Mencintai dalam Diam, Huh?

Muhammad Adha Trisna Sampurno
Karya Muhammad Adha Trisna Sampurno Kategori Renungan
dipublikasikan 15 September 2016
Mencintai dalam Diam, Huh?

Mencintai dalam diam, huh?

Menyelipkan namanya di bait doa?  

Tidak ada yang salah, hanya kurang tepat saja meletakkan namanya di bait-bait doa.  

Mereka bilang itu sesuatu hal yang romantis. Ah, tidak demikian! Romantis tidak seperti itu.  

Mereka bilang menyelipkan namanya di sujud terakhir adalah hal yang romantis, mereka bilang itu cinta dalam diam.  

Duhai kawan, ada nama yang lebih pantas dan lebih syahdu untuk didoakan di sujud terakhirmu, yaitu nama kedua orang tuamu.  

Mereka bilang mengirimkan sepucuk surat melalui bait-bait doa di sujud terakhir adalah hal yang romantis, mereka bilang cukup dengan doa dapat memeluk dirinya yang di sana.  

Duhai kawan, ada surat cinta yang lebih utama untuk dikirimkan melalui doa untuk guru yang telah mengajari kita untuk membaca, mengajari kita arti hidup, serta yang selalu sabar menghadapi kita sebagai muridnya.  

Mereka bilang bertegur sapa dalam doa adalah hal yang paling romantis, mereka bilang bahwa syair cinta terdahsyat cukuplah doa yang ditemani air mata.  

Duhai kawan, ada saudara kita yang lebih pantas untuk terus kita tegur dan kita sapa di dalam doa, yaitu mereka yang sekarang sedang sendirian, kehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, sekolah, bahkan negeri mereka sendiri. Sudahkah bertegur sapa di dalam doa dengan saudara kita yang sedang dilanda kezhaliman di negeri Syam sana?  

Ada yang jauh lebih romantis daripada meminta kesemogaan agar seorang yang bukan mahram dalam doamu itu dia yang terbaik untukmu, yaitu memintakan ampun serta rahmat dari-Nya untuk seluruh saudara seiman di seluruh dunia.  

Ada pinta yang lebih romantis dari sekedar ingin bersanding berdua dengan dirinya di mahligai pernikahan, yaitu meminta agar dapat terus tertawa bahagia bersama orang yang kita cintai, saudara seiman, dan keluarga di surga kelak.  

Jangan bodoh untuk meminta dia yang terbaik bagi kita. Jangan memaksa Allah untuk menjadikan dia yang terbaik bagi kita.  

Allah Maha Tahu, manusia tidak. 

 

Dimuat dalam buku Di Balik Tabir Hujan

  • view 288