Dunia Pelangi Di Sekitar Kita

Anton Su
Karya Anton Su Kategori Lainnya
dipublikasikan 02 Juli 2017
Dunia Pelangi Di Sekitar Kita

Terbit di Radar Banten, Rabu,6 Maret 2017

Ku ingin tahu kau harus tahu
Ku ingin kau begitu agar kau tahu
Jadilah engkau milikku selalu utuh
Tanpa tersentuh Cuma aku
Bila ku mati kau juga mati
Walau tak ada cinta sehidup semati


Jadilah engkau milikku selalu utuh
Tanpa tersentuh cuma aku
Mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan (Vintage Naif Band)


Penggalan lagu fenomenal sepanjang sejarah ini pernah booming di era tahun 2000-an. Model dari video klip ini diperankan oleh Avi, seorang transgender. Sang sutradara sengaja memilih Avi dengan karakteristik waria dalam dirinya. Padahal, lagu berjudul Posessif ini lebih menunjukkan pesan tentang seorang kekasih yang terlalu sayang terhadap pasangannya. Namun, stereotip Avi telah membekas bagi penikmat musik, terlebih ketika bait Mengapa aku begini jangan kau mempertanyakan membentuk pesan seorang Avi dikehidupan sehari-harinya dalam lagu milik Band Vintage Naif.


Lagu Posessif seolah menggambarkan perspektif dunia pelangi, begitu istilah yang biasa dipakai oleh kaum homoseksual atau gay. Entah, saya sendiri tidak tahu makna dari peristilahan yang telah disepakati segelintir kelompok minoritas itu. Faktanya, mereka ada disekeliling kita, teman, sahabat bahkan saudara sendiri. Mereka punya insting kuat terhadap orang-orang yang punya kesamaan prilaku menyimpang. Tetapi mereka ada bukan untuk mengganggu ketentraman manusia. Sejatinya, laki-laki berpasangan dengan perempuan bukan malah melawan kodrat dari Sang Pencipta. Hukum-hukum agama jelas melarangnya.


Saya sendiri heran, mengapa mereka bisa ada? Pernah suatu ketika, teman saya yang memiliki orientasi seksual menyimpang bercerita panjang lebar tentang dirinya, komunitasnya dan dunia gelap yang selama ini dihadapi, sebut saja Trenz. Tak ada yang aneh dengan perawakan dirinya, tampak seperti lelaki tulen pada umumnya. Gerak-geriknya tak menunjukan tanda-tanda kemayu. Gaya bicaranya pun kuat, keras dan ngebas. Ia bercerita tentang prilaku kodratnya yang lahir sebagai laki-laki tetapi berhati perempuan. Ia punya ketertarikan sesama jenis. Uniknya, Trenz tak ada niatan sedikit pun untuk berkenalan dengan lelaki pujaannya. Ia hanya menaruh rasa bukan untuk merasakan kegagahan lelaki yang ia suka. Karena ia tahu, itu sebuah dosa terindah.


Suatu ketika, ia bertanya bukankah semua mahluk diberikan rasa cinta dan sayang terhadap sesama manusia, entah laki-laki atau perempuan, anak kecil atau orang dewasa? Apa hanya sekedar menaruh kasih sayang terhadap seorang pria, sehingga pantaslah orang itu dihina? Ketertarikan datang secara alami, bukan dibuat-buat terus diatur sedemikian rupa. Semua mahluk punya ketertarikan terhadap apa pun entah benda, manusia atau pada hewan. Bukan tidak mungkin, Pilkada Banten saat ini ada indikasi ketertarikan seorang calon pemimpin terhadap kekuasaan, ingin memimpin suatu daerah untuk bisa mengambil kebijakan dan tindakan dengan otak dan dengkulnya. Hal itu sungguh manusiawi.


