Bagian 1

Annisa Mikaila
Karya Annisa Mikaila Kategori Project
dipublikasikan 31 Oktober 2016
Penuntut Maaf

Penuntut Maaf


Luka ini sudah lama. Aku hanya ingin kata Maaf darimu Pak.

Kategori Acak

154 Hak Cipta Terlindungi
Bagian 1

Menjadi anak dari seorang perwira tentara.

Terdidik dengan keras. Terdidik dengan cara yang kurang memanusiakan manusia. Masa kecil dengan penuh rasa iri. Tapi akan aku buktikan rasa bencimulah yang membuatku kuat.

Aku adalah anak keempat dari 5 bersaudara. Memiliki 3 orang kakak dan seorang adik.  Aku seorang anak laki-laki. Dua orang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki serta adik laki-laki yang selalu mengelilingiku. 

Bapak adalah seorang perwira tentara. Entah haruskah bangga atau malu atau tak ingin. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga biasa. Ibu masih seorang Ibu. 

Seperti biasa, sebelum sekolah kami sarapan pagi bersama. Kala itu sekitar tahun 70an. Hanya sarapan nasi dan telor dadar yang dipotong-potong sudah membuat kami senang. Walaupun nasinya tidak seenak sekarang ini. Kami berlima berangkat sekolah bersama. Mbak Ayu, kakakku yang sulung bisa dikatakan asisten ibuku. Yaaa, Karna dia mirip seorang Ibu yang mengemong anaknya padahal kami adalah adik-adiknya. 

Aku bukan lah anak yang cerdas kala itu. Aku hanyalah anak bisa di sekolah. Saat itu pembagian kertas ulangan. Nilaiku kurang bagus. Kertas nilai ulangan harus ditunjukkan kepada orang tua. 

"Bagaimana ini. Nilai tidak memuaskan" batinku

Mau tidak mau aku harus siap dengan segala resikonya. Sepulang sekolah (kisah sebenarnya dimulai) aku memberikan kertas ulangan itu pada ibuku. Tanpa pikir panjang ibuku memukulku, membentakku di depan saudara-saudaraku. Aku adalah laki-laki Dan pantang untuk menangis ,pikirku kala itu namun itu adalah hal yang salah. Laki-laki pun juga boleh menangis untuk meluapkan emosinya. 

"Ini apa ? Nilai ulangan kok jelek begini. Ngisin-ngisini wong tuo" bentak ibuku

Dan aku masiih diam. Ini sudah yang kesekian kalinya.