yang saya ketik, tak ada juntrungnya. Cara membuat lead, isi berita dan alur beritanya pun berantakan. Tapi, Pak Irfan memahami posisi saya sebagai anak baru yang masih membutuhkan adaptasi, refrensi dan relasi sebagai jurnalis.

SelainPak Irfan, redaktur saya, ada beberapa orang di PWKS yang banyak memberi saya pelajaran soal bagaimana kehidupan wartawan di Kota Serang, tentu saja tidak gampang, tapi mudah jika benar-benar serius menggelutinya. Di PWKS, saya juga banyak belajar tidak langsung dari Bang Tohir, Wartawan Banten Raya. Soal ini, akan saya ceritakan terpisah. 

  • view 58