Lelaki Payah

Annisa Dwinda
Karya Annisa Dwinda Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Maret 2017
Lelaki Payah

“Jadi, kapan kamu ngelamar kerja lagi? Aku hitung, ya. Kamu sudah 23 kali gagal dalam wawancara. Kebanyakan karena kamu nggak pandai mengungkapkan kalau kamu itu bisa. Kamu itu sebenarnya keren, hanya kurang ditempa saja. Jadi laki-laki kok payah sih, kamu.”

Ini kali ke-721 ia menasehatiku perihal pekerjaan. Lebih tepatnya, ia sedang memarahi lelaki payah di hadapannya, yang tidak lain adalah aku. Ia seringkali tiba-tiba hadir di depanku. Bibir mungilnya senang menceritakan apa pun yang ia lihat dan rasakan tanpa aku persilakan terlebih dahulu. Ia adalah perempuan cerewet dan pandai bergaul. Sementara aku adalah laki-laki yang lebih memihak kepada tinta pena ketimbang suara. Aku pun bingung. Bisa-bisanya kami berteman.

“Tika, aku memang nggak pernah serius untuk cari kerja. Aku nggak suka kerja kantoran. Aku akan dipaksa untuk menuruti perintah bos. Untuk menuruti perintah Tuhan saja seringkali aku masih lalai. Masa aku juga harus tunduk pada bos.”

“Dasar aneh! Memangnya siapa yang beri kamu uang kalau bukan bos? Tuhanmu? Mana? Mana tangan Tuhan yang kamu sebut-sebut itu?

Ah, Tika. Ini yang aku benci darinya. Sedari dulu ia tidak pernah percaya dengan konsep ketuhanan. Lagi-lagi aku bingung. Bisa-bisanya kami berteman.

“Kalau kamu mau mendukungku dengan caramu, aku terima. Tapi jangan kamu remehkan Tuhan, jangan kau ajak aku untuk menuhankan manusia.”

Terlanjur kesal, kutinggalkan ia di teras kost bersama kopi yang belum sempat kuminum. Aku berjalan lima meter dari bangku panjang tempat kami berdua duduk, tapi suaranya yang mirip kaset rusak itu tak lagi kudengar. Ia mungkin terdiam sendiri. Entah sedang menahan kesal atau sedang berusaha memahami apa yang kumaksud.

Aku lalu berjalan menyusuri komplek. Ada pedagang soto yang pengunjungnya sangat ramai. Ada pegadang cilok dengan wajah kelelahan. Ada pedagang es cincau yang tampak dagangannya belum juga laku terjual sedari tadi. Ada empat anak SD sedang bermain sepeda dengan canda tawa khas anak-anak. Ada induk kucing dengan empat ekor anaknya di pinggir selokan. Dari semua keramaian ini, mengapa aku tetap merasa kosong dan sepi?

Senja mulai datang mengetuk pintu langit Jakarta. Aku kembali menuju kost dengan pikiran yang tak juga membaik. Tak kulihat perempuan cerewet berambut pirang itu di teras kost sana. Di bangku panjang itu hanya tersisa dua gelas kopi. Yang satu masih utuh. Yang satunya lagi setengah kosong. Keduanya sama-sama telah dingin. Keduanya sama-sama dilingkari pasukan semut.

Aku kembali termenung di lantai kamar sempit yang kubayar setiap bulan ini. Aku iseng mengecek ponsel. Ada pesan, rupanya. Dari Tika.

“Terima kasih. Aku berhenti mengganggu hidupmu. Semoga hari-harimu selalu menyenangkan. Love, Tika.”

Ah, Tika. Akhirnya ia menyerah setelah satu tahun kami bertukar cerita, meski yang sebenarnya terjadi adalah ia pencerita dan aku pendengar yang baik. Tidak apa. Ia selalu istimewa. Aku ingat kali pertama berkenalan dengannya. Tentu bukan aku yang memulai. Aku tak sengaja menatapnya dalam keramaian di sebuah acara sosial. Ia menangkapku. Kedua bola mataku yang terlanjur malu berlari ke arah yang lain. Bukannya memahami aku yang salah tingkah, ia malah tersenyum, mendekat, dan mengajakku berkenalan. Katanya, aku ini lucu. Harusnya aku yang menganggapnya lucu. Berani-beraninya ia mendekati lelaki yang tak sengaja menatapnya.

Aku ingin jujur. Aku menyukai matanya yang kecoklatan dan bersinar saat ia bercerita di hadapanku. Baru sebulan ini aku berani menatap kedua matanya. Baru sebulan ini pula aku menyadari bahwa ia satu-satunya orang, atau kalau boleh kusebut malaikat, yang selalu mendukungku di kala semua keluarga dan teman menjauh. Aku menyukai apa pun dari dirinya, meskipun kami berbeda. Aku monotheis, ia atheis. Aku pemalu, ia lebih banyak membuatku tersipu malu. Aku dan ia bagai langit dan laut. Asin dan manis. Hitam dan putih. Iya dan tidak.

Setelah berpikir panjang, mengetik, lalu dihapus, aku tinggalkan semua perasaan negatif pada diriku. Aku membalas pesan darinya.

“Tika, aku nggak mau melamar kerja lagi. Aku mau melamar kamu…”

  • view 123