Pusat Oleh-oleh di KEK

Anton Su
Karya Anton Su Kategori Enterpreneurship
dipublikasikan 04 Juli 2017
Pusat Oleh-oleh di KEK

Terbit di Radar Banten, 03 Juli 2017


Kabupaten Pandeglang mendapat angin segar proyek strategis nasional, salah satunya adalah pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung, dengan konsep resort tempat ini dicanangkan menjadi 10 (sepuluh) Bali baru oleh Pemerintah Pusat melalui Kementrian Pariwisata. Hingga saat ini, Tanjung Lesung dengan luas 1500 hektar sedang tahap pengembangan II, beberapa yang sudah maupun sedang dalam proses penyelesaian konstruksi yaitu proyek terminal cruise, marina, Hunting Lodge, Shooting Rang, UK, Tanjung Lesung Digital World dan sejumlah penginapan mewah yang sudah terbangun seperti villa, homestay, hotel dan restoran (kek.go.id).


Kawasan ini ditetapkan sebagai KEK Tanjung Lesung oleh Pemerintah Nomor 26 Tahun 2012 tentang KEK Tanjung Lesung dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Daerah khusus di Kecamatan Panimbang ini dalam pengembangannya terfokus pada pariwisata dan ekonomi kreatif. Adanya sektor pariwisata diharapkan mampu membangun daerah di Kabupaten Pandeglang, meningkatkan jumlah wisatawan dan memperoleh Pendapatan Asli Daerah (PAD) di KEK Tanjung Lesung ini.


Sejurus kemudian, dalam mempermudah akses ke tempat tujuan bagi para wisatawan, baik lokal, nasional dan internasional pemerintah pusat merencanakan pembangunan infrastruktur berupa jalan tol Serang-Panimbang, tujuannya untuk mempercepat jalur tempuh dari 160 Km Jakarta-Tanjung Lesung melalui Pandeglang-Saketi-Labuan bisa menjadi 83,7 Km saja melalui tol Serang-Panimbang. Sejauh ini, pembangunan tol masih tahap pembebasan lahan, desain dan konstruksi dimana pemerintah menargetkan jalan tol ini dapat terealisasikan tahun 2018. Selain akses melalui tol, di Tanjung Lesung akan dibangun bandara yang dan pengaktifan kembali rangkaian kereta api di Banten Selatan supaya variasi angkutan publik di Tanjung Lesung bisa lebih banyak pilihan.


Gencarnya promosi pariwisata di Tanjung Lesung lewat media dan event-event tahunan, dapat menggaet 500.000 wisatawan pada tahun 2016 dan tren kunjungan turis kian meningkat. Ketika potensi ini sudah mulai terlihat di depan mata, sejalan dengan fokus Tanjung Lesung adalah Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, nampaknya pelaku usaha belum bisa berperan lebih jauh lantaran belum tersedianya pusat oleh-oleh di Tanjung Lesung. Sesuai undang-undang Nomor 39 Tahun 2009 Tentang Kawasan Ekonomi Khusus pasal 3 menjelaskan bahwa, di dalam KEK dapat dibangun fasilitas pendukung dan perumahan bagi para pekerja, dan di dalam setiap KEK disediakan lokasi untuk Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) dan koperasi, baik sebagai pelaku usaha maupun sebagai pendukung kegiatan yang berada di dalam KEK.
Pusat oleh-oleh sebagai lokasi usaha bagi UMKM dalam menangkap proyek strategis nasional di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung merupakan tempat untuk memfasilitasi pelaku usaha yang memproduksi produk lokal seperti oleh-oleh khas pandeglang, produk lokal, cindera mata dan kuliner khas yang dibuat oleh masyarakat pandeglang. Adanya pusat oleh-oleh ini bertujuan untuk mengenalkan oleh-oleh lokal, meningkatkan kunjungan wisatawan dan perekonomian masyarakat. Langkah strategis yang dapat dilakukan agar tujuan itu termanifestasikan bisa dilakukan berbagai cara dan upaya.


