Mari Bercerita episode 1

Annisa Mikaila
Karya Annisa Mikaila Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Januari 2016
Mari Bercerita episode 1

Sekarang ini sedang hujan dengan derasnya di pagi hari. Kami menikmati hujan kami bersama (mungkin bisa saja ini yang terakhir). Tapi aku ingat apa kata ibu , ?Jangan pernah berkata ini yang terakhir? . Aku sedang memandang hujan dengan diamku. ?Bagaimana aku, apa yang harus aku lakukan. Tidak ada lagi orang yang aku ajak untuk kencan berdua. Kencan maksudku disini ketika aku bisa bercerita dengan kalem walaupun tidak sekalem saat aku bercerita dengan Tuhan. Aku pandangi temanku yang sebentar lagi akan pergi jauh

?Kamu kenapa? ? Pasti kamu sedih ya aku mau berangkat besok ? hehehe ? kata teh embun.

Aku hanya tersenyum. Sambil berbalik memandang hujan lewat jendela yang menghalangi kami. Memang hari ini hujan terasa berbeda tidak seperti 10 tahun lalu. Kami berlima sering bermain hujan bersama. Walaupun besoknya ada yang flu , kalo sudah dijenguk biasanya langsung sembuh.?

Kala itu aku tidak bersemangat sama sekali. Sangat lama ku pandangi hujan. Kami hanya dibatasi oleh jendela di rumah teh Embun. Berbeda dengan Kak Biru. Kak Biru membantu teh Embun untuk memilih buku-buku kesayangan Teh Embun yang akan dibawa ke luar negeri. Aku masih diam membisu. Mungkin sebenarnya Teh Embun tau kalau aku yang paling merasa kesepian jika ditinggalkan teh Embun tapi dia masih sibuk untuk merapikan barang-barang yang akan dibawa dan aku pun tau teh Embun merasakan hal yang sama denganku namun tidak benar-benar diperlihatkannya.

<!-- pagebreak -->

?Ading, kamu gak laper ? Biasanya langsung aja ke dapur kalo lagi hujan gini. Hahaha?.

? Aku diam dan tak aku hiraukan. Aku pun pergi dari samping jendela. Dasar kakakku yang satu ini memang selalu mengganggu suasan hati tapi pinter juga untuk merubah suasana hati. Aku sayang kamu kak. Tapi kali ini waktunya tidak tepat. Aku pun pergi ke Garasi (Galery Kreasi). Sebenarnya tempatnya memang ada di garasi rumah teh Embun tapi kami buat-buat aja singkatan dari Garasi. Isi Galery itu penuh dengan kenangan kami berlima. Sama seperti tadi aku masi saja diam sambil menahan air mataku. Sampai pada akhirnya aku melihat sebuah bingkai fotoku dengan teh Embun. Setetes demi setetes air mataku pun jatuh. Aku merasa seperti ada seseorang yang berjalan menuju ke arahku. Hal yang tak pernah aku duga selama ini. Mas Raga.

? Mas Raga adalah orang yang aku kagumi dan (mungkin) orang yang aku cintai selama 8 tahun sejak aku pertama kali melihatnya di rumah teh Embun. Panggilanku untuknya Mas Raga, padahal nama lengkapnya Muhammad Reza Galih Finanda. Entah kenapa nama Raga adalah nama yang cukup sederhana untuknya ketika aku memanggilnya.

?Ini sapu tangan buat kamu Dinda.?

?Mas Raga tau darimana saya disini ? Rasanya saya tadi gak ngeliat Mas Raga?

?Gimana gak liat, orang segede Dinda lewat di depanku. Gak nyapa lagi. Terus aku ikutin ternyata Dinda disini?

?Astaghfirullah, iya kah mas ? Maaf saya bener-bener gak ngeliat. ?

?Iya, gak papa kok. Hehehe. Kalian berdua sama-sama cantik ya, sama-sama anggun?

? Aku kaget sekali Mas Raga berkata seperti itu. Aku pun takut di galery hanya aku berdua bersama Mas Raga. Tiba-tiba aku memilih pergi dari galery itu.

?

Bersambung~

  • view 130