Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 31 Oktober 2017   13:25 WIB
Menyiapkan Prestasi & Bonus Demografi Dalam Kerja Sama Bakti Unity In Diversity

"Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya, beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia"

Gelora semangat dari kalimat tersebut, timbul pada pidato bapak Proklamator, sejak lebih dari setengah abad yang lampau. Kemudian digelorakan dari mulut ke mulut, dari kontributor ke kontributor, sehingga akhirnya sampai pada anak-anak muda jaman now.

Kalimat Bung Karno di atas juga dapat dimaknai dengan beragam hikmah serta dapat dibuktikan dengan berbagai berita. Prestasi-prestasi bangsa Indonesia sering sekali membuat pandangan dunia tertuju ke arahnya. Hal itu terjadi karena Indonesia tidak hanya sibuk untuk terus memerdekakan nasib bangsanya, namun juga terus berprestasi dalam kompetisi-kompetisi tingkat dunia.

Berlomba-lomba untuk menjadi juara sampai bisa membawa nama Indonesia adalah salah satu bentuk kerja sama kita dalam memperbaiki, memajukan dan mencerahkan karakter bangsa Indonesia. Tujuannya agar memacu gelora juara serta semangat dalam etos kerja yaitu kerja cerdas, kerja keras dan kerja ikhlas, serta membuang rasa mudah menyerah atau berputus asa.

Prestasi tidak hanya muncul dari para pemuda, melainkan muncul dari setiap jiwa muda. Beberapa contoh dapat kita jadikah hikmah, mulai dari Pak Ahmad Gunawan (61 th) pendaki gunung Everest dan puluhan gunung lainnya untuk melawan penyakit kanker yang dideritanya sehingga hal ini akhirnya menggugah hati dan perasaan masyarakat Indonesia.

Motivasi juga muncul dari Pak Habibie (81 th) seorang mantan presiden yang telah memiliki banyak hak paten namun tak pernah menjadi laten. Beliau terus muncul dengan berbagai inspirasi, saat ini beliau sedang mencetus Crowdfunding pesawat penumpang R80 untuk mengajak masyarakat agar dapat berpartisipasi kepada bangsanya sendiri, termasuk kepada anak cucunya nanti.

Gelora berjuang juga muncul dari kalangan anak-anak yang sejak dini telah membawa nama negeri, ada Joey Alexander (14 th) pemain piano, Aditya Bagus Arfan (11 th) pemain catur, Paduan suara cilik The Resonanz Children, dkk. Mereka mengikuti berbagai ajang tingkat dunia dengan keberanian, kemampuan, kegigihan dan keunikan yang dimilikinya.

Pemerintah juga tidak boleh hanya diam saja dalam mengapresiasi prestasi anak bangsa. Sebagai bentuk kerja sama, tahun 2017 ini pemerintah membentuk UKP-Pancasila (Unit Kerja Presiden dalam pembinaan ideologi pancasila) untuk mengapresiasi anak bangsa dengan cara menggelar Festival Prestasi Indonesia. UKP-Pancasila melakukan pemberian penghargaan terhadap 72 sosok Ikon Prestasi Indonesia pada 4 induk kategori, yaitu Saintis dan Inovator, Olahraga, Seni budaya, dan Pegiat sosial. Tujuh puluh dua ikon prestasi tersebut terdiri dari beragam latar belakang yang tidak sama, baik dari usia, suku, agama, ras, pekerjaan, jenis kelamin, disabilitas sampai dengan latar belakang ekonomi.

Prestasi tersebut tidak jauh dari bukti komitmen putra putri Indonesia terhadap sumpah pemuda sejak 89 tahun yang lalu. Dalam hal memperingati sumpah pemuda, saya hendak mengingatkan lagi bahwa sumpah pemuda bukanlah hanya komitmen dari anak-anak muda Indonesia, melainkan komitmen dari semua jiwa muda Indonesia. Hal ini sesuai pengakuan dalam kalimat "kami putra putri Indonesia".

Putra putri Indonesia tidaklah terbatas pada suatu golongan tertentu saja. Tidak juga terbatas pada usia, tetapi tentang mau tidaknya pribumi melakukan pengabdian kepada bangsa dan negara Indonesia. Sehingga akhirnya semboyan Sang Proklamator itu tidak sekadar menggema saja, tetapi terakumulasi dalam tindakan nyata perjuangan putra putri Indonesia yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia.

Perjuangan putra putri Indonesia dengan beragam perbedaan itu membuktikan bahwa prestasi dapat diraih tanpa harus melanggar aturan-aturan yurisdiksi. Mereka tetap dapat berprestasi mengatasi hambatan yang ada walaupun sering juga terjatuh namun tetap dapat bangkit lagi. Hikmah terpentingnya adalah mereka mau terus berprestasi sambil turut membawa dan memajukan nama Indonesia sehingga mereka mampu bekerja sama dalam membangun karakter bangsa.

Kita juga dapat belajar dari mereka bahwa dalam menempuh prestasi, Jika kita tidak berhasil hari ini, maka tekuni lagi dan lagi atau cari kembali yang betul-betul dicintai. Tak masalah jika hanya sedikit, asal selalu berkelanjutan. Juga tidak apa-apa jika bentuknya kecil, asal terus dikembangkan. Namun, jangan pernah berhenti sebelum mengubah mimpi menjadi bukti. Jangan berhenti sebelum mencetak kader-kader baru yang akhirnya dapat berdikari dan turut membanggakan negeri. Atau jangan berhenti sebelum ruh lah yang akhirnya sudah tak ada lagi.

Keahlian adalah sesuatu yang dapat dibentuk dari kegiatan kita sehari-sehari. Keahlian tidak datang sendiri. Sehingga pada saat datangnya kesempatan untuk berprestasi, kita sanggup menghadapi dan turut dalam meraih mimpi. Apapun yang diraih adalah wujud kerja sama dalam mengabdi pada negeri sebagai rasa syukur terhadap rezeki ilahi. Namun, akan semakin baik jika kita mau menerapkan strategi pembelajaran dan pengembangan yang berbasis masalah penyelesaian.

Selain peningkatan prestasi, saat ini Indonesia juga kian menyiapkan beberapa strategi untuk menghadapi bonus demografi 2020-2030. Bonus demografi ini adalah jumlah usia angkatan kerja (15-64 th) mencapai 70% penduduk, sedangkan 30% sisanya adalah para orang tua di atas 64 tahun dan anak-anak di bawah 15 tahun yang tidak dalam masa produk.

Hal itu berarti Indonesia akan mengalami keuntungan dari segi pembangunan, peningkatan tabungan masyarakat serta peningkatan tabungan nasional. Keuntungan tersebut tercapai dengan syarat, Indonesia dari segala golongan mampu bekerja sama dan produktif dalam penyediaan lapangan kerja serta peningkatan kualitas SDM utamanya pada layanan pendidikan, layanan kesehatan dan gizi, serta peningkatan investasi nasional. Namun jika sebaliknya, maka bangsa akan terdiri dari banyaknya pengangguran dan meningkatnya beban negara di seluruh teritorial.

Oleh karena itu, dibutuhkan kerja sama dari segala pihak untuk membuktikan bahwa putra putri indonesia dari segala golongan mampu membanggakan tanah tumpah darahnya yang satu, bangsanya yang satu, serta menjunjung bahasa persatuannya yang satu, bahasa Indonesia.

#marikerjakeras #kerjacerdas
#kerjaikhlas #sumpahpemuda2017
#kitatidaksama #kitakerjasama

#cakeep

Karya : Anri Ibnurrobi