Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 20 Maret 2018   18:09 WIB
MENGINTIP NAMA BESAR RBT DARI BALIK ARUS DERAS ISU DUNIA MAYA

Akhir-akhir ini, pergerakan isu yang sengaja menggiring opini masyarakat menjelang pesta demokrasi semakin menjadi-jadi. Deras menyeret pada anggapan yang menyesatkan, hingga mampu menyulut rasa kecewa, meski sebenarnya tak seperti yang masyarakat sangka.
Propaganda yang membawa isu-isu ini marak terjadi di dunia maya. "Persepsi" telah menjadi komoditi siap saji yang diracik sedemikian rupa sesuai pesanan dan siap disuguhkan di sepanjang lintasan aktifitas penduduk dunia maya.
Mendadak, alamat-alamat link dan tautan-tautan informasi yang biasanya bersliweran setiap kali membuka akun Facebook pribadi saya tiba-tiba menjadi sepi. Tak sebanjir hari kemaren, lebih banyak informasi resmi dan iklan-iklan perusahaan untuk mengangkat daya jual produk dan melakukan promosi.
Paginya, acara berita di Televisi menayangkan siaran tertangkapnya para penyebar hoax dan fitnah untuk menyudutkan tokoh politik, ormas dan partai tertentu. Mereka bekerja secara profesional sesuai dengan pesanan oknum seseorang atau sebuah kekuatan. Demi mendapat bayaran, pekerjaan melawan undang-undang dan hukum pun mereka lakukan.
Di Pamekasan, aksi-aksi serupa juga tak kalah parahnya. Adanya laporan Tim Pemenangan pasangan BERBAUR (Bersama Ra. Badrut Tamam dan Raja'e) ke Polres Pamekasan atas munculnya akun Facebook abal-abal yang mengatasnamakan salah satu kandidat mereka, adalah indikator nyata akan buruknya cara-cara politik yang dilakukan kubu rival menjelang Pilkada 2018. Retorika kotor ini sangat merugikan pasangan kandidat tersebut karena postingan-postingan statusnya seakan menjauhkan diri dari ulama'.
Saat laporan tim BERBAUR atas Black Campaign ke Polres Pamekasan tersebut viral di media sosial, respon balik serupa dari kubu seteru politik juga dilancarkan. Mulai dari kecaman atas tempat sebuah acara kegiatan politik BERBAUR di daerah pesisir utara yang dianggap tidak berizin, hingga mengungkit-ungkit kembali artikel berjudul "SPIRIT PEMUDA ; MENJAWAB AMBIGU PILKADA PAMEKASAN" yang dinilai mengandung unsur "Hate Speech".
Dalam pandangan penulis, sulit dipercaya jika sebuah agenda politik Paslon Cabup-Cawabup yang spektakuler tersebut abai terhadap urusan peridzinan. Pastinya, telah tertata rapi oleh tim yang tentunya sangat faham tentang kerja-kerja planning, oganizing, actuating, controling dan evaluating.
Begitu juga dengan redaksi tulisan dalam sebuah artikel. Sangat ironis jika seorang penulis tidak mengerti kode etik kepenulisan. Apa yang ia tulis tidak akan lolos dari seleksi yang dilakukan awak media di meja redaksi, kecuali telah melalui proses tulis menulis sebuah karya ilmiah dengan memperhatikan koridor etik jurnalistik dan kaidah hukum kepenulisan.
Jika terjadi riak-riak perlawanan dari pembaca dengan mencari-cari unsur "Hate Speech" di dalamnya -- dalam konteks politik -- hal itu lebih dikarenakan pesan dalam tulisan tersebut yang dirasa menggangu pihak-pihak tertentu. Sebagai sebuah karya ilmiah, maka langkah paling bijak yang seharusnya dilakukan adalah dengan menyikapi secara ilmiah pula. Inilah moment untuk adu karya yang didukung oleh fakta dan data. Bukan dengan melakukan pembelaan yang menonjolkan amarah secara membabi buta.
Saat ini postingan politis menjelang Pilkada Pamekasan di dunia maya -- khususnya media sosial -- kembali bergetar. Kondisi ini persis seperti sepuluh tahun yang lalu, ketika seorang politikus PKB menanggalkan jabatannya di keanggotaan DPRD Jawa Timur untuk bersaing merebut kursi Bupati di Pamekasan.