Publik mungkin akan mengecam keberadaan kaum Luth yang malang begitu klise yang dibuat Emha Ainun Nadjib (Cak Nun) yang menurut sebagian orang harus dimusnahkan karena menyimpang dari ajaran-ajaran agama dan kultur budaya Indonesia, tidak sedikit pula sejumlah orang bahkan artis papan atas yang pro menginginkan Lesbian, Gay, Bisex, Transgender (LGBT) diakui keberadaannya dan status sosialnya. Secara agama melegalkan LGBT bukan pilihan. Namun, dalam perspektif kemanusiaan, mereka lahir bukan atas dasar kehendak menjadi pria atau wanita. Jiwanya wanita namun terjebak dalam tubuh pria, pun sebaliknya. Belum ada yang bisa menjelaskan bagaimana prilaku itu muncul, namun secara ilmiah, singkat menjelaskan tubuh pria dengan testoteron rendah berpotensi menyukai sesama jenis. Apa dengan menyuntikan gelembung keperkasaan prilaku itu bisa sembuh total? Sungguh tak ada yang bisa menjelaskan secara pasti. Cak Nun bahkan bertanya-tanya sendiri ketika menceritakan dirinya yang hendak diperkosa oleh seorang teman lelakinya di pesantren, Apakah agama tidak punya ilmu yang sanggup menerangkan hal tersebut? Agama hanya sanggup menjelaskan hukum, fatwa dan peraturannya.


Sebenarnya, hal yang perlu dihindari oleh kelompok gay atau apa pun istilahnya, ialah mendekati perzinahan dengan sesama jenis. Karena semua orang tahu, alim ulama, kiyai, ustad dan pemuka agama selalu memberi nasehat berkali-kali terhadap persenggemaan antara laki-laki dan wanita, yang akibatnya bukan main-main, apalagi beradu zakar dan zakar. Pergaulan bebas macam ini jelas bukan budaya ketimur-timuran. Pernah seorang pemuka agama di suatu desa mengilustrasikan betapa dahsyatnya siksaan-siksaan di neraka bagi kaum penyuka sesama jenis yang tiada tara pedihnya. Sungguh, kaum Luth yang malang tak bisa menghindari kepedihan-kepedihan yang dialami kelak di alam paling kekal seandainya itu terus dilakukan.


Namun, bukan berarti kita mengutuk mentah-mentah seorang gay di kehidupan sosial dengan cara mengucilkan, seolah mereka hanya penyakit masyarakat yang mesti ditumpas habis-habis, tak pantas mereka dihina menjadi bahan tertawaan. Hampir semua orang bahkan saya sendiri pernah membuat lelucon antara pria A dan pria B dijodohkan atau menirukan gaya lelaki setengah matang berlenggak-lenggok bak Putri Indonesia. Mungkin disekeliling orang yang sedang ditertawakan itu ada satu atau dua orang yang merasa tersinggung, tapi menutupnya rapat-rapat agar tidak ketahuan demi terhindar dari sanksi sosial. Hal-hal demikian seolah menjadi bahan olokan dan lelucon tatkala sarapan atau makan siang. Mungkin saja ada kesedihan diantara gelak tawa bahan obrolan. Sejenak berfikir, seandainya kita ada di posisi mereka? Hal apa yang akan dilakukan?


Ada dua hal pembeda kaum Luth yang malang itu, menurut Cak Nun keabsahan kultural bagi kewadaman atau homoseksualitas yang kodrati dengan yang karena dirangsang oleh lingkungan budaya, amat berbeda. Mereka-mereka bernafsu karena atmostfer lingkungannya ini perlu mencuci dan mempertanyakan relevansinya, begitu budayawan bertutur. Tetapi, apabila itu secara kodrati hinggap ke dalam jisim adalah suatu darurat. Ia mengumpamakannya dengan makan daging babi di sebuah hutan. Seperti Trenz, teman saya yang memiliki ketertarikan sesama jenis secara kodrati, ia menyukai pria bukan berarti terjerumus menikmati kealamiannya menjadi wadam hakiki. Lagi-lagi ketertarikan itu siapa pun boleh merasakannya, terlebih dengan seorang pria. Hal yang tidak perlu dilakukan ialah mendekati sesuatu hal yang difatwakan, dilarang oleh agama, seperti mendekati zina. Tetapi, rasa sayang, cinta dan tertarik adalah sifat manusia yang kodrati. Di tempat gym, keramaian, mall, bahkan masjid sekalipun kaum Luth yang malang ini tetap ada disekitar kita. Atau jangan-jangan pembaca sendiri salah satunya?

  • view 96