Pepes Jantung Pisang

Anton Su
Karya Anton Su Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 01 Juli 2017
Pepes Jantung Pisang

Pertengahan puasa, saya ikut lotre  --kata ganti dari lomba menulis. Saya sombong duluan, lotre kali ini saya akan menang. Daftar rencana seusai lebaran tahun ini, saya catat jauh-jauh hari, diantaranya pergi ke Bali dengan uang lotre itu, menemui Yehan Minara yang sedang menjauh sejenak. Setelah ke Bali, saya ingin kembali ke media lagi menjadi seorang jurnalis.


Penantian panjang pengumuman lotre itu berpekan-pekan. Akhirnya, hari pengumuman pun tiba, saya dinyatakan kalah lotre. Bagaimana perasaan saya ini? tersayat-sayat. Saya sudah besar kepala sebelumnya, hasilnya nihil. Kecewa. Seharian berkontempasi, saya merenung dan mengelus-elus dada sendirian seraya membatin.


Namanya juga kompetisi, tentulah ada kalah dan menang. Yang terpenting saya sudah membiasakan diri berlatih entah ada atau tidak ada lotre. Benarkan? Oh, benar juga.


Saya nyengir kuda, saking lapangnya saat itu ditempa kekecewaan yang mendera. Biarlah, yang terpenting saya bisa mengalahkan rasa malas ini untuk terus berlatih. Dan menjadikan pelajaran untuk bisa berlapang dada. Tetiba dalam pikiran saya terdengar lantunan lagu Sheila on seven berjudul sama lapang dada. Pergi ke Bali saya tunda, ingat, bukan berarti jadwal perjalanan ke pulau dewata itu urung saya lakukan, masih banyak siasat dan usaha yang bisa membawa saya kesana, yakin!


Teman-teman mengajak ke pantai usai bersalam-salaman di hari raya idul fitri. Kenapa harus pantai coba? Jujur, saya paling tidak suka menghabiskan liburan di pantai. Alasannya selalu sama, terlalu ramai. Semua orang memiliki tujuan berlibur ke pantai usai lebaran. Saya menghindari itu semua. Ketika banyak sekali manusia pergi kesana, artinya saya akan melihat lautan manusia berenang di bibir pantai. Panorama yang membuat saya merasa ingin segera enyah bahkan terasa mual memikirkannya. Baik, liburan ke pantai bukan satu-satunya acara berlibur, saya sudah mencoret acara semacam itu. Paling ujungnya teman-teman saya pacaran. Dasar mereka semua nggak peka.


Dan alasan itu saya tidak ingin pergi ke Anyer, Carita atau apa pun berbau pantai. Walau Bali menawarkan destinasi itu, namun tujuan saya ke Bali bukan menikmati pantai melainkan menguji mental saya agar mudah menyesuaikan diri, bertemu orang-orang baru di kereta, jalan, bus atau mungkin saja saya bisa memiliki orang tua angkat seperti Yehan? Doakan diri ini Yehan Minara, saya masih merecoki nasib disini dengan berbagai macam alasan untuk tidak berangkat saja ke ujung dunia sekalian.


Saya mantap memutuskan berlibur di Nambo semacam area perkebunan di tengah hutan menghabiskan sisa angpao dari sepupu saya. Luni dan Anam mengamini itu. Saya menawarkan mereka untuk ikut bacakan.


"Mang Luni, gimana kalau bacakan aja? Kita masak jantung pisang kayak dulu di Nambo." Tawar saya.


"Ide yang bagus. Besok saya juga mau ngored disana," Luni menjawab.