Sebagai pendatang baru, masyarakat bertanya-tanya : "prestasi apa dan capaian-capaian apa saja yang pernah ia berikan untuk Pamekasan selama menjabat anggota legislatif tingkat provinsi?". Pertanyaan itu kembali diangkat saat ini untuk mencounter kehadiran Ra. Badrut Taman sebagai kandidat Bupati yang memiliki latar belakang yang sama sebagai wakil rakyat di DPRD Jawa Timur.
Dari pertanyaan ini, maka penting bagi masyarakat untuk mengetahui tugas dan wewenang seorang DPR. Bahwa DPR tidak memiliki tugas langsung untuk merealisasikan program pemerintah di daerah. Eksekusi terhadap program pemerintah adalah bagian dari tugas dan tanggung jawab Dinas Kabupaten atau Kementerian terkait. Tugas dan wewenang DPR hanya menyangkut fungsi legislasi, anggaran dan melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan UU, APBN dan kebijakan pemerintah.
Terkait dengan tiga tugas dan wewenang DPR di atas, banyak hal yang sudah dilakukan oleh Ra. Badrut Tamam selama menjadi wakil rakyat. Dimulai dari menyerap, menghimpun, menampung hingga menindaklanjuti aspirasi rakyat menjadi aksi nyata di lapangan.
Aksi-aksi kerakyatan tersebut salah satunya ia tunjukkan dengan ikut berjuang dalam proses anggaran untuk pembangunan kantor MWC NU (Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama') se Jawa Timur. Tidak banyak yang tau, bahwa Ra. Badrut Tamam adalah satu-satunya anggota DPR yang Menggagas dan menjadi pioner pendorong anggaran 120 milyard untuk Keluarga Besar Nahdatul Ulama' se-Jawa Timur.
Khusus wilayah Madura, aksi yang ia lakukan yaitu dengan ikut mendorong anggaran Pemerintah Provinsi untuk pembangunan kantor PC NU (Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama') Pamekasan, Sumenep dan MWC NU se-Kabupaten Sampang.
Kepedulian Ra. Badrut Tamam terhadap bidang pendidikan, dakwah dan kegamaan ditunjukkan dengan mendorong anggaran untuk kesejahteraan mushallah, Madrasah Diniyah dan Pondok Pesantren. Semuanya ia lakukan pada saat menjabat anggota legislatif di Jawa Timur.
Disela-sela aktivitasnya sebagai anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKB (Partai Kebangkitan Bangsa), ia juga ikut serta dalam proses pembubaran lokalisasi prostitusi Dolly dalam kapasitasnya sebagai ketua KIPPP (Komite Indonesia Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi) Jawa Timur. Inilah bentuk kepedulian Ra. Badrut Tamam dalam ikut berpartisipasi membasmi penyakit masyarakat yang pada waktu itu sangat meresahkan kita.
Tentunya, masih banyak konstribusi Ra. Badrut Tamam bagi masyarakat, bangsa dan negara yang tidak bisa tercover dalam tulisan artikel singkat ini. Kiprahnya melahirkan efek popularitas yang tidak bisa dibendung. Itulah sebabnya pada tahun 2013 silam harian nasional sebesar Jawa Pos mendaulatnya sebagai Pemuda Paling Populer. Capaian-capaiannya dan adalah fakta yang tidak bisa digerus oleh masa, karena dedikasi dan hasil-hasil pengabdiannya telah terpahat indah dalam ukiran sejarah.
Belum genap dua periode usia pengabdiannya di DPRD Jawa Timur, kini kondisi real masyarakat Pamekasan mengetuk hatinya untuk memimpin birokrasi di tanah kelahirannya tersebut. Pengalamannya selama menjadi wakil rakyat benar-benar mengajarkan arti penting sebuah jabatan sebagai wasilah, bukan semata-mata tujuan final yang hanya mementingkan kepuasan pribadi saja.
Tanggal 27 Juni tahun ini, rakyat Pamekasan akan menentukan nasibnya sendiri ke depan melalui Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten setempat. Pastinya rakyat yang lebih tahu, kepada siapa masa depannya sebagai warga masyarakat akan dititipkan.
Harapan-harapan usang yang telah lama terpasung dan terbengkalai, kini telah menemukan figur baru yang membawa misi perubahan. "Pemimpin Baru Harapan Baru" adalah mimpi indah masyarakat Pamekasan dalam tidur lelapnya yang sangat panjang. Hanya kehadiran Ra. Badrut Tamam yang diharap mampu membangunkan. Wallaahu a'lam..
*) Penulis adalah Kepala Rumah Tangga di Bengkel Ilmiah Pondok Buku, bagian dari Keluarga Besar Majelis Alumni IPNU Pamekasan.

Karya : Anti Kurawa