Target yang Beterbangan

Target yang Beterbangan Target yang Beterbangan

Sepanjang tahun 2016 kemarin, saya seringkali melamun. Di dapur, di halte busway, di stasiun, bahkan di dalam bus. Kadang saya berlagak sok, menganggap melamunnya saya adalah kontemplasi. Dari semua lamunan, sebenarnya saya hanya sedang takut dengan masa depan. Saya takut dengan target-target yang dulu seenaknya saja diucap. Oleh karena itu, tahun 2017 ini, saya berusaha lebih realistis dalam menciptakan target, berusaha sepenuh tenaga untuk mewujudkannya satu-satu. Meski semangat tidak selalu benderang, saya coba semampunya. Allah menciptakan manusia dengan akal, dan dengan akal itu lah manusia berikhtiar.

Tahun ini, saya terlanjur berucap untuk menyelesaikan sisa target tahun kemarin (termasuk di dalamnya adalah tentang hubungan vertikal), membaca 36 buku, membuat 12 artwork, mempelajari pola asuh anak (meski saya belum menikah), dan menghilangkan rasa skeptis saya pada pernikahan. Saya tahu, 23 tidak lagi pantas disebut muda. Siapa pula yang ingin hidup sendiri tanpa pasangan, apalagi tanpa keturunan. Saya akan berjuang melawan rasa skeptis itu. 

Semoga...

Semua tidak beterbangan seperti yang lalu...

Annisa Dwinda

Target yang Beterbangan

Karya Annisa Dwinda Kategori Catatan Harian dipublikasikan 15 Februari 2017
Ringkasan
Ingat umur, ingat target.
Dilihat 20 Kali