Kami sepakat berlibur di Nambo. Rupanya kedatangan saya disambut hangat oleh para petani disana. Saya kira, bacakan kali ini tok, dihabiskan bertiga saja. Ramalan saya melesat bebas mengapung ke udara, disana ada Ibu Janah, Mang Ading, Mang Jaja dan Mang Mad. Mereka para petani di Nambo, mereka tidak pernah dan tidak ingin berlibur seperti orang-orang kebanyakan. Yang mereka inginkan adalah ladang mereka tumbuh subur, hasil panen melimpah dan bisa dijual ke tengkulak. Beberapa hasil perkebunan seperti kelapa, padi, singkong dan lainnya biasanya dijual ke pasar atau tengkulak, itu pun harus dibagi dengan pemilik kebun. Misalnya kelapa, dijual empat ribu rupiah, dan hasilnya akan dibagi dua dengan pemilik kelapa itu.


Saya dijemput Anam. Motor yang terparkir di saung Ibu Janah, saya bawa ke Nambo. Takut terjadi sesuatu hal di luar dugaan, dicuri karena jarak menuju Nambo cukup jauh persis gang sempitt yang hanya cukup dilalui satu motor saja, bila berpapasan dengan motor lainnya terpaksa harus berhenti untuk mimpersilakan motor lain lewat terlebih dahulu. Semak belukar tumbuh subur, bahkan menutupi jalan setapak yang sedang saya dan Anam lewati ini. Layaknya hutan, hewan liar masih bisa kita jumpai di Nambo ini, ular tanah dan kobra menjadi penghuni paling mengerikan.


Sepanjang jalan yang saya lalui, sungai ciujung membentang luas dan mengular sangat panjang hingga pesisir lautan nun jauh disana. Sungainya berwarna coklat kopi susu terlihat tenang mengalir, namun jangan sampai terkecoh sangat deras sekali. Jangan sekali-kali mencobanya bila tak piawai berenang. Kedalamannya tak terkira melebihi tinggi orang dewasa.


Sesampainya saya dan Anam di saung Nek Janah ia memiliki dua saung di Nambo dan Gili senyuman nenek itu menungging ke arah saya. Nek Janah, Mang Ading dan Mang Jaja sudah mencuri dengar kabar kedatangan saya dari Luni.


"Bukannya, ade ini yang sedang duduk di Gili ya? Mamang tadi lewat, kalau mau kesini mah bareng." Bapak berusia enam puluhan tahun itu berpapasan melihat saya tengah duduk sendiri di pinggir sungai beralaskan kursi bekas pohon ditebang.


"Iya, soalnya saya nggak tau kalau Luni juga ada disini," terang saya. Mang Ading menyila saya duduk di saungnya seraya tersenyum. Lipatan kerutannya membekas di semua wajahnya itu, ada kehangatan membentang tatkala saya melihat pasutri yang saling mencinta puluhan tahun itu.


Saung itu biasa digunakan tempat berteduh kalau Mang Ading istirahat, sementara Nek Janah setia mendampingi suaminya berkebun. Setiap hari Nek Janah memasak di saung itu kadang di saung yang ada di Gili. Saya merasakan seperti sedang syuting acara di salah satu stasiun televisi. Segala macam bahan pangan tersedia disini, tak perlu khawatir kalau kelaparan. Karena disekelilingnya banyak sekali tanaman dan pohon-pohon yang bisa dimanfaatkan untuk makan. Ada papaya yang masak di pohon, mangga yang menguning, singkong, jeruk, kelapa, melinjo, ciplukan, pisang dan masih banyak lagi.


Saya membawa air mineral dan dua papan tempe untuk dimasak. Pesanan Luni kemarin malam bukanlah tempe melainkan tahu, sayang penjual tahu di pasar tambak masih tutup. Hanya ada pedagang sayuran yang menyediakan tempe saja. Saya dan Anam lalu membelinya. Meski Luni menunjukan raut muka kecewa, yang sebenarnya ia ingin makan tahu, namun kekecewaan itu tak terlalu berkepanjangan.


"Di pasar, tahu belum ada. Cuma ada tempe." Saya menengok pada Anam.