Pertama, penempatan lokasi pusat oleh-oleh ini harus strategis berlokasi tak jauh dengan pusat wisata di Tanjung Lesung. Dalam hal ini, pusat oleh-oleh mudah dijangkau wisatawan dimana lokasinya berdekatan dan berada tak jauh dari gerbang pintu wisata, sehingga pelancong baik domestik maupun mancanegara bisa mudah menjumpai pusat oleh-oleh tersebut. Mengingat luas wilayah Tanjung Lesung mencapai 1500 hektar sehingga pusat oleh-oleh ini harus dibuat dan dibangun tepat berada di pintu utama, supaya wisatawan yang melewati pusat oleh-oleh ini bisa melihat dan menjangkaunya. Lalu tertarik, kemudian mau berkunjung ke lokasi untuk membeli buah tangan seperti emping melinjo, kue jojorang, batik cikadu, kerajinan badak bercula satu dan masih banyak lagi produk lokal khas daerah wisata ini.


Karakteristik wisatawan selama ini, mereka selalu membeli oleh-oleh untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat dan teman. Produk lokal di tempat wisata ini menjadi promosi gratis bagi daerah wisata yang kemudian pelancong akan mengenalkan produk lokal tersebut kepada orang-orang yang belum berkunjung ke tempat wisata. Misalnya kepada teman, sehingga orang yang dikenalkan melaui oleh-oleh produk lokal akan memantik keinginan wisatawan lainnya berkunjung ke Tanjung Lesung. Promosi semacam ini adalah personal, langsung dan saling memengaruhi. Sebagaimana Iriantara (2010) menyebut cara mengenalkannya ini merupakan suatu kekhasan dalam komunikasi antarpribadi.


Kedua, meningkatkan mutu produk bernilai jual, berdaya saing dan berkualitas untuk wisatawan adalah hal paling krusial. Apabila produk memiliki kekurangan tentu saja berdampak pada stigma atau citra jelek lokasi wisata, dimana turis merasa kecewa akan produk yang dijajakan. Untuk menghindari hal demikian, produk-produk yang dijual harus melalui penyortiran terlebih dahulu, seperti melihat tanggal kadaluarsa, kemasan, branding, rasa dan kualitas produk. Mengapa pengecekan ini sangat perlu? Tujuannya agar produk yang diperjual belikan di pusat oleh-oleh memiliki standar dan kualitas terbaik. Sedangkan kuliner khas pandeglang sendiri misalnya dapat ditawarkan oleh pelaku usaha dengan cita rasa yang enak, tampilan hidangan semenarik mungkin dan pelayanan prima pada pengunjung dengan mengedepankan keramah tamahan dan berprilaku 3S (senyum, sapa dan salam).


Di Tanjung Lesung, cindera mata atau souvenir khasnya cukup bagus seperti batik cikadu dan souvenir berbentuk badak bercula satu. Maka dari itu, agar masyarakat bisa merasakan dampak dari KEK Tanjung Lesung ini pemerintah pusat maupun daerah mengadakan berbagai upaya pelatihan pembuatan batik dan souvenir tersebut agar mereka (masyarakat di sekitar Tanjung Lesung) memiliki ketrampilan membuat cindera mata yang bisa dijadikan oleh-oleh untuk wisatawan. Pusat oleh-oleh ini fungsinya adalah sebagai display produk baik produk makanan seperti emping melinjo, otak-otak maupun produk souvenir seperti batik cikadu dan souvenir badak jawa. Bukan hanya itu, disetiap kemasan agar mudah dikenali, kemasan produk ditulis dengan label oleh-oleh khas Pandeglang tujuannya supaya barang atau produk yang dipajang di pusat oleh-oleh mudah dikenali sebagai produk buatan masyarakat pandeglang. Sehingga produk lokal ini memberi manfaat sebagai promosi wisata kepada para pengunjung. Bukan hal mustahil bila produknya memiliki ciri khas, tentu saja dapat menguatkan magnet pariwisata, dimana Pandeglang adalah pusatnya rekreasi wisata alam.


Jumlah kunjungan wisatawan akan memberi dampak pada penjualan di Tanjung Lesung. Di tengah gencarnya pembangunan KEK Tanjung Lesung dan akses pembangunan sejumlah transportasi tengah diupayakan, hal ini tentu memotivasi wisatawan untuk berkunjung ke Tanjung Lesung apabila akses jalan sudah semakin memadai baik laju tempuh maupun alternatif transportasi. Terlebih Tanjung Lesung sedang gencar dipromosikan lewat media dan selalu mengadakan berbagai kegiatan untuk meningkatkan jumlah turis. Sejurus dengan itu, jumlah wisatawan bukanlah tidak mungkin ke depan kian meningkat. Sehingga memengaruhi nilai penjualan (permintaan barang) oleh-oleh, souvenir maupun kuliner di Kawasan Ekonomi Khusus Tanjung Lesung. Peningkatan ini, akan membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat pandeglang untuk memproduksi produk-produk yang telah diperjual belikan di pusat oleh-oleh KEK Tanjung Lesung.


