Perpisahan dan Pamitan

Annisa Mikaila
Karya Annisa Mikaila Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 April 2016
Perpisahan dan Pamitan

Kemarin dan hari ini tidak seperti biasanya. Entah kenapa ? Mungkin karena ada sesuatu yang tak bisa terungkap dan sesuatu merasa kehilangan padahal aku tidak pernah memiliki apapun itu. Hari ini, bapak dan ibu berangkat. Emm, sebenarnya bukan bapak dan ibu kandung tapi beliau-beliau itu yang sudah aku anggap sebagai orang tua keduaku selama aku merantau. Semalam aku mengemasi barang-barang yang akan bapak ibu bawa untuk berangkat tadi subuh. Aku sedikit berbeda karna tahun ini aku sudah tidak ada di kota rantauan. Aku pulang kampung. Semaalam aku tidur dengan ibu. Tak tenang, aku selalu terbangun. Aku rasanya ingin memeluk ibu saat beliau tidur tapi tanganku masih belum sanggup. Hingga bapak turun ke bawah membangunkan ibu, aku pun ikut terbangun. Padahal bapak memintaku untuk tidur lagi tapi aku tak bisa. Aku harus terjaga sampai bapak dan ibu dijemput mobil travel. Ternyata bapak pun tak bisa tidur semalaman. Beliau terjaga karna takut ketiduran. 

Setelah sholat subuh bapak membawa barang bawaan ke depan jalan karna rumah beliau berada di dalam gang. Aku pun mengikuti sambil membawa koper dan tas ibu. Biasanya aku mengantar didekat rumah saudara beliau tapi tadi subuh beliau menunggu di depan gang saja alhasil aku berbalik lagi. Bapak hanya tertawa melihat aku bolak balik. Di kantong bajuku ada kamera digital. Sengaja memang aku bawa untuk berfoto dengan bapak dan ibu. Selama di perantauan aku tak pernah berfoto dengan mereka. Kali ini ak harus bisa berfoto dengan mereka, batinku. Awalnya aku memfoto bapak ibu dan cucu mereka. Lalu aku meminta tolong anak menantunya, mbak tika untuk memfotoku dengan ibu. Kemudian mobil travel pun datang menghampiri kami. Aku tak tau, tetiba ak gemetar. Bapak dan ibu menyalami anak dan anak menantu, saudara mereka dan yang terakhir aku. Saat aku bersalaman dengan ibu rasanya aku ingin menangis. Ibu juga memelukku. Ya Allah.. Aku hanya menahannya. Tetap kutahan. Aku hanya diam. Setelah itu aku bersalaman dengan bapak. 

Bapak dan ibu naik ke mobil travel. Ya Allah terasa sekali perpisahan kali ini. Mungkin salam dan pelukan tadi berarti juga aku berpamitan dengan mereka karena saat aku pulang nanti mereka tidak ada disini. 

Terima kasih bapak dan ibu atas kebaikan kalian. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan diberikan keberkahan setiap waktu. Semoga kelak saya masih bisa mengunjungi bapak dan ibu.. Aamiin. Sampai ketemu kembali pak, bu. Semoga ikatan kekeluargaan kita tetap terjalin hingga akhir waktu :)

  • view 135