"Sudahlah, tidak apa-apa namanya juga lebaran masih banyak yang tutup. Ayo kita siapkan semuanya, "
Wah, rupanya kami masih membutuhkan beberapa bahan lain, air bersih dan satu liter beras. Nek Janah menyuruh Luni mengambil berasnya di saung gili. Sementara air berih mengambilnya di PDAM Desa Cijeruk. Saya ikut menemani Luni dengan membawa drijen besar, akua botol dan derijen kecil.

"Kalau masaknya siang-siang begini kapan matengnya?" Tanya saya di belakang Luni yang sedang mengendarai motor. Matahari sangat terik. Motor yang dilalui Luni menyerempet semak-semak mengenai kaki saya dan Luni.


"Justru itu, makan akan terasa enak bila perut sedang lapar-laparnya." Jawab Luni masih mengendarai motornya yang tak terawat. Namun dari motornya itu Luni sering mendapat job ngojek dari para petani yang ada di Nambo. Entah membawa karung kelapa, kayu bakar, rumput bahkan petani itu sendiri. Kalau sempat, Luni selalu menyambutnya.


Bahan-bahan bumbu sudah lengkap. Beberapa jantung pisang telah tersedia di amben. Nek Janah sigap menumbuk cabe rawit, bawang merah dan tomat.

"Ini nggak ada garamnya ya? "


"Iya, kita lupa beli garam tadi. Cuma beli Masako aja," saya menjawab pertanyaan Nek janah.


"Kalau nggak ada garamnya kurang mantep. Nggak enak nanti, "Mang Ading memberikan saran. Golok di tangan kananya membilah-bilah kayu di tangan kirinya.


"Sudah-sudah, Masako juga enak kok. Asinnya kerasa." Perdebatan tentang garam cukup menyita waktu. Saya bisa saja mengambil garam di pasar lagi, namun urung karena sedari tadi kami bolak-balik membawa beberapa perlengkapan masak. Waktu sudah mulai duhur. Mang Ading tetap kuat dengan keinginanya supaya pepes jantung pisang dan sambal yang dibuat Nek Janah diberi garam.


"Nenek, tadi nggak nyuruh Luni bawa garam lagi. Jadi kelupaan begini."


"Gimana nih, nggak ada garamnya?" Mang Ading bertanya.


“Sudah nih, ada garamnya. Nggak usah kuwatir." Seketika itu saya mulai lega. Garam di saungnya terselip diantara atap berbahan bambu itu. Garamnya itu biasa digunakan ketika akan memasak untuk suaminya, Mang Ading.


Panci berisi nasi liwetan sudah masak. di luar lapisan panci itu terlihat sangat hitam bekas bara api yang sedari tadi memanaskan logam perak itu. Nampaknya, Nek Janah piawai menanak nasi liwetan. Tungkunya pun tampak manut apa perintah Nek Janah, bila api harus menyala, segera menyala dan bila api harus mati, dia akan mati menyembulkan asap ke udara.


Menanti pepes jantung pisang matang, saya mengupas papaya untuk dimakan. Di belakang sosok pria tua menghampiri kami, lalu duduk. Namanya Mang Mad, ia petani juga. Sejak ia datang, Mang Mad bercerita panjang lebar. Sampai kami tak kebagian mengambil jatah berbicara. Ia hanya ingin didengar oleh saya, Anam dan Luni. Saya mendengarkan celotehannya itu, walau saya mulai bosan mendengarnya karena Mang Mad selalu menyelipkan kehebatannya semasa muda, seperti memiliki ilmu jampe, ilmu katon, ilmu kanuragan dan segala macam tektekbengeknya.


Ada cerita yang menarik darinya, ia membandingkan anak muda zaman dia dengan anak muda seumuran saya sekarang. Dulu, acara ngapel itu selalu rombongan membawa teman-temannya di kampung, apalagi Kampungnya dengan kampung Nagara, konon sering sekali kisruh gegara membela satu temannya saja. Saat ngapel pun mereka membawa golok, batre dan kepalanya tetap mengenakan peci songko. Rombongan yang dibawa sekitar sepuluh sampai lima puluh orang. Berbeda dengan pemuda masa kini, acara ngapel ya, dilakukan sendirian agar bisa bercinta dengan pacarnya, memadu kasih hingga pecah semburat senja diantara keduanya.


