Nilai di Sekolah Itu Penting Nggak Sih?

Annisa Dwinda
Karya Annisa Dwinda Kategori Renungan
dipublikasikan 27 Februari 2017
Nilai di Sekolah Itu Penting Nggak Sih?

Ya. Saya paling malas kalau mereka meminta saya untuk memberi nilai pada hasil pekerjaannya. Mbuh. Saya malas aja. Kalau sedang rajin, ya saya kasih aja nilai 100 plus gambar tiga bintang. Mau dia benar mengerjakan seluruh soal atau sebagian, saya tetap beri mereka nilai 100.

"Kamu mau nilainya bagus atau kamu mengerti materinya?" Iseng, saya bertanya.

"Ya nilai bagus lah!"

"Memang kalau nilainya jelek kenapa?"

"Nggak mau, maunya nilainya bagus."

"Kalau nilainya bagus, tapi nggak paham materinya gimana? Gimana nanti ngerjain soalnya kalau nggak paham?"

"Hehehe."

Nggak papa kalau mereka masih punya anggapan demikian. Nggak bisa dipungkiri juga kalau semasa SD saya adalah anak yang nilai oriented. Dapat nilai bagus, senang. Dapat ranking satu, senang. Dapat hadiah karena ranking di kelas, tambah senang lagi. Saya dan anak-anak yang pernah bersekolah dituntut untuk memiliki nilai yang baik di rapor. Ya padahal ada sebagian anak yang nilainya bagus, tapi ketika ditanya bagaimana pemahamannya terhadap materi di kelas, ya bingung. Entah lupa, atau memang tadinya belum paham tapi dipaksa untuk dapat nilai bagus. Pemaksaan nilai bagus itu memang sudah ada sejak saya sekolah dulu. Mulai dari usaha anak-anak yang menyontek, guru mengatrol nilai agar memenuhi KKM, bocoran jawaban UN, dan sebagainya. Semua tahu, semua mengalami. Dilematis juga sih sebenarnya.

Semakin dewasa, semakin banyak makan garam. Semakin saya memahami bahwa nilai di atas kertas bukan lah faktor utama pembentuk kesuksesan, apalagi dengan sistem rankingRanking di kelas,  belum tentu kuliah di universitas unggulan. Pun sama, nggak pernah ranking di kelas bukan berarti nggak bisa kuliah di UI atau IPB.  Bisa jadi seorang anak IPA justru lemah di pelajaran IPA, tetapi unggul di pelajaran bahasa atau seni. Masuk jurusan IPA karena tuntutan atau memang sebenarnya nilai-nilai pelajaran di luar IPA lah yang membantunya. Ya kalau sekarang mungkin anak SMA sudah penjurusan sejak awal ya, beda dengan zaman saya dulu.

Di perkuliahan pun sama. IPK tinggi nggak menjamin untuk dapat pekerjaan bagus. IPK biasa pun bukan penghalang untuk nggak lanjut kuliah S2. Di kehidupan yang sesungguhnya, softkill lebih penting daripada IPK. Ya bukan berarti harus santai-santai aja punya IPK dua koma atau bahkan satu koma. Ibaratnya, IPK itu kebutuhan sekunder. Ia tetap memiliki peran penting walau bukan jaminan. Ikut organisasi, kegiatan luar kampus, jadi relawan, itu sepertinya lebih membantu untuk mendapatkan pekerjaan.

Hehe. Ini pandangan subjektif, sebenarnya malah berunsur curhat sih. Saya pengin memberikan contoh-contoh nyata, daripada dibilang ngambang ngawang ngawang atau dibilang sedang denial. Saya takut dibaca teman-teman saya yang saya jadikan contoh. Kalau saya sendiri sudah pasti contoh utamanya :)

Ndak papa, Dik. Yang penting kalian semangat belajarnya. Yang akur sama teman-teman yang lain, biar kakak nggak harus teriak-teriak lagi mengalahkan suara kalian :)

  • view 93