Ketiga, pusat oleh-oleh ini dikelola baik oleh pihak pemerintah misalnya pendanaan melalui APBD Provinsi Banten dimana tahun 2017 dana yang akan dikucurkan untuk keperluan belanja daerah sebesar Rp. 10,701 triliun namun tidak menutup peluang untuk para investor yang ingin berinvestasi pada pusat oleh-oleh di KEK Tanjung Lesung sehingga akan terjalin konsesi bagi kedua belah pihak. Pemerintah melakukan regulasi kebijakan terkait kerjasama antara investor, pemerintah dan pelaku usaha, pasalnya bila tidak dibuatkan regulasi rentan gap manajarial. Di awal, pemerintah melakukan kesepakatan kerjasama (konsesi) seandainya ada investor yang akan menanamkan modalnya untuk infrastruktur pusat oleh-oleh di Tanjung Lesung. Formulasi jalannya usaha seperti pengepulan produk lokal, pengumpulan para UMKM dan produk lokal di Pandeglang dapat dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini bisa mengajak Asifa dan Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Provinsi Banten sebagai kepanjangan tangan pemerintah daerah. Dua organisasi tersebut telah memiliki anggota di seluruh wilayah Banten. Semua anggota yang tergabung adalah pelaku usaha yang memproduksi berbagai macam produk lokal, tak terkecuali oleh-oleh khas pandeglang. Sehingga adanya pusat oleh-oleh ini dapat mengenalkan produk lokal buatan masyarakat Pandeglang. Produk oleh-oleh, souvenir dan cindera mata bisa lebih dikenal oleh wisatawan, sebagaimana karakteristik sebuah pariwisata atau daerah adalah mudah dikenal dengan berbagai produk khasnya. Begitu pun Pandeglang akan dikenal dengan Tanjung Lesung dan produk lokal berciri khas yang berkualitas.


Peran Pemerintah, Akademisi, Dunia Usaha


Menangkap peluang strategis nasional di Kabupaten Pandeglang haruslah melibatkan peran dari beberapa pemangku kepentingan. Mengingat KEK Tanjung Lesung telah ditetapkan menjadi kawasan ekslusif yang akan dibangun berbagai macam fasilitas. Bekerjasama dengan pihak swasta dalam hal ini PT Banten West Java (BWJ) anak perusahaan dari PT Jababeka tbk. Roda perekonomian ke depan pada bidang penunjang pariwisata harus segera dimantapkan seperti membangun pusat oleh-oleh ini. Dimana akademisi membantu meneliti kemungkinan, keberlanjutan dan peluang KEK Tanjung Lesung untuk dievaluasi menjadi bahan pembelajaran, pertimbangan, pembangunan daerah dan meningkatkan perekonomian daerah.


Sementara itu peran pemerintah adalah sebagai pendamping pelaku usaha khususnya UMKM yang rentan dengan segala probabilitas masalah yang melingkupinya. Agar terhindar dari segala kemungkinan misalnya gulung tikar, pihak pemerintah bisa memberi penguatan setiap kegiatan usaha para UMKM. Pemerintah memberikan fasilitas kemudahan perijinan (PIRT) pada produk dan oleh-oleh lokal dan setiap produk khususnya olahan pangan bisa memeroleh lisensi halal agar usaha yang dibangun layak dikembangkan karena bersifat legal. Selain itu, produk supaya berdaya saing pemerintah dapat memberikan penyuluhan terkait packaging dan branding, alasan teknis ini sangatlah penting untuk memberikan citra produk yang lebih eycachting dan menarik bagi wisatwan, terlebih Pariwisata Tanjung Lesung adalah master plan bertaraf internasional oleh sebabnya produk-produk lokalnya pun sebisa mungkin bisa menyesuaikan dengan konsep awal pariwisata. Sehingga apa yang telah tersusun rapih melalui pembangunan proyek strategis nasional, dalam hal ini KEK Tanjung Lesung beserta penunjangnya seperti pusat oleh-oleh bisa menjadi solusi menjadikan Kabupaten Pandeglang tercerabut dari stigma ketertinggalan dan kemiskinan. Semoga!

  • view 26