"Dulu, malam pertama itu saya menggigil kedinginan saking tak terbiasa tidur bersama perempuan di ranjang. Zaman sekarang kok, kayaknya lumrah dan mereka sudah terbiasa berdekatan dengan perempuan, " ungkap Mang Mad yang bersuara lantang itu. Kami seketika tertawa berjamaah, persis seperti mendengar ceramah acara muludan di kampung-kampung.

Terik matahari tak terlalu membakar kami. Terhalang diantara pepohonan yang rindang, padahal terangnya sangat mengkilat di tepian sungai ciujung itu. Kami tak merasakannya. Suara kumandang adzan dari kampung mengalun merdu. Kami masih sibuk memanggang pepesan jantung dan tempe. Ya, tempe yang saya beli langsung dibakar begitu saja dengan menusuknya seperti bakakak ayam panggang khas sunda tak diberi bumbu apa pun.


"Nasinya sudah matang, pepesan jantung dan tempe bakar juga sudah matang. Nih, sambalnya. Ayo dimakan." Nek Janah mempersilahkan.


Pepesan jantung pisang dan tempe bakar telah matang. Luni mulai memindahkan nasi liwet di atas daun pisang sebagai pengganti piring. Tempe bakar tadi dipotong-potong dengan tangan telanjang, dicampur dengan sambal buatan Nek Janah. Pepesan jantung pisangnya pun segera dibuka dan dituang di atas nasi liwet. Uap panas masih mengudara disekeliling makanan yang telah tersaji.


"Nek Janah, Mang Ading ayo bareng makan disini," ajak Luni.


"Sudah, kalian duluan saja. Nasinya masih banyak ini. Kami sisanya saja," Nek Janah tersenyum simpul. Ada rona mengharukan ketika Nek Janah berbicara begitu. Tetiba saja saya teringat almarhum nenek yang selalu mempersiapkan makan siang untuk saya. Persis Nek Janah ini. Perasaan haru itu lenyap, kami menyantapnya sangat lahap. Meski mengundang lalat hutan yang sangat besar-besar, kami tak mempersoalkannya, saya hanya mengibas-ibaskan tangan agar lalat tak sampai ke permukaan makanan paling enak ini.


Benar apa kata Luni, makan disaat lapar itu benar-benar terasa sekali nikmatnya, apalagi makan bersama mereka, para petani ladang di Nambo. Kesederhanaan Nek Janah, Mang Ading dan Mang Jaja telah memberi saya kelapangan hati. Saya tengah dirundung kepiluan yang membatin dan mendera beberapa pekan ini. Seketika itu juga, kekecewaan kalah bermain lotre benar-benar lenyap. Meski masih ada satu lotre lagi tengah saya nantikan, saya ingin melupakannya dan tak ingin berharap lagi kepada mahluk serupa manusia.


Saya yakin, keinginan Yehan menjauh sejenak ke Timur Indonesia karena kepercayaan dirinya dan keyakinannya terhadap sang pencipta bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Teringat tausiah Aa Gym pekan lalu saat masih berpuasa Ramadan, lakukan kemudian lupakan apa yang sedang kita usahakan, jangan terlalu berharap kepada mahluk.


Sepertinya Yehan resmi menginspirasi saya. Dan saya yakin bisa melakukan perjalanan yang tak serupa. Sebagaimana apa yang saya katakana pada Yehan, usai bacpackeran saya ingin kembali beraktifitas lagi di media sebagai reporter saya lebih senang menyebut profesi ini sebagai jurnalis. Semoga!


Suatu sore yang mendung dan kesepian.

  